Kyuhyun PoV
Lee Sungmin
Jujur aku tidak begitu mengenal dirinya. Aku tahu dia suka menjadi bahan ejekan satu sekolah kami. Perempuan dengan wajah bagian kiri rusak dan hanya bisa tertutupi oleh separuh rambutnya yang pendek. Ia tidak pernah dekat dengan siapapun. Hidupnya hanya berputar antara sekolah dan rumah. Sungguh aku memang merasa sedikit iba terhadapnya—tidak lebih
Tapi kau tahu?
Aku malah jatuh cinta padanya saat kami pertama kali berciuman
Di sanalah hidupku dan hidupnya mulai berubah perlahan lahan
*****
“Elo mau taruhan ngga??” tanya teman sekelasku sambil mengeluarkan beberapa lembar ribuan won di ikuti oleh 2 orang lain di antara kami
Aku menyeringitkan dahi—bingung, “kalian memangnya mau taruhan apa?” tanyaku sedikit tertarik lalu ikut merunduk dan mengeluarkan dompetku dari saku celana, “gw ikut deh”
Temanku itu menyeringai licik ketika melihatku memasang taruhan, “Karena lo datang belakangan berarti harus lo yang ngelakuinnya!!” katanya mengambil keputusan seenaknya saja.
“Tidak!! mana ada taruhan kayak gitu!” tolakku hendak mengambil uangku kembali tapi di tahan oleh seorang yang lain, “Eits!! Kalau lo mau ngelakuinnya Kyuhyun, gw sama temen temen yang lain bakal naikin taruhan kita jadi 30.000 won! Bersih! Gimana?? Berani ngga?” tantangnya
30.000 won?? siapa yang akan menolaknya!!
“Ok gw mau!!” kataku terang terangan, “Nah gw harus ngelakuin apa buat dapetin uang itu??” Bukannya aku sedang butuh uang atau apa—tapi rasanya menyenangkan kalau kau bisa mendapatkan uang jumlah besar dalam waktu singkat
Tapi taruhan sebesar itu pasti ada konskuensi yang harus aku jalani bukan? Aissh—jangan bilang aku harus mengempeskan ban mobil kepala sekolah atau mengecat wig hitam wali kelas menjadi biru
“Mudah kok” ucap temanku sambil bertukar pandangan jahil ke semua peserta taruhan, “Lo ngajak Sungmin—cewek cacat itu ke gudang belakang terus lo cium deh”
“HA??” Aku berteriak keras, “Apa sih lo semua! Ngga ah—masa taruhannya dia sih! ngga ada yang lain apa!” sanggahku sambil berdiri untuk kembali ke kursiku di depan meja guru
“Kyuhyun! Kalo lo ngga mau berarti lo cemen banget! Ngakunya cowok tenar satu sekolah, tapi menaklukan seorang Sungmin aja ngga bisa!” suara merendahkan mereka berhasil membuatku berpaling lalu menatap mereka satu persatu dengan sangar, “Tapi bukan cewek itu juga jadi taruhannya!!!” kataku masih keras kepala
Mencium Sungmin?? Ukhh—aku memang tidak membencinya, tapi jika harus memilih antara mengempeskan ban kepala sekolah atau mencium Sungmin, aku pasti dengan tegas memilih opsi pertama
“Ya udah kalo lo ngga mau berarti lo harus bayar kita 30.000 won juga” balas temanku enteng
“Itu juga ga mungkin!!!”
“Kenapa ngga mungkin? lo orang kaya Kyuhyun, duit segitu ngga ada artinya kan buat bokap lo! Udah kasih kita 30.000 won dan masalah selesai. Tapi..” seringaian lebar mereka kembali muncul sebelum menatapku dengan pandangan meremehkan, “Yah cukup tahu aja lo ternyata cowok lemah…..nyium seorang Sungmin aja ngga bisa, ya ga??” ujarnya memprovokasi teman teman yang lain
“Iya tuh!!! Bener!!” kata mereka saling bersahutan
Andai saja sebentar lagi bel masuk tidak berbunyi pasti satu persatu dari mereka akan kuhajar hingga babak belur!
“Mau kapan nyiumnya? Hari ini kan? Ok, nanti istirahat gw bakal ke kelasnya!!” desisku spontan
Tidak peduli bagaimanapun caranya—harga diriku di pertaruhkan di sini! Akan kubuat Sungmin datang dan menciumku nanti!
Wajah mereka berubah puas, “Nah gitu dong!! Ok! Kita tunggu pulang sekolah—dan inget! Kita bakal ngintip lo berdua supaya ngga ada kecurangan, hehehe…” jelas salah seorang temanku yang tadi memasang taruhan paling banyak
Aku mengangguk tegas walaupun dalam hati aku berteriak kencang. Apa aku tega membuat gadis itu menjadi bahan taruhan? Arghh, maafkan aku Tuhan…
Waktu akan berlalu begitu cepat kalau kau sedang bergelut mengenai suatu hal yang besar. Aku bahkan sampai perlu di tepuk oleh teman sebangkuku ketika bunyi bel istirahat terdengar begitu nyaring
“Elo ngga lupa kan mau ngapain?” godanya menyikut lenganku
Aku mengambil nafas panjang, “Iyaaa—gw kesana dulu” kataku langsung berdiri dan pergi keluar kelas. Menuju kelas Sungmin yang berada di sebelah kantor guru
Di sana. Dia duduk di pojok—seorang diri tanpa siapapun. Wajahnya merunduk kecewa sambil terus menatap bekal makannya yang belum tersentuh. Sejenak ia mengambil sumpit dan menikmati makannya pelan pelan
Aku memberanikan diri masuk ke dalam kemudian langsung duduk di sebelahnya, “Hei!” sapaku agak canggung
Ia melirik dari sudut wajahnya yang normal lalu kembali konsentrasi memakan bekalnya, “Ada apa?” tanyanya bernada malas
Ternyata gosip yang mengatakan Sungmin itu dingin bukan isapan jempol belaka. Pantas saja ia tidak punya teman hingga sekarang
Karena tidak sabar, aku berbalik berdiri di depannya seraya mengentakkan meja,“Ya!! Lee Sungmin!!! Aku berbicara denganmu!!” kataku sedikit membentak
Raut wajah Sungmin tidak berubah sedikitpun—masih datar dan dingin, “aku kan tadi sudah bilang ada apa Kyuhyun?”
Aku menyeringai tajam ke arahnya. Mungkin aku bisa pura pura mau berpacaran saja dengannya supaya nanti ia mau aku cium? Bukannya setiap pasangan sudah biasa berciuman. Pikirku seorang diri
“Bagaimana kita pacaran saja” tembakku secara langsung
Tapi melihat raut wajahnya yang tidak berubah, aku baru sadar kalau aku pasti nampak konyol barusan.
“Apa aku tidak salah dengar?” katanya tidak menunjukkan ketertarikan
Aku terhenyak sedikit sebelum mengubah raut wajahku yang mulai gugup, “Aku tidak bercanda…besok pulang sekolah—tunggu aku di taman belakang, kau mau kan?”
Ayolah bilang mau, itu akan mempermudahku!!
“Baiklah” jawab Sungmin enteng
Yes!!! Akhirnya!!
Begitu senangnya aku sampai sampai aku menggodanya dengan cara memberikan ciuman jarak jauh meski yah lagi lagi wajah datar Sungmin sama sekali tidak berubah. Terserah, itu urusannya. Yang terpenting aku pasti bisa memenangkan taruhan ini!!
___________________________
Aishh mulai darimana yah..
Aku makin salah tingkah di depan Sungmin sekarang. Bagaimana tidak? aku harus meminta ijin untuk menciumnya sementara hampir seluruh temanku berada di belakang kami dalam jarak yang aman—sedang tersenyum menyeringai ke arah kami berdua
“Ng…” Aku mengacak acak rambutku sekilas, “Aku menyukaimu Lee Sungmin” ucapku agak kaku dan tidak berbobot
Dan lagi lagi wajah itu tidak berubah. Tatapannya malah tampak jengkel mendengar ucapanku barusan
“Lalu?” balasnya dingin
Ugh!! Jangan membuatku juga membencimu Sungmin! Arghh! Lebih baik aku melakukannya dengan cepat ketimbang memberikan gombalan gombalan yang tidak mungkin akan mempan untuk wanita satu ini!
Dengan memberanikan diri aku berjalan mendekatinya, menyudutkannya merapat ke tembok sementara tatapanku mulai turun melihat bibirnya yang separuh cacat
Benar, luka Sungmin benar benar mengerikan jika di lihat dalam jarak sedekat ini. Pantas saja Sungmin menjadi ajang taruhan! Pasti teman temanku ingin melihat laki laki mana yang berani mencium bibir sehancur milik Sungmin ini
Seketika lamunanku buyar ketika mendengar helaan nafas panjang Sungmin. Mulutnya terbuka lebar seraya berkata, “Kau mau menciumku?” tanyanya tanpa berbasa basi
“EH??” kataku benar benar terkejut. Kedua mataku mengerjap tidak percaya ke arahnya
Kenapa dia bisa tahu?
“Aku—“
“Sudahlah—berapa won kau taruhan dengan temanmu” bisik Sungmin dari sudut bibirnya yang normal, “Jangan bohong aku tahu di dekat kita pasti temanmu sudah mengintip dari jauh kan? Aku tahu semuanya Kyuhyun” sambungnya masih bernada dingin
“Kau??” aku menunjuk ke arahnya—tidak percaya. Kedua tanganku semakin erat memenjarakannya—takut kalau teman temanku mendengar ucapan jujurnya, “Kau sudah tahu??”
Sungmin mengangguk pasti, “Kau bukan orang pertama yang menjadikanku bahan taruhan, sekarang beritahu aku—berapa jumlah semua taruhanmu??” katanya balik bertanya
Aku menatapnya tajam sambil menimbang nimbang sampai akhirnya aku memutuskan berbicara jujur pada Sungmin, “30.000 won”
“Nah Kyuhyun beri aku setengah dari uang taruhanmu dan aku akan membiarkanmu memenangkannya, bagaimana??” ia malah berbalik menawariku sekarang
Ada apa dengan wanita ini?!
“Kau—kau masih mau di jadikan bahan taruhan lalu malah berani meminta setengah bagian taruhan juga??” suaraku berubah marah tapi tetap kutahan. Jangan sampai teman temanku bisa mendengarnya. Bisa batal taruhan kami
Sungmin memandangku pedih, “Semua orang butuh uang Kyuhyun dan aku tidak sekaya dirimu. Sekarang kau bisa memutuskan, meninggalkanku di sini lalu kalah dari teman temanmu, atau…kita lakukan taruhanmu dan memberikan sebagian uangnya untukku” bisknya
Aku mendesah panjang. Sungmin benar benar sudah lihai dalam hal taruhan. Sejenak aku penasaran sudah berapa kali ia mengalami ini? apakah begitu sering sampai sampai ia tidak menamparku karena berani menjadikannya barang taruhan?
Melihat siluet teman temanku yang memberi isyarat agar mencium Sungmin. Aku semakin tidak punya pilihan lain. Kepalaku mengangguk menyerah—setuju dengan penawaran Sungmin
Sungmin tersenyum tipis. Ia meraih sebelah tanganku lalu meremasnya lembut, “Lakukanlah—cium aku” katanya pelan
“Ah iya…aku sampai lupa” racauku tidak jelas
Penuh rasa gugup aku menggerakan kepalaku perlahan lahan—mensejajarkannya dengan wajah Sungmin lalu menutup mataku. Aku takut pikiranku berubah melihat bibirnya yang cacat itu. Tidak peduli apakah Sungmin melihat sikap anehku ini
Aku menyentuhkan bibirku pada bibirnya. Pelan dan lembut.
Eh? Lembut?
Ini aneh—padahal bibirnya setengah hancur tapi kenapa terasa begitu lembut. Aku memberanikan diri untuk mengecupnya lagi, lagi dan lagi.
Benar saja, aku menikmati ciuman ini tanpa menyadari kalau dari tadi bibir Sungmin tidak bergerak sama sekali
Aishh jangan bilang aku menciumnya terlalu berlebihan
Aku langsung melepaskan ciuman kami lalu berpura pura menyeka bibir menggunakan punggung tanganku, “bibirmu benar benar buruk!” elakku sepenuhnya berbohong
Sungmin tersenyum saja menanggapi kritikan pedas dariku, “Baru tahu?” ejeknya, “10 menit—aku akan menunggumu di ujung jalan besar, berikan uangnya padaku kalau tidak aku akan membuatmu malu besok pagi”
Hei kenapa Sungmin malah berbalik mengancamku sekarang!!
Tanpa menunggu jawaban dariku, Sungmin cepat cepat memungut tasnya dari bawah lalu berjalan keluar meninggalkanku seorang diri
Tidak butuh waktu lama, seluruh teman teman sekelasku keluar dari persembunyian dengan perasaan kecewa, “Yah…gila juga lo berani nyium dia, gw sih lo kasih satu juta Won juga ogah!” seloroh temanku sambil memberikan tumpukan uang hasil taruhan kami semua
Aku hanya tersenyum canggung ke arahnya—apa kata mereka kalau sebenarnya aku tidak menyesal telah berciuman dengan Sungmin.
“Iya! Gokil lo!!! Keren keren!!!” sahut teman sebangkuku seraya mengacak acak rambutku dari dekat, “Eh kita makan makan yo!! Di rumah lo aja gimana Kyuhyun?” ajaknya yang mendapat sambutan meriah dari semua orang
“Iya iya!!” sahut mereka serempak
Aku memutar kedua bola mataku, “Boleh, tapi lo semua duluan aja kerumah—Adjumma kan udah kenal sama kalian semua, sana gih! Gw mau beli sesuatu dulu di ujung jalan” hampir saja aku lupa kalau Sungmin sudah menungguku di sana
“Ok! Tapi jangan lama lama!!”
“Iya!!” Tanpa menunggu mereka pergi duluan, aku setengah berlari keluar dari gerbang sekolah, membelok di seberang jalan tempat di mana Sungmin berdiri dengan wajah tertunduk.
Dari jauh dapat kulihat bagaimana perlakuan orang lain terhadapnya. Orang lalu lalang yang lewat tidak sekali menatap jijik ke arah Sungmin. Mereka bahkan tidak tahu malu untuk kembali menatap wajah Sungmin seolah olah kecacatannya adalah tontonan umum bagi setiap orang
Hatiku miris memandang Sungmin sekarang. Bagaimana ia bisa bertahan dengan semua ini sepanjang hidupnya….
“Sungmin!!!” teriakku sembari berlari mendekatinya
Sungmin mengangkat wajah dan menatapku penuh kelegaan
“Ini bagian uangmu” aku memberikan sebagian hasil taruhanku senilai 15.000 won ke dalam tangannya
Di pindahkannya uang itu ke sebelah tangan agar bisa di hitung ulang, “Ck, aku tidak mungkin menipumu Sungmin” ujarku agak sakit hati
Sungmin tertawa kecil, “aku tidak berkata kau akan menipuku—tapi aku tidak yakin saja kau rela memberikan uang sebanyak ini untukku….hmmm….pas!! terima kasih” ucap Sungmin setelah memasukkan uang itu ke dalam tasnya
“sama sama…” aku masih saja menatap bergantian orang orang lalu lalang yang melirik ingin tahu ke arah kami, “Kau tidak mau kuantar?” tawarku basa basi
“Tidak usah—rumahku sudah dekat” Ia merunduk formal sekali lagi, “aku duluan” katanya berbalik menjauh—meninggalkanku yang masih mematung di tempat
Hmm, sikap tertutup Sungmin malah membuatku nekat membuntutinya dari belakang. Keadaan jalan raya yang ramai membuat Sungmin tidak menaruh curiga atas apa yang sedang aku lakukan
Toh—aku hanya ingin tahu kenapa Sungmin begitu—
“DARIMANA SAJA KAMU SUNGMIN!!!”
Sebuah suara teriakan di depan rumah sederhana tidak jauh dari tempatku berdiri. Dapat kutangkap menangkap siluet tubuh Sungmin yang masih merundukkan kepalanya di sana, “Maaf..Umma…tadi aku ada perlu dengan teman—“
PLAKKK
Belum selesai Sungmin menyelesaikan ucapannya—wanita paruh baya di depannya langsung menampar wajah Sungmin keras. Aku sontak menahan nafas melihat kejadian itu
“Kau!! Umma capek capek bekerja seharian untukmu! Tapi kau malah pulang sore hari!!! Maumu apa Sungmin!!”
“Maaf…aku…” Sungmin tidak dapat berkata kata lagi. Ia hanya terus menunduk—entah menyembunyikan wajahnya yang kesakitan atau air matanya yang mulai mengalir
Ibu Sungmin mendengus sebal. Ia memutuskan masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun lagi sementara Sungmin masih sibuk menangis pelan, merunduk memeluk tubuhnya sendiri
Hampir saja aku menghampirinya agar bisa memeluk tubuh Sungmin yang terlihat rapuh
Tapi untungnya Sungmin segera menghapus air matanya kemudian memberanikan diri masuk ke dalam rumah
Apa yang telah aku lakukan? Gara gara perbuatanku Sungmin di tampar Ibunya sendiri! Dasar Kyuhyun bodoh!!!! Kau tega sekali!!! Aishh!!!
“Maaf…..maafkan aku Sungmin” bisikku percuma—tidak mungkin ia bisa mendengarku yang bersembunyi dari balik tembok penghalang sementara Sungmin sekarang pasti masih menangisi kejadian hari ini di dalam kamarnya
*****
Esoknya, seolah tidak pernah terjadi apa apa Sungmin berlalu saja di depanku yang sengaja menunggunya di depan sekolah. Ah mungkin ia tidak melihatku—bukankah Sungmin selalu merunduk setiap kali berjalan di antara siswa lain. Wajahnya jarang sekali terangkat. Kalaupun ia mendongak dengan tidak sengaja, lagi lagi Sungmin akan menunduk mendapati semua orang melirik jijik ke arahnya
Sungguh tidak adil dunia ini…
Tapi mungkin aku lebih pengecut dari Sungmin. Buktinya aku tidak berani mendekatinya ataupun menghampirinya di dalam kelas untuk meminta maaf masalah kemarin…
Arghh!! Ada apa denganku!!! Kenapa aku memusingkan yeoja yang kebetulan saja aku jadikan taruhan kemarin siang!! Ini pasti bukan apa apa Kyuhyun—ya kau hanya kasihan padanya saja!! Tidak lebih!
“Lihat tuh si buruk rupa lewat kemari—apa kau tidak ingin menciumnya lagi Kyuhyun~” ujar salah seorang temanku di mana kami sedang nongkrong di depan koridor sekolah. Sungmin sedang berjalan ke arah kami saat hendak kembali ke kelasnya.
Aku terus menatapnya—terdiam sampai ucapan kasar temanku kembali terucap, “Aigo~ apa rasa bibirnya Kyuhyun? Pasti rasa lumpur kan hahahaha” ejek mereka tanpa memelankan suara sama sekali. Aku bertaruh kalau Sungmin pasti mendengar itu.
Kedua mata Sungmin melirikku sekilas sebelum kembali tertunduk lalu berjalan lebih cepat tanpa menghiraukan dengusan tawa penuh sindiran dari teman temanku
Dia pasti terluka lagi. Wajahnya—tangisannya terus membayangiku hingga detik ini. Aku memang terlalu kejam padanya kemarin…..
“Kyuhyun? Woi Kyuhyun ! lo kenapa???” desak salah satu temanku sambil menepuk nepuk pipiku dari samping, “Jangan bilang lo masih kebayang ciuman sama Sungmin itu ya! Uhhh” Padahal Sungmin sudah tidak ada di depan kami tapi teman temanku tetap saja tidak berhenti mengejeknya.
“Hei! Elo bisa diam ngga!” gertakku menahan amarah sambil berdiri tegak di depan mereka, “Bisa tidak kalian berhenti menghina Sungmin? Dia juga punya hati! Apa kalian kira ucapan kalian itu tidak menyebalkan? Ha!” semburku tepat di wajah mereka tanpa ampun
Rasa rasanya tidak cukup hanya mengatakannya saja—tanganku tidak sabar melayang, hendak memukul mereka ketika mendengar dengusan tawa yang mulai berderai di sekitar kami, “Huahahahaha, Kyuhyun…..Kyuhyun……jangan bilang kau—hahahahaha” mereka terus saja tertawa sambil menunjuk ke arahku seolah olah aku mengatakan hal yang salah
“Memangnya ada apa denganku!!” kataku kasar—masih tidak mengerti
“Kau suka ya dengan Sungmin? Sampai membelanya seperti itu?? Huahahahhaha”
Wajahku berubah drastis. Aku menilik wajah tawa mereka sambil mengingat ingat ucapanku barusan. Apa aku salah membelanya? Kenapa mereka malah menuduhku langsung menyukai Sungmin?
Aishh—memang bibirnya tidak begitu buruk dan wajahnya sebenarnya juga manis kalau saja luka itu tidak ada. Dan matanya indah—hitam lekat seperti rambutnya yang pendek. Aku malah merasa tidak ada yang salah pada penampilannya seperti itu
Sungmin normal, ia sama seperti semua perempuan yang pernah aku kenal…
“Woi! Udah ngelamun Sungminnya!!!” salah satu temanku mengguncang guncangkan tubuhku sebelum menyeringai lebar bersama yang lain.
Tidak usah pakai telepati pun aku tahu mereka semua memikirkan hal yang sama, “Gw—“
“Kau menyukai Sungmin!!” seru mereka dengan kompak, “Jangan mengelak Kyuhyun! Lo kira kita bodoh?”
Aku makin gugup menghadapi sikap terus terang mereka, “Gw ngga..maksudnya..”
“Hmm…gw ga tahu sedasyat itu efek ciuman dia—jangan bilang kalo kemarin gw yang jadi ajang taruhan, gw lagi yang bakal jatuh cinta sama dia” terawang teman sebangku tanpa bermaksud apapun. Ia hanya senang menggodaku yang termangu diam saja—tidak tahu mau mengatakan apa lagi
Rasanya dalam hatiku—aku membenarkan perkataan mereka walaupun di selimuti rasa ragu
Apa aku begitu mudah jatuh cinta kepada wanita dingin seperti Sungmin?
“Hmm….gw punya ide!!!” celetuk teman sebangku seraya mengumpulkan gerombolan kami agar mendekat terutama diriku yang masih berdiam diri di depan mereka
“Gimana kalau ngadain taruhan lagi? dan kali ini korbannya masih sama, yaitu Sungmin!” usulnya dengan wajah penuh tipu muslihat
“Ngga!!” tolakku langsung menepis tangannya dari pundakku, “Ngga boleh! elo! Dan elo! Ngga boleh Jadiin dia bahan taruhan lagi, pokoknya gw ngga setuju!!!”
Mereka menatapku tidak percaya, “Lo segitunya suka sama Sungmin?”
“Masa bodoh lo mau bilang apa! Yang pasti, gw ngga akan biarin Sungmin di ganggu kalian semua!!”
“Tapi gw belum selesai bicara Kyuhyun” temanku itu memutar kedua bola matanya melihat sikap aroganku, “Makanya sini dulu!!” ia kembali menarikku dan melanjutkkan pembicaraan tidak penting ini
“Gw berani taruhan gede kalau elo, Kyuhyun!” unjukknya menggunakan sebelah tangannya yang bebas sebelum berbalik ke arah yang lain, “Ngga akan bisa bikin Sungmin jatuh cinta—siapapun tahu dia ngga tuh orangnya curigaan sama setiap murid. Meski lo tampan bukan berarti dia lebih gampang di dapetin!”
Semangatku sedikit pudar mendengar kebenaran ucapannya, “terus…apa hubungannya sama taruhan ini??” tanyaku masih tidak mengerti
“Nah…kalau lo berhasil buat dia ngaku dia jatuh cinta sama lo selama 1 minggu. Gw berani bertaruh…” di keluarkannya dompet dari balik saku celana kemudian mengeluarkan semua uang di dalamnya tanpa bersisa, “Nih….gw akan ngasih lo 200.000 won! gimana? Berani ngga?”
“Ah~gw juga ikutan!”
“Gw juga!!!”
Ke enam temanku mengeluarkan uang cadangan mereka dari dalam dompet. Aku saja sampai menganga di buatnya. Setelah selesai mengumpulkan semua uang, mereka berpaling menatapku penuh seringai tajam, “500.000 Won Kyuhyun! Kalau lo bisa dapetin hatinya Sungmin!! Gimana? Tergiur ngga??” tantangnya mengusik emosi kelaki lakianku
“Gw….”
Mendapatkan hati Sungmin? Apa tidak salah? Mereka tidak lihat kalau sekarang Sungmin yang berhasil mengambil hatiku, bukan sebaliknya
Rasa pesimisku semakin menjadi jadi ketika mengingat kejadian kemarin. Kejadian di mana aku mencium Sungmin. Pada saat itu saja Sungmin tidak membalas ciumanku—ia terlalu dingin untuk ukuran seorang perempuan sehingga aku tidak tahu harus bagaimana bersikap menghadapinya
“Ayolah jangan bilang gini aja lo nyerah!!”
“Tapi—“
“Hei Kyuhyun! Sini gw kasih tahu ke lo ya!” teman akrabku merangkul pundakku sembari menepuk nepuk pelan, “Ini sebenarnya bentuk dukungan kita buat lo biar bisa mendapatkan tuh cewek buruk rup—iya iya! gw ngga akan menghinanya lagi. Tapi lo mau kan menang taruhan lagi? hadiahnya jadi dobel tuh!”
“Dobel?” Aku mulai memikirkan sesuatu yang lain, “gimana kalo lo semua bikin jadi triple??”
“Maksudnya??” Aku diam sejenak untuk menikmati wajah bingung teman temanku, “Kalo gw bisa dapetin Sungmin dalam waktu seminggu—kalian bakal ngasih gw duit 500.000 won sekaligus kalian harus berjanji tidak akan menghinanya lagi dan menerimanya jadi pacar gw!! Gimana??” tawarku
“HA!” teriak mereka terkejut
Andai aku bawa kamera milikku sekarang, aku pasti mengabadikan wajah melongo bodoh mereka yang serempak tanpa di sadari satu sama lain
“Elo ngga bercanda kan Kyuhyun??” tanya mereka amat kompak, “mau jadiin dia pacar?”
Aku mengangguk penuh semangat, “gimana? Berani ngga?”
Setelah saling melempar pandangan muram. Akhirnya semua temanku menganggukkan kepala—tanda setuju
“Yes!!! Tunggu aja kabar baik dari gw!!!” Segera aku berlari mengejar Sungmin dengan perasaan menggebu gebu. Kali ini aku harus berjuang seorang diri untuk memenangkan taruhan dari teman temanku
Lihat saja…aku pasti bisa mendapatkannya….
________________________________________________
Dan seperti dugaanku. Sungmin menyetujui ‘taruhanku’ yang kedua meski yah ia agak tidak setuju dengan jadwal pertemuan kami sepulang sekolah yang akan berlangsung seminggu penuh. Ayolah Sungmin, kalau kita tidak berduaan bagaimana bisa aku membuatmu jatuh cinta terhadapku?
Lebih baik mengambil resiko besar sekalian. Sudah kepalang basah aku menyukai putrinya, bukan hal yang besar bukan kalau aku bermaksud menemui Ibunya Sungmin secara langsung? Toh ini akan semakin membantuku kalau aku bisa berterus kepadanya
“Hati Hati nak Kyuhyun, maaf sudah repot mengantarkan Sungmin ke rumah” ucapnya halus—berbeda sekali dengan suara teriakan yang pernah aku dengar waktu itu
“Adjumma….aku boleh mengatakan sesuatu? Itupun jika anda tidak keberatan?” tanyaku sopan. Nampaknya tidak apa apa kalau aku menceritakan semuanya pada Ibu Sungmin—saat kami berdua saja di depan gerbang rumahnya
“Apa?” katanya bingung
Aku mengambil nafas panjang sebelum berbicara, “Aku serius mengenai putri anda. Aku tidak main main—aku sungguh sungguh mencintainya” tuturku tegas
Urat saraf di wajah Ibu Sungmin menegang. Gigi saling mengertak satu sama lain sambil terus menatapku lurus, “Kau….aku tahu kau menyukainya, tapi…..apa kau juga mencintainya???” ulangnya ragu ragu
“Ya—aku mencintainya Adjumma, walaupun Sungmin belum tentu memiliki perasaan sama padaku, tapi aku tidak menyerah” aku cepat cepat berusaha meyakinkan Ibu Sungmin kembali, “Aku akan mendapatkannya, jadi ijinkanlah aku memulangkannya terlambat…mulai besok”
“Tapi—“ Ia menelan ludah dengan susah payah, “Wajah Sungmin bahkan belum di operasi?? Apa kau benar benar yakin!” ia mengulangi kalimat yang sama, “Tidak mempermainkan putriku?? Mencintainya dalam keadaan sep—Aishhh…” Sejenak, Ibu Sungmin terdiam. Meredupkan sinar di matanya. Ada berbagai emosi yang ada di dalam dirinya sekarang, “Jujur Adjumma mengaku kalau selama ini Adjumma tidak memperlakukan Sungmin dengan baik—luka di wajahnya selalu membuatku merasa tidak berdaya, malu bercampur kesal. Andai saja, aku selalu berandai andai….andai saja Sungmin tidak ikut pergi bersama suamiku, andai saja aku ikut bersama mereka….apa yang akan terjadi…..Putriku tidak perlu menderita sampai seperti ini…..aku….”
Secepat mungkin aku merengkuh tubuh Ibu Sungmin lalu memeluknya erat erat. Sikap rapuhnya yang nampak dingin dari luar ternyata menurun seratus persen pada Sungmin, “Aku yakin Sungmin tidak membenci anda…ia menyayangi anda…aku tahu itu”
Adjumma mengangguk dalam pelukanku. Sekilas ia memeluk tubuhku lebih erat sebelum melepaskannya. Tatapannya berubah melembut ketika berhadapan denganku, “Aku percaya padamu….jangan kecewakan Sungmin, semenjak ia mendapatkan luka itu baru kali ini Sungmin membawa teman lagi ke rumah, jadi…”
“Aku janji” kataku dengan tegas dan yakin, “Ia akan baik baik saja bersamaku”
*****
Ini hari pertama aku dan Sungmin berpura pura pacaran. Sungguh di luar dugaan aku begitu menikmati ini. Memandang wajahnya dari dekat—walau tidak melakukan apapun yang berarti. Ia hanya tertunduk sebentar sementara aku berbaring di rerumputan, pura pura tertidur sambil menunggunya berbicara duluan
Sikap kaku kami berubah saat Sungmin mulai menceritakan masalah dia dan Ibunya
Setiap perubahan tingkah laku Ummanya sejak aku datang ke rumahnya sempat membuat Sungmin bingung tapi cepat cepat aku mengutarakan pendapatku tanpa memberitahunya secara langsung pembicaraan rahasia antara aku dan Ibunya malam kemarin
“Mungkin saja tapi aku tidak enak jika perjanjian kita sudah berakhir lalu Umma…” Sungmin tidak menyelesaikan kalimatnya.
“Bilang saja aku sibuk kegiatan tambahan, nanti aku akan sekali kali main kerumahmu agar beliau tidak curiga” kataku memberi solusi. Lagipula aku tidak yakin sekalipun perjanjian ini berakhir aku pasti akan tetap menemuinya dan tidak berhenti sampai Sungmin benar benar menyukaiku. Tidak peduli sekalipun aku harus kehilangan 500.000 won
Setelah beberapa lama mengobrol ringan. Aku memutuskan memulangkan Sungmin ke rumahnya, “Terima kasih” kata Sungmin ringan sambil melayangkan senyum manis untukku
EH? Apa aku tidak salah lihat?!
Ini baru hari pertama dan aku sudah berhasil membuatnya tersenyum.
Dadaku bergemuruh hebat detik ini juga. Susah payah aku membalas senyumnya agar tidak membocorkan rahasiaku. Mungkin bukan mustahil membuat Sungmin jatuh cinta padaku sampai 6 hari ke depan
“Ingat—masih ada 6 hari lagi” ucapku mengandung arti lain
Tapi Sungmin tidak curiga sama sekali. Ia hanya mengangguk pelan, membungkuk hormat padaku lalu masuk ke dalam rumah
“Lihat saja Sungmin…..ya lihat saja…” gumamku berjalan menjauh dengan jutaan rencana dan perasaan berbeda yang tidak kutahu itu
Tapi satu hal yang pasti…
Aku benar benar bahagia menghabiskan waktu bersamanya……
______________________________________________
“Kenapa kau baca buku kedokteran, memangnya kau bercita cita menjadi dokter” tanya Sungmin saat aku sedang berkonsentrasi membaca sebuah buku tebal
Aku mengangkat wajah dari balik buku itu, “Hmm, aku mulai tertarik dengan dunia kedokteran—habis buku ini lebih menarik ketimbang game PS” kataku asal
Padahal jujur saja, hampir pingsan aku membaca satu halamannya. Banyak istilah istilah aneh yang tidak kumengerti bercampur juga dengan rumusan kimia yang jauh dari pelajaran anak SMA. Tapi demi Sungmin, aku rela membaca buku ini.
Ternyata mencintai Sungmin membuatku belajar satu hal lagi
Aku jadi punya cita cita yang pasti.
Dulu aku pernah bercanda dengan bilang kepada kedua orangtuaku kalau aku mau menjadi ahli game sedunia. Tapi nampaknya mimpiku itu harus kandas di tengah jalan karena Appa yang terlanjur marah—menganggap omonganku serius, lalu menyita seluruh game PSPku dari kamar.
Tapi sekarang tidak.
Andai orangtuaku bertanya lagi. Dengan yakin akan kujawab aku ingin menjadi dokter. Supaya yeoja seperti Sungmin tidak perlu waktu lama untuk menjalani sebuah operasi sederhana.
Jika sampai kami lulus nanti Adjumma belum mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi plastik. Aku akan belajar lebih keras dari siapapun agar bisa menjadi dokter dalam waktu singkat dan dengan begitu aku sendirilah yang akan mengoperasi luka di wajah Sungmin
Yah mungkin pemikiranku terlalu sederhana, tapi aku benar benar ingin melindunginya. Aku tidak peduli luka itu tetap ada ataupun menghilang. Ia tetap Sungmin yang kukenal—bukan orang lain….
“Aku heran….kenapa kau mau saja sih di ajak taruhan? Apa ini semua hanya gara gara uang saja?” tanyaku setelah selesai membaca 10 lembar. Sudahlah aku menyerah! Besok saja akan kubaca ulang sampai habis. Lebih baik sekarang aku menghabiskan waktu 30 menitku yang berharga untuk berbicara dengan Sungmin
Sungmin berusaha mengelak, “Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu kan” katanya sangsi
“Bagaimana kalau harus?” geramku setengah mengancam—aku mulai tidak suka dengan sikap misterius Sungmin yang menyembunyikan masalahnya seorang diri
“Kau memang mau tahu urusan orang ya” ejekankannya tidak aku hiraukan. Aku tetap tidak berhenti menatap wajahnya sampai ia menjawab pertanyaan dariku
“Ah baiklah…aku memang sengaja meminta uang dari hasil taruhan anak anak karena aku sedang menabung operasi wajahku” kata Sungmin sambil menepuk pipi kirinya yang cacat
Aku tersentak, “Bukankah Adjumma juga…”
“Iya aku tahu!” potongnya cepat cepat, “tapi aku tidak mau merepotkan Umma lagi….jadi aku juga menabung sejak lama, kalau wajah ini tidak ada lagi mungkin saja tidak ada orang yang mencemoohku, aku tidak akan kesulitan mendapatkan kerja….dan Umma tidak usah malu punya anak cacat sepertiku….” Mata Sungmin menerawang kejauhan, “banyak kepahitan yang harus kujalani selama luka ini masih ada di wajahku”
Aku berdiam diri agak lama—mencerna setiap perkataan Sungmin, “tapi…lukamu tidak seburuk itu kok, tidak semengerikan jika di lihat sedekat ini”
Secara spontan aku mengulurkan tanganku—menyentuh seluruh luka kasarnya. Begitu pelan pelan dan hati hati. Takut kalau sentuhanku membuatnya kesakitan
“benar benar tidak mengerikan…sungguh…” ulangku lagi dengan sebelah tangan masih terus mengelus wajahnya—lembut.
Sekilas kedua matanya yang memandang dingin ke arahku mulai mencair. Ia tersentuh melihat sikapku yang di luar dugaan meski yah…akhirnya Sungmin memalingkan wajahnya seolah olah menolak sentuhanku
“Ah lebih baik kita pulang—mereka pasti sudah tidak mengawasi kita lagi” katanya mengalihkan pembicaraan
Aku mencoba kembali bersikap biasa saja, “Iya…mereka sudah pulang”
“Hahahaha…teman temanmu aneh sekali, kalau aku jadi mereka, aku pasti tidak mau di suruh mengawasimu meski selama setengah jam sekalipun”
DEG
“Entahlah, mereka memang suka aneh aneh” Lagi lagi aku berbohong. Tidak ada siapapun yang mengintip kami berdua. Teman temanku hanya bertaruh sampai seminggu—bukannya menguntit kami sehabis pulang sekolah. Ini hanya rencana kecilku supaya bisa mendekati Sungmin tanpa di curigai olehnya
Arghh! Jangan membicarakan mereka lagi! aku tidak tahan membohongi Sungmin lebih dari ini. Tidak boleh! Lebih baik aku menanyakan sesuatu yang lain kepadanya
“Kau belum bercerita tentang teman temanmu?” tanyaku sekedar basa basi
Wajahnya meredup mendengar ucapanku. Ah—jangan bilang aku salah lagi?
“Aku tidak punya teman Kyuhyun” katanya dengan enggan
Ya Tuhan, pasti aku sudah menyinggung topik yang sensitif untuknya, “Berarti aku temanmu satu satunya” ujarku ringan untuk mencairkan suasana
Berhasil! Sungmin tertawa lebar sambil menatapku lebih dalam, “Kyuhyun kau bukan temanku—kita hanya saling mencari keuntungan, simbiosis mutualisme…ingat pelajaran biologi?” katanya memakai perumpamaan, “dan teman tidak seperti itu” katanya tercekat
Apa? Simbiosis mutualisme? Apa itu yang Sungmin lihat dari perubahan sikapku selama ini?
Spontan aku merunduk ke bawah—tidak sabar ingin pergi dari situ sebelum ia mengatakan sebuah penolakan lagi. Aku bisa tidak tahan untuk mengungkapkan semua perasaanku di depan Sungmin
“Oh~ baguslah kau bisa mengingat semuanya dengan jelas” suaraku agak terdengar kaku. Hmm, aku benar benar harus pergi sekarang juga, “sampai besok Sungmin! Ingat masih ada 5 hari lagi!!” teriakku mulai menjauh
“Iya!!!” balasnya kencang
Aku tidak akan menyerah. Lihat saja Sungmin. Aku akan membuatmu menyukaiku…..yah…aku pasti bisa!
*****
Seperti biasa kami bertemu dan berbicara di taman belakang sekolah. Aku yang sedang tidak ada kerjaan hanya memandangi Sungmin karena ia sedang sibuk mengeluarkan dua kotak bekal dari dalam tasnya. Aishh—pantas saja tadi siang aku melihatnya jajan di kantin, ternyata ia sengaja tidak memakan bekalnya karena ingin memakannya berdua denganku
Hmm…..senyum lebar tersungging rapi di bibirku. Sungmin mulai menunjukkan perhatiannya padaku
“Ini apa?”
“Ng ini bekal Umma untukmu—dia tahu kita sering bertemu setiap pulang sekolah jadi ia memberikan ini untukmu” kata Sungmin sambil menyerahkan satu kotak makan kepadaku
Aku bersemangat membuka bekal darinya dengan terburu buru. Namun saat melihat isi bekal itu aku terkejut. Tidak salah? Ini kan….cepat cepat aku melirik isi bekal Sungmin yang hampir ia makan kalau saja aku tidak buru buru menariknya, “Sepertinya bekal makan kita tertukar Sungmin, ini pasti untukku” jelasku
Tangan Sungmin menahannya—ia juga tidak mau kalah, “Tidak! Umma memang memberikanmu itu!! Ini punyaku Kyuhyun!!” Suaranya berubah mengerang karena kewalahan menahan tanganku yang menarik dengan sekuat tenaga
“Tidak!” tolakku, “Jelas jelas isi bekal ini untukmu, lihat telur asin, nasi lembek dan sayur cincang!! Sementara isi bekalmu tempura dan ayam goreng? Aishh berikan tidak!!”
“Tapi—“
“Tidak ada tapi tapian!! Ini untukku!” kataku bersikeras sambil kembali menarik bekal itu dari tangan Sungmin.
Berhasil! Hehehe, bekal enak ini menjadi miliku juga!
“Aku tidak suka telur asin Kyuhyun! Umma tahu itu! Tapi kenapa ia masih menaruhnya di bekalku!!” protesnya masih mengaduk aduk makanannya tanpa minat. Iya juga sih, makanan milik Sungmin seperti makanan anak bayi—lembut dan encer. Tapi mau bagaimana lagi? hanya makanan itu yang tidak perlu kunyahan kuat sehingga Sungmin tidak perlu bersusah payah memaksakan sebagian wajahnya sudah hampir mati rasa
“Karena..” aku berbicara di sela sela mulutku yang penuh makanan, “Telur asin mudah di cerna untuk bibirmu yang setengah kaku, lihat saja bekal itu—semua makanan lembut dan tidak perlu kerja otot bukan? Umma mu sangat perhatian mengenai hal itu! Kau saja yang tidak tahu” kataku memberi penjelasan
Berangsur angsur Sungmin mulai bisa menerima bekalnya dan memakannya pelan pelan walaupun tatapannya tetap tidak berpaling dari bekal di tanganku, “Tapi aku sudah lama tidak makan enak, aku mau mencobanya juga” unjuknya ke arah ayam goreng milikku
“Kau mau?”
Sungmin mengangguk cepat
“Sebentar” Aku memilih bagian daging ayam yang lunak lalu memisahkan serat seratnya hingga bentuk terkecil agar Sungmin tetap bisa memakannya. Setelah selesai aku memandang wajah penuh harapnya dari dekat.
Jangan melihatku seperti itu Sungmin, aku bisa menciummu lagi. Pikirku mencoba berkonsentrasi kembali dengan ayam ia di mintanya
“Buka mulutmu” perintahku
Ia tidak menolak atau menyeringit heran mendengar itu. Sungmin malah bersemangat membuka mulutnya kemudian aku menyuapinya hati hati.
“Enak kan?”
“Enak!” jawabnya senang, “Sudah lama aku tidak makan enak hehehe”
Setelah mendapatkan keinginannya, Sungmin mau menghabiskan seluruh bekalnya bersama sama aku yang sibuk makan makanan enak ini. Hmm, mungkin lain kali aku harus membawakan sesuatu untuk Adjumma waktu mengantar Sungmin pulang.
Sudah lama aku tidak memakan bekal seenak buatan Ibu Sungmin. Andai saja, suatu saat Sungmin mau membuatkan bekal khusus untukku. Mungkin saat itu pula spontan aku akan mengajaknya menikah, hahahaha
*****
Semakin lama aku mengenal Sungmin. Aku mengerti satu hal
Aku benar benar tidak salah dengan siapa aku jatuh cinta. Dia memang pantas untuk di cintai.
Senyumnya, semangatnya, keterusterangannya membuatku paham akan kepribadian seorang Sungmin
Walau akan ada selalu akhir dari segala yang telah kau mulai
Begitu pula dengan kami berdua
Dan di sinilah aku dan Sungmin berada. Di tengah tengah taman dekat rumahnya. Bertemu untuk menyudahi segalanya….
“Tidak terasa ya sudah seminggu kita bertaruh” kataku kaku. Jujur bahkan aku sendiri berharap tidak berkata begitu. Aku masih mau bersamanya, sekarang, nanti atau kalau bisa untuk selamanya….tapi kenyataan selalu berbanding terbalik dengan segala keinginanmu bukan?
“Aku benar benar berterima kasih karena kau mau melakukannya denganku—meski ya kau menginginkan uangnya, tapi aku tetap mengucapkan terima kasih” tambahku lagi—bingung mau mengatakan apa
“Iya…sama sama” hanya itu ucapan dari Sungmin. Tidak ada yang lain.
Apa dia benar tidak merasakan apa apa terhadapku? Apa selama ini senyum tulusnya hanya bagian dari kepura puraan juga??
Kumohon beritahu aku….beritahu aku kalau kau menyukaiku atau tidak….
Berikan saja satu alasanku agar bisa tetap berdiri di depanmu dan menghabiskan waktu kita bersama sama…
“Ng…Sungmin” bisikku mendekatinya di bangku taman lalu berkata pelan, “Apa kau tidak mau mengatakan sesuatu kepadaku?”
Ia menatapku sekilas, tertunduk lagi lalu menggelengkan kepalanya
Hanya itu? Tidak ada yang lain? Tidak ada kata kata perpisahan atau apa?
Aishh—aku harus menahan kedua tanganku, mencoba tidak menghujaninya dengan serangkaian pertanyaan yang dari dulu mengusikku.
Biarkan….mungkin sekarang saatnya aku rela melepasnya. Tapi kenapa begitu sulit. Bahkan hingga detik ini, aku masih berani berharap jika ada perasaan lain dalam topeng dingin Sungmin selama bersamaku
Tapi, menilik sikap diamnya dan acuhnya. Harapanku kembali runtuh seketika
“Hmm, baiklah—kalau kau tidak mau mengatakan sesuatu, biar aku yang mengatakannya” ucapku memecahkan keheningan. Kuubah posisi dudukku hingga mendekatinya lebih lagi, “Bolehkah aku menciummu untuk terakhir kali?” kataku nekat
Bukan aku mencuri kesempatan atau apa. Tapi aku hanya ingin….menyentuhnya…..memastikan bahwa perasaannya sama sepertiku atau tidak….biarkan aku mengetahuinya sendiri Sungmin..
“AH?” Wajahnya berubah terkejut, “Memangnya itu bagian dari taruhanmu juga?” ulangnya masih terperangah
TARUHAN??? Kedua mataku memincing tajam ke arahnya. Apa aku seburuk itu dimatamu? Apa kau kira tidak ada pria yang mau menciummu walaupun dalam keadaan wajahmu yang setengah cacat??. Gemuruhku dalam hati
Jujur aku terluka mendengar ucapan lugas Sungmin.
Nampaknya memang benar kalau ia tidak memiliki perasaan yang sama padaku.
Hanya aku—pihak yang selalu berusaha menyenangkan Sungmin. Bukan sebaliknya. Apa Sungmin tidak merasa kalau aku begitu mencintainya—terlalu mencintainya sehingga rela menghabiskan waktu bersama sama seminggu ini? menatap wajahnya tanpa rasa jijik—seperti awal aku mengenalnya? Atau sampai harus berbohong besar kepadanya mengenai taruhan kami?
Apa sikap bodohku belum menunjukkan apa apa padamu?
Apa nama perasaan ini Sungmin kalau bukan cinta…..
Ya, Aku mencintaimu—sungguh sungguh mencintaimu
Setengah mati aku mencoba tersenyum di depannya seperti biasa walaupun dengan terpaksa, “Iya—maaf baru memberitahumu hari ini. Aku bilang kalau aku akan menciummu di hari terakhir sebagai kado perpisahan” tambahku lagi, “bolehkan?”
“Tidak….” Sungmin tiba tiba menepis kedua tanganku yang mulai merengkuh wajahnya, “Kau tidak boleh menciumku Kyuhyun, jangan….” Suaranya terdengar memelas dan begitu memohon
Bahkan menciumnya pun aku tidak boleh?
Penolakan demi penolakan—itulah yang kudapatkan darinya
Aku mencoba bersikeras—mengenyampingkan sikap jantanku. Mungkin sekarang giliranku untuk berlaku egois pada Sungmin
“Kenapa?” tanyaku datar
“Tidak ada apa apa…hanya saja jangan….” Bisiknya kembali memohon
Aishh! Tidak peduli!
Sekarang sikapku berubah kasar. Aku tetap menangkupkan kedua tangan pada wajahnya agar lebih mendekat sambil kedua mataku meredup lalu mencium bibirnya lembut. Sama seperti waktu pertama kali kami berciuman
Tidak peduli ia membalasku atau tidak. Tidak peduli kalau ia membenciku nanti. Aku hanya ingin memasukkan segalanya dalam ciumanku, perasaan bahwa aku mencintainya—benar benar mencintainya….
Spontan sebelah tanganku melepas bagian wajahnya yang rusak sebelum berpindah ke punggungnya—memaksa Sungmin agar tidak bisa melepaskan ciuman kami.
Dan keajaiban itu terjadi….
Pelan pelan bibir Sungmin bergerak membalas ciumanku walau terkesan lemah dan ragu ragu. Perasaanku kembali meledak. Jutaan keping kembang api seolah olah bertebrangan mengelilingi kepala dan pikiranku. Tubuhku menghangat—penuh rasa bahagia. Tanpa berlebihan aku terus membalas ciumannya dengan lembut, mencengkram pundaknya agar bergerak mendekat. Bibirku sedang mendekati ujung mulutnya yang terkoyak akibat luka cacat itu saat tiba tiba saja aku mengecap rasa asin yang tidak asing
Aku langsung tersentak menjauh—tidak sengaja melepaskan ciuman kami
Benar dugaanku, Sungmin menangis. Air matanyalah yang tadi kuseka tanpa sadar
“Kau menangis..” Aku sungguh terkejut—apakah tindakanku tadi terlalu berlebihan sehingga Sungmin menangis seperti ini?
Bibirnya masih tertutup rapat. Tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Sungmin hanya sibuk menghapus air matanya sambil mengatakan sesuatu kepadaku, “Ambil saja uang itu Kyuhyun—aku tidak membutuhkannya lagi”
Sungmin buru buru beranjak dari tempat duduk kami lalu pergi menjauh kalau saja tanganku tidak langsung menahannya dari belakang. Tidak, kau belum pergi sebelum kita tuntaskan semuanya Sungmin…
“Kau kenapa? Bukankah itu sudah perjanjian kita? Besok akan kuberikan uangnya padamu” kataku keras kepala. Aku terus menerus mengucapkan apa saja agar bisa menahannya lebih lama di sini
Aku belum mau kehilangannya
“Aku tidak mau!!!” teriaknya sambil berbalik menghadapku. Jejak air matanya masih membasahi wajah cacatnya yang membengkak sebagian, “Sudah kubilang aku tidak mau!!! ambil saja uang itu untukmu!!!”
“Kenapa kau tidak mau?? Ha? Bukankah kau memang menginginkan uang!” balasku agak kasar. Apalagi kalau bukan itu? Uang adalah alasan pasti kenapa dia mau membalas ciumanku barusan. Uang juga yang membuat Sungmin setuju setuju sama menjadi pertaruhanku
Tapi yang kudapati malah gelengan lemah dari kepala Sungmin, “Maaf Kyuhyun….aku…aku memang membutuhkan uang, tapi tidak untuk kali ini…aku—“
Dia?? Aku menganga tidak percaya. Sungmin tidak membutuhkan uang itu?? Walau dalam jumlah besar??
Berarti kenapa dia mau mencium—tunggu dulu!
Aku tersentak sambil terus menatap wajah Sungmin dari dekat. Tangisannya, suara paraunya dan penolakannya
Apakah itu berarti…..kalau Sungmin juga memiliki perasaan yang sama denganku?
“Katakan Sungmin!” kataku memojokkannya di pintu keluar taman, “Katakan apa yang seharusnya kau katakan dari tadi” aku terus memintanya dengan suara memohon. Katakan kalau kau memang mencintaiku atau tidak! aku akan berusaha menerima semuanya dengan lapang dada
Ia menyeringitkan dahi dan terdiam dalam kungkungan kedua tanganku
Aku mengulanginya sekali lagi, “Kenapa kau tidak menginginkan uang itu?”
“Aku—“ suaranya yang parau berubah gugup
“Kenapa kau malah menangis tadi?” desakku mulai bisa menebak semuanya.
“Kyuhyun—“ Benarkan, lihat saja raut wajahnya yang mulai memerah dengan kedua mata sembab sehabis menangis…ia menangisiku….bukankah itu berarti ia juga mencintaiku?
“Kenapa akhirnya kau mau membalas ciumanku?”
Terus saja aku mengintrogasi Sungmin sambil memenjarakannya agar tidak bisa pergi sebelum menjawab semua pertanyaanku
Ia terdiam. Aku tidak bisa menebak apa yang sedang Sungmin pikirkan. Aku hanya bisa menunggu dan terus menunggu. Meskipun begitu, sikap diamnya tidak membantu sama sekali
Aku menginginkan satu jawaban—hanya satu….
“Jawab Lee Sungmin, jawab saja!” kataku bersuara berat sehingga kembali menyudutkannya bersandar pada dinding pintu luar, “Katakan satu saja tentang perasaanmu…..dan semua akan berubah” bisikku sambil mengelus bagian wajah Sungmin yang rusak
Lagi lagi Sungmin berpaling—menghindari jemariku yang menyentuhnya, “Berubah?” ia mendengus skeptis, “apa kau yakin tidak lari terbirit birit dan mengejekku?”
Mengejek? Aku tersenyum dalam hati sambil membayangkan—apa yang sebenarnya Sungmin pikirkan saat ini. Betapa dangkal pikirannya itu mengenai diriku.
“Coba saja” tantangku semakin mendekatinya—mempersempit jarak di antara kami agar Sungmin tidak dapat mengelak lagi. Ia terlalu menguji kesabaranku dari tadi
“Katakan Sungmin, katakan saja….” pintaku berbisik di depannya. Nafas kami saling beradu sehingga saling menyapu wajah kami bersamaan. Keadaan ini membuat Sungmin tidak mempunyai pilihan lain kecuali menatap kedua mataku dalam dalam
Saat itu pula pertahanannya runtuh. Bibirnya bergetar hebat, wajahnya terlihat menyerah, dan bahunya terkulai lemas tanpa daya. Sungmin terus memandangku, terdiam sejenak lalu berkata, “Aku menyukaimu Kyuhyun” suaranya lemah seolah olah kata kata itu keluar begitu saja tanpa bisa di kontrol
Aku tersenyum mendengarnya. Meski aku sudah bisa menduganya, tapi tetap saja. Rasanya berbeda jika kau mendengar sendiri orang yang kau cintai menyatakan cintanya di depanmu.
Ini begitu istimewa…
“Nah akhirnya kau bisa juga mengatakannya” desahku merasa lega, “kenapa harus begitu lama sih! aku hampir saja menahanmu kalau saja masih keras kepala” aku berkata terus menerus sambil bersikap tidak menyadari sikap terkejutnya
Sungmin pasti tidak menyangka kalau aku mencintainya jauh sebelum ia mencintaiku juga
“Kau….” desis Sungmin kebingungan
“Aku juga mencintaimu Sungmin” Giliranku mengatakannya dengan tulus.
Akhirnya perjuanganku tidak sia sia!! Hmm, teman temanku harus tahu mengenai ini. Mereka sudah berjanji 500.000 won bukan? Tapi aku juga mau menghabiskan waktu bersama Sungmin……
Ah lebih baik aku memulangkannya dulu di rumah. Besok kan kami bisa bertemu lagi. Berbagi bekal lagi dan berbincang di belakang sekolah juga! Yah….tidak ada apapun yang bisa menghalangiku lagi untuk memilikinya
Teman temanku maupun luka itu…..
Aku memutuskan agar memulangkan Sungmin lebih cepat. Kuangkat tubuhnya dari atas tanah, memindahkan beratnya ke sebelah tanganku sementara kedua lengan Sungmin berpegangan ke belakang bahuku. Sungmin yang mengira aku hanya memeluknya berbalik merengkuh tubuhku sebelum berteriak kencang, “EH! Kau mau membawaku kemana!! Kyuhyun!! Lagipula bukankah kau bertaruh dengan teman temanmu??” tanyanya setengah terpekik bercampur rasa penasaran
“Tidak, mereka tidak datang” jawabku singkat. Lagipula mana ada yang mengintip kita dari tadi? Itukan bagian dari sandiwaraku di depanmu Sungmin. Wajahmu boleh sedingin es, tapi tetap saja kau masih terlalu naif di bandingkan diriku
Teriakan protes Sungmin mendadak teredam. Wajahnya merunduk tanpa kusadari sebelum bersembunyi dalam rangkulanku. Aku hanya bisa mendesah sebal ketika tahu kenapa Sungmin bersikap seperti itu
Orang orang lalu lalang
Pihak yang bisanya menghakimi orang lain secara fisik, kekayaan atau kedudukan. Apa begitu mengherankannya melihat aku menggendong seseorang seperti Sungmin? Hanya karena wajahnya cacat sebagian?
Dasar pemikiran yang dangkal….
“sudah biarkan saja….jangan memperdulikan mereka” bisikku menenangkannya.
Sungmin diam saja—tidak menjawab pertanyaanku bahkan sampai kami berdua berada di depan pintu rumahnya. Aku berusaha tersenyum selembut mungkin sambil mengelus wajahnya—mencoba menghiburnya walaupun terlihat sepele
“Besok aku akan menjemputmu ke sekolah, kita akan makan bekal sama sama lagi, dan aku akan bersamamu setelah pulang sekolah…..aku berjanji Sungmin” kataku masih terus menatapnya tanpa rasa bosan
Hmm, andai saja aku tidak buru buru menemui temanku itu—aku pasti akan menghabiskan waktu berduaan saja di dalam rumah Sungmin. Kapan lagi coba? Mumpung Ibunya belum pulang kerja. Lagipula Adjumma sudah memberikan anaknya secara tidak langsung kepadaku. Hehehehe, jadi ia pasti tidak masalah bukan kalau aku bertamu sekarang?
Ia mengangguk kaku mendengar ucapanku
“Bagus….” Sebelah tanganku mengelus rambut cokelatnya yang pendek seleher sambil menyingkirkan beberapa bagian rambut yang menutupi lukanya itu. Kalau begini kan Sungmin kelihatan lebih manis….
“Sana masuk ke dalam, sudah sore” suruhku seraya mendorong tubuhnya ke dalam rumah.
Tapi Sungmin bergeming di tempat. Matanya melihatku penuh selidik saat sebelah tangannya menahanku agar tidak pergi, “Kyuhyun—berjanjilah padaku ini bukan termasuk taruhanmu lagi? Kau serius—“
TARUHAN??!!
Mood baikku kembali rusak total!
Kenapa Sungmin suka seenaknya saja sih membuat kesimpulan? Kalau ini hanya bagian dari rencanaku buat apa aku menciumnya seperti tadi?? Aishhh!!!
Tidak ada yang bisa kukatakan. Aku memutuskan memeluk tubuhnya erat erat lalu berpindah mencium satu persatu separuh bagian wajahnya yang cacat. Pelan dan begitu hati hati.
Bibirku berhenti di sudut bibirnya—berusaha menjauh walaupun sulit. Ya! Kyuhyun! Kau sudah menciumnya barusan. Jangan sampai ia ketakutan lagi kalau kau menciumnya terus menerus! erangku dalam hati untuk menahan diri
Tatapanku beralih lagi ke arah matanya. Mata lugu Sungmin yang belum berubah.
Terkadang ketika kau kehabisan kata kata dalam mengungkapkan sesuatu, lebih baik kau membiarkan hatimu yang mengatakannya. Biarkan dia berbicara lewat kedua matamu agar bisa terlihat oleh orang lain
Dan itulah yang sekarang kulakukan pada Sungmin….
Awalnya Sungmin hanya melihatku agak heran. Tapi lambat laun, Tatapannya meredup, merunduk malu dan terlihat ada semburat merah di kedua pipinya
Ah—ternyata perasaanku tersampaikan juga…
Aku memutuskan melepasnya lalu memberi jarak di antara kami, “Besok aku jemput, jangan bangun kesiangan. Sana cepat istirahat!” ulangku dengan kejadian yang sama—pura pura mendorong masuk ke dalam rumah
Dan lagi lagi Sungmin tidak mau beranjak juga dari hadapanku. Sebelah tangannya masih mencengkram kemejaku sambil terus berbisik ketakutan, “Bagaimana kalau besok pagi aku tidak menemukanmu lagi?”
Ia takut kehilanganku? Seorang Sungmin takut kehilangan Kyuhyun? Hmm, jangan bersikap seperti ini Sungmin. Kau sama saja mencoba merayuku sekarang.
Arghh!! Padahal niatku sudah bulat untuk bertemu teman temanku, tapi kenapa sekarang aku malah enggan meninggalkannya sendirian saja. Di sini, di rumahnya..
“Aishh—kau betul betul tidak percaya padaku ya??” godaku merasa gemas bercampur kesal. Tidak ada salahnya kan mempermainkan Sungmin sebentar saja? hahahaha
Sungmin tiba tiba tertawa lebar seolah olah aku baru mengatakan sesuatu yang lucu sebelum merubah raut wajahnya—kembali datar, “Tidak!” katanya yakin
Tidak? Aku separuh tersenyum licik mendengar pengakuannya, “Baiklah Sungmin bagaimana kalau kita bertaruh?” kataku sambil berkacak pinggang di depannya, “Kalau besok aku tetap datang di rumahmu hingga seterusnya sampai kita lulus sekolah, kau akan memberikanku apa?”
Sikap Sungmin berubah serius, “Aku akan…” ia berkutit dalam pikirannya yang sekarang dengan mudah dapat kutebak
“Aku tidak butuh uang” tolakku sebelum Sungmin menawarkannya. Kan dia yang butuh uang, bukannya aku!
“Lalu kau mau apa???” tanyanya tanpa sadar membiarkanku memilih apa saja yang akan menjadi hadiahku nanti
Hmm….senyumku semakin lebar melihat wajah Sungmin dari dekat. Sebenarnya aku akan berniat mengatakannya saat kami lulus bulan depan. Tapi nampaknya permintaanku kali ini bisa kujadikan ajang taruhan supaya Sungmin akan tetap mengatakan iya sampai saatnya tiba nanti
“Aku mau…” Kucondongkan tubuhku ke arah Sungmin, mendekati telinga putihnya, menyapukan hembusan nafasku kesana sebelum berbisik pelan, “Kalau aku sampai menang taruhan…berarti aku berhak menikahimu begitu kita selesai SMA….” Ucapku tenang dan serius
Raut muka Sungmin memerah seketika. Ia terlonjak kaget, berpaling ke arahku dengan wajah setengah ngeri setengah geli kemudian memukul tubuhku bertubi tubi, “Ya! Kubilang jangan bercanda Cho Kyuhyun!!!” pekiknya kencang
“Hahaha—sayangnya aku tidak bercanda” ucapku sambil berlari menjauh—menghindari pukulannya. Aku terus berlari tapi tetap menghadap ke arahnya, “Kita lihat saja besok Sungmin!! Kau akan kalah!!!”
Aku yakin sekali mengenai taruhan ini. Kalau Sungmin tidak mau mengalah, aku akan membuatnya kalah….butuh 100 tahun untukmu Sungmin jika ingin mengalahkanku dalam taruhan hahahaha
“Belum tentu” Kulihat ia menjulurkan lidah—bersikap kekanak kanakan sebelum mengubahnya menjadi senyuman. Dari jauh Sungmin masih saja tersenyum sambil melambaikan tangannya. Aku mengangkat tanganku ke atas, menikmati wajahnya lekat lekat sebelum dengan enggan aku berpaling untuk berlari lebih cepat ke depan.
Aku berlari dan terus berlari. Tidak sabar menemui teman temanku, memberi tahu mereka bahwa aku menang lagi dalam taruhan ini . Berarti mulai besok aku bisa membawa Sungmin di depan semua temanku dan mengenalkannya sebagai pacarku
Hmm, aku semakin tidak sabar menunggu esok hari. Di mana hari hariku bersama Sungmin yang sesungguhnya baru akan di mulai……
-Kyuhyun PoV end-
15 tahun kemudian. Di depan pertokoan, Seoul—Korea Selatan
“Aku pesan satu lemon tea hangat”
“Kalau aku mau kopi pahit, di bungkus”
“Jangan lupa, satu buah roti melonnya juga!”
“Baik!” Seorang gadis muda terlihat kerepotan membuatkan pesanan satu persatu pelanggannya. Ia yang seorang diri mendirikan kedai sederhana menggunakan mobil tuanya, banjir peluh keringat sore hangat ini. Tangannya dan pikirannya hanya berkonsentrasi meramu, menyajikan atau membungkus ber-cup cup minuman ringan di atas meja pesanan.
“Ini dia pesanan anda!!” katanya ceria
Tapi para pelanggannya malah mendengus sebal melihat wajahnya lalu memberikan uang dengan kasar di atas meja kasir.
Gadis itu menelan ludah. Ini bukan kali pertamanya perlakuan tidak adil ia terima. Entah apa yang salah dengan wajahnya. Tubuhnya memang cukup pendek, berkulit agak gelap, berambut kemerah merahan. Itu saja! Wajahnya memang tidak secantik gadis gadis lain—tapi apakah ia harus mendapatkan perlakuan berbeda?
Gadis itu berpaling sedih, berusaha melupakannya dan termangu di depan mobilnya.
“Hai” sapa seseorang wanita manis yang membuyarkan lamunan gadis itu
“Eh…maaf, anda mau pesan apa Nona?” tanyanya halus dan sopan namun senyum penuh kehati hatian. Sudah sering senyuman manisnya malah di anggap dingin oleh orang lain.
Wanita itu tersenyum saja mendengar pertanyaan sang gadis, “Nona? Saya sudah nyonya—suami saya bisa marah kalau mendengar perkataan anda” katanya setengah bercanda
“Hahaha..maaf kalau begitu Nyonya” koreksinya sekali lagi, “Anda mau pesan apa?”
“Hmm…” wanita itu melihat menu dengan tertarik, “Aku mau satu kopi susu dan satu rose tea hangat, itu saja”
“Baik” Kelihaiannya membuat kopi dan teh tidak dapat diragukan. Maka dari itu para pelanggannya tetap datang walaupun tetap saja memperlakukan gadis penjual itu secara tidak adil
Selang beberapa menit, pesanan sang wanita sudah selesai. Gadis itu membawa sebuah plastik besar ke depan mobil, “Pesanan anda nyonya!” teriaknya ceria di sertai senyuman lebar
Bukannya mengambil plastik dari tangan sang Gadis, wanita itu malah mengulum senyum pelan. Di tatap gadis itu baik baik, “Anda cantik” pujinya spontan
“EH?” Gadis itu melongo tidak percaya, “Cantik? Hahaha, tidak Nyonya—anda yang cantik, bukan saya…” tiba tiba ia merunduk malu ketika salah seorang pengunjung lelaki yang duduk tak jauh dari mereka, menahan tawa mendengar perkataan wanita tersebut
“Kenapa kau begitu tidak percaya diri?” tanya wanita itu heran, “Kau memang cantik kok. Apa kau menyangka aku berbohong??”
“Bukan” ia menggeleng cepat, “Bukan begitu nyonya. Hanya saja….anda….hahahaha…” suara tawanya terdengar hambar dan sinar terang di wajahnya meredup, “Anda lihat kan? kulit saya berbeda dengan orang Korea kebanyakan? Kulit saya agak gelap, rambut saya merah, bukannya berambut cokelat, pirang dan berkulit putih. Mata saya tidak lebar dan bibir saya tidak terlihat imut seperti gadis gadis lain….saya—“ ia kehilangan kata kata. Kelihatan sekali gadis itu menyesal terlalu bercerita banyak kepada orang asing di depannya sekarang
Wanita itu terdiam sejenak
“Apakah itu berarti kau tidak cantik?” ulangnya sekali lagi
Sang gadis menggeleng lemah. Untung sekarang pelanggannya sedang sepi. Apa jadinya kalau semua orang menangkap dirinya semuram ini. Sang gadis berusaha menyembunyikan perasaannya bertahun tahun tanpa minta di kasihani seorang pun
Sejenak tidak ada yang mengeluarkan suara di antara mereka sampai wanita itu mengeluarkan dompet dari tasnya. Alih alih mengambil uang untuk membayar pesanannya, sang wanita malah mengeluarkan sebuah foto mungil lalu mengulurkannya ke arah sang gadis, “Kau lihat ini” suruhnya
Sang gadis menatap bingung wanita itu sebelum akhirnya memberanikan diri mengambil foto tersebut
Foto Sungmin dan Kyuhyun dalam pernikahan mereka
Gadis itu tersentak kaget dan langsung kembali memandang wanita di depannya—penuh tanda tanya, “Ini….”
Sang wanita tersenyum lebar, “Gadis itu beruntung. Kau lihat sebagian wajahnya yang hancur bukan? Tapi apakah kau lihat dia sedang ada di mana? Di pesta pernikahannya sendiri—ada seorang pria hebat yang mau menikahinya, apapun keadaan gadis itu. Dan sekarang beritahu aku, apakah gadis dalam foto itu cantik?”
Sang gadis bingung mau menjawab apa, “tapi nyonya—“
“Tidak ada tapi tapian!” potongnya agak geli—ia teringat benar suaminya sering memakai kata kata itu ketika mereka berselisih pendapat, “Kalau kau menganggap gadis itu cantik berarti kau berbohong padaku, tapi kalau kau menjawab gadis itu cantik dengan caranya sendiri baru aku percaya.”
Wanita itu mendekati sang gadis sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk mengelus wajahnya yang memang cantik, “Cantik itu bukan di lihat dari fisik. Kita manusia, pasti ada hal buruk dalam diri kita tidak peduli sebagus apa penampilan terluar kita. Kau harus paham mengenai hal itu” bisiknya penuh kelembutan
Gadis itu tersenyum memelas, “tapi orang lain—“
“Jangan peduli kata orang lain! Bukan mereka yang menentukan hidup kita dan siapa diri kita. Biarkan kita menjadi diri sendiri, dan kalau kau bisa bersikap seperti itu, aku berani bertaruh kalau kau akan menemui seseorang—lelaki yang mencintaimu apa adanya” Wanita itu berdiri tegak lagi, masih tersenyum lebar, “Aku dan suamiku suka bertaruh loh hehehe”
“Tapi aku kan yang sering memenangkan pertaruhan” sambung seseorang yang tiba tiba saja sudah berada di belakang wanita itu. Ia spontan memeluk pinggang istrinya sambil menaruh kepalanya di bahu wanita itu
Kembali, gadis penjual kopi di buat terkejut. Ia menunjuk ke arah lelaki itu dengan tidak percaya sebelum berpaling melihat ke foto
Wajah Lelaki yang sama
“Anda suami Nyonya ini?” tanyanya memastikan
Kyuhyun mengangguk pelan sebelum mencium pipi Sungmin—sang wanita yang tidak di sangka sangka oleh gadis itu adalah orang yang sama!
“Berarti Nyonya…” di tunjuknya wajah Sungmin yang tidak bercela sama sekali. Berbeda 90 derajat dengan foto di tangannya, “Anda…”
Sungmin tersenyum penuh pengertian sebelum melepaskan tangan Kyuhyun dari pinggangnya dan berjalan mendekati gadis itu, “Aku memang dia. Karena alasan kesehatan aku akhirnya menjalani operasi plastik 5 tahun setelah pernikahanku.” Tubuh Sungmin condong ke depan sambil berbisik dengan suara kecil, “tadinya suamiku tidak mengijinkanku untuk operasi, kau tahu? Dia jauh lebih suka melihatku seperti itu..”
“EH?” gadis itu kembali menatap Kyuhyun yang hanya bisa menunggu agak jauh dari mereka berdua, “Lelaki setampan suami anda mau—aishh…anda memang beruntung nyonya, tapi kejadian seperti itu langka, mungkin saja aku tidak seberuntung anda…” balasnya bersikap pesimis
“Kata siapa??” ujar Sungmin di selimuti emosi, “Kau hanya perlu menjadi diri sendiri—bukan orang lain! Akan ada Kyuhyun yang lain untukmu! Percayalah, lagipula kata suamiku, lelaki tidak seburuk yang kita sangka, mereka baik kok” ketika mengatakan itu, Sungmin menjulurkan lidah ke arah Kyuhyun yang bingung melihat sikap aneh istrinya
Perlahan lahan gadis itu mengangguk mengerti sambil mengembalikan foto itu ke tangan Sungmin, “terima kasih Nyonya….anda membuat hari ini jauh lebih baik untukku” katanya tulus
“sama sama” Sungmin kembali berdiri tegak lalu berjalan menghampiri Kyuhyun, mengambil pesanannya setelah mengeluarkan beberapa lembar uang
Kyuhyun memeluk tubuh Sungmin lagi dari samping, “Kau siap pulang?”
Sungmin mengangguk dalam dalam. Tak lama ia berpaling melihat sang gadis, “Aku duluan yah—lain kali aku akan mampir….eh aku belum tahu namamu?”
“Luna!” jawab sang gadis bersemangat, “Anda bisa memanggilku Luna, Nyonya!!!”
“Baiklah, kami duluan Luna!!” Sungmin melambai menjauh sementara Kyuhyun menunduk formal sebelum menuntun istrinya berjalan di pelataran kota Seoul. Selama berada di sana, Kyuhyun sengaja berjalan pelan pelan untuk menikmati waktu berduanya dengan Sungmin, “Sungmin” panggilnya
“Hmm?”
“Sebagian besar aku bisa menebak pembicaraan kalian berdua tadi, tapi yang aku bingung—kenapa dia merasa dirinya jelek? Luna manis kok” kata Kyuhyun jujur
Sungmin mendesah panjang, “Aku juga tidak tahu. Padahal wajahnya tidak ada luka sama sekali—bahkan jerawatnya pun tidak ada! Aishh….omongan orang lain memang sangat kejam kadang kadang.” Sejenak Sungmin mendelik—sedang memikirkan sesuatu, “Tapi aku yakin tidak sampai seminggu, Luna pasti sudah punya pacar kalau ia mendengarkan omonganku” ujar Sungmin percaya diri
Kyuhyun menyeringai lebar, membuat senyum separuhnya malah mengundang rasa curiga Sungmin, “Aku berani bertaruh kalau Luna akan punya pacar kurang dari 3 hari, apa kau mau bertaruh melawanku Sungmin?” godanya sambil mengelus wajah Sungmin
“3 hari?” Sungmin meremehkan Kyuhyun, “tidak akan secepat itu, Luna orangnya pemalu, seminggu! Yah, pasti seminggu!”
“Ok!” Kyuhyun berhenti berjalan dan mengubah posisi berdirinya berhadap hadapan dengan Sungmin, “kita bertaruh Sungmin—kau seminggu, aku kurang dari 3 hari atau 3 hari penuh, bagaimana istriku??” tantangnya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Sungmin
“Apa dulu imbalannnya??”
Sejenak Kyuhyun pura pura berpikir walau sebenarnya ia sudah tahu akan meminta apa kepada Sungmin, “Kalau kau menang aku janji tidak akan memaksa lagi untuk punya anak, tapi kalau aku menang—berarti…” Kyuhyun sengaja menggantung kalimatnya. Menikmati wajah Sungmin yang berubah keunguan—menahan marah tapi segera berubah merah merona mendengar taruhan mereka
“Tapi Kyuhyun! Anak kita udah tiga?? Dan sudah lengkap, 2 laki laki, 1 anak perempuan….memangnya kau mau punya anak berapa??” tanya Sungmin sedikit frustasi
“Hmm…” kedua mata Kyuhyun menari nari ke samping—pura pura sedang berpikir, “aku mau punya 2 anak lagi!!! gimana?”
GUBRAKK
Tubuh Sungmin agak oleng dan mau jatuh ke tanah kalau saja Kyuhyun tidak segera menahannya, “Kau?!” Ia hendak menjitak kepala Kyuhyun kalau saja suaminya tidak berkelit dengan mudah, “memangnya kau mau membentuk Group penyanyi apa? Yang anggotanya lima orang gitu??” sindir Sungmin tanpa ampun
“Hahaha tidak Sungmin, tapi aku senang kalau rumah kita ramai..ayolah….” bujuk Kyuhyun merangkul Sungmin dari belakang sambil melanjutkan perjalanan mereka
“Fuih~ baiklah…” kata Sungmin mengalah, “Aku mau punya anak lagi, kalau kau menang dalam taruhan kita! Tapi kalau tidak? silahkan bermimpi saja Tuan Kyuhyun”
“Sungmin Sungmin…apa kau lupa…” bisik Kyuhyun tepat di telinga Sungmin, menggelitik kuping istrinya itu dari dekat, “aku ini tidak pernah kalah melawanmu, bersiaplah untuk punya anak lagi Sungmin..”
“Belum tentu, 3 hari kan? kita lihat saja nanti” sergah Sungmin buru buru sambil melirik ke arah jam tangannya. Ia baru menyadari kalau mereka sudah berpergian seharian sejak pagi tadi, “Ayolah kita jemput anak anak di rumah Umma, kasihankan Umma kerepotan seorang diri di rumahnya”
“Baiklah~ ayo” Mereka berdua berjalan lebih cepat, melewati orang yang mulai lalu lalang keluar karena sekarang jam pulang kantor. Kyuhyun dan Sungmin nampak terburu buru sehingga tidak sadar menabrak seorang pria tegap yang baru turun dari bus di depan halte
Pria tersebut mendesah kesal sejenak, tapi tak lama ia melirik ke sekeliling—mencari tempat nyaman untuk beristirahat sejenak. Tatapannya berhenti di sebuah kedai sederhana tak jauh dari jalan besar. Kedai kopi milik Luna.
Karena di lihat tempat itu terasa sejuk. Ia akhirnya memilih mendekat sambil duduk di salah satu bangku yang kosong.
Saat itulah Luna menghampirinya sambil tersenyum lebar, “Anda mau pesan apa Tuan?” suaranya berubah ceria dan bersemangat. Kali ini ia tidak peduli lagi dengan perkataan orang. Toh ternyata memang lebih baik menjadi dirinya sendiri ketimbang berusaha menyenangkan orang lain
Lelaki itu menatap malas ke menu yang di berikan Luna, “Apa menu andalan di sini?” tanyanya datar.
“Hmm, bagaimana kalau secangkir teh hangat untuk anda” ucap Luna berbeda dengan yang di minta pria itu, “Ah—maaf bukan saya lancang, tapi wajahnya anda terlihat lelah sehingga harus merilekskannya dengan teh….” Suara luna menghilang ketika lelaki itu menatapnya penuh selidik, “Maaf….” Luna tertunduk dalam dalam, “Maaf kalau anda terganggu, saya hanya menyarankan” katanya cepat cepat—takut lelaki itu merasa kesal
Namun sang lelaki malah tertawa terbahak bahak. Rasa lelahnya meluap seketika, “Kau ini…..kenapa setakut itu, aku tidak menggigit orang kok…….” Candanya sambil mengembalikan menu ke tangan Luna, “Baiklah—berikan aku teh buatanmu dan kau punya makanan apa untukku—yang bisa menghilangkan rasa capek?” tanyanya setengah menggoda Luna.
Luna menahan senyum lebarnya. Baru kali ini ada pelanggan yang bisa berinteraksi dengannya tanpa rasa jengah, “saya punya salad, atau mie ramen hangat—siapa tahu anda butuh yang hangat hangat? Roti juga ada—“
“Tidak—aku mau mie ramen saja, mengenyangkan..” Lelaki itu masih bertopang dagu menatap Luna bahkan saat gadis itu pergi menjauh untuk membuatkan pesanannya
Selang beberapa menit Luna kembali membawa nampan besar lalu meletakan satu persatu pesanan pria itu, “Ada lagi yang anda butuhkan?” tanyanya ramah
“Tidak….terimakasih” balasnya mulai mengambil sumpit dan menghirup aroma sedap dari mangkuk ramen
“Kalau anda butuh sesuatu, bisa meminta padaku—selamat makan” Luna merunduk dalam dalam sekali lagi dan hendak pergi menjauh sebelum sang lelaki menahan tangannya, “bagaimana aku memanggilmu kalau namamu saja aku tidak tahu?” katanya lugas
“Namaku?” sikap Luna berubah gugup. Biasanya semua orang memanggilnya pelayan—tidak pernah ada yang menanyakan namanya secara langsung, terkecuali Sungmin yang datang tadi siang. “Anda bisa memanggilku pelayan kalau mau” jawab Luna merendah
“Hmm” desis sang lelaki gemas, “Yang aku tanyakan namamu, bukan apa panggilanmu?” desaknya lagi
Luna tertegun. Ia melirik tangan laki laki itu belum mau melepasnya dari tadi, “Luna…” akhirnya Luna memilih berkata terus terang, “Namaku Luna…”
Lelaki itu tersenyum tipis sambil melepaskan tangannya dari lengan Luna, “Aku Wonghyun, senang bertemu denganmu”
“Ah iya….” sekarang mereka berdua bingung mau mengatakan apa lagi, “Aku—aku kembali ke belakang saja….” Buru buru Luna pergi terbirit birit sementara Wonghyun memakan ramen sambil melirik tingkah Luna yang menurutnya lucu
Bisikan Sungmin tadi siang berputar dalam pikiran Luna saat ini
Akan ada seseorang untukmu kalau kau bisa menjadi diri sendiri—bukan orang lain…
________________________________________________
“Terima kasih lain kali kembali!!!” teriak Luna bersemangat.
Ibu ibu yang membeli di kedai mulai membalas senyum Luna. Melihat itu rasa bahagia Luna semakin memuncak. Ia terus saja bekerja keras sambil melayani semua pelanggannya dengan sepenuh hati tanpa tersadar hari menjelang sore. Saat itu pula, Luna melirik ke jalan besar—menunggu seseorang muncul dari sana
Benar saja, Wonghyun terlihat berlari kencang ke arah kedai Luna. Dan saat pandangan mereka bertemu. Senyum tulus itu kembali terukir sempurna di wajah masing masing.
“Mau kubantu?” tawar Wonghyun pura pura berbasa basi
Luna menggeleng sambil menyuruh Wonghyun duduk di dekatnya, “Kau di sini saja…biar aku siapkan sesuatu untukmu” ia berjalan menjauh, mengambil dua mangkuk ramen dari dalam mobilnya, “ayo kita makan berdua”
“Terima kasih” Wonghyun menghirup aroma lezat ramen tersebut kemudian berbalik menatap Luna.
Lagi lagi mereka tersenyum lebar. Walaupun tidak satu katapun terucap di antara mereka namun ada sesuatu yang bahkan orang luar bisa lihat begitu jelas…
“Aku menang” sahut Kyuhyun dengan sangat puas. Sengaja ia merangkul pundak Sungmin yang menggerutu sejak tadi sambil melihat diam diam ke arah kedai Luna—di mana kedua pasang tersebut sedang makan ramen bersama sama, “Bagaimana Sungmin..ini bahkan baru dua hari tapi Luna sudah punya pacar….berarti kau kalah lagi…” kata Kyuhyun menyeringai lebar
“Tapi kan mereka masih dekat” potong Sungmin masih tidak mau mengaku kalah, “belum tentu mereka berpacaran!”
“Kau tidak yakin?” Alis Kyuhyun naik sebelah, “apa mau kita bertanya langsung??” sambungnya lagi hendak menghampiri mereka semua ketika Sungmin menahan tubuhnya, “Tidak usah, nanti kita mengganggu mereka lagi! Iya iya—aku mengaku kalah, puas??” sindir Sungmin pasrah
Kyuhyun memalingkan kepalanya ke arah Sungmin, “Kau mengaku? Baiklah!!” Dengan lihai, Kyuhyun mengambil telepon genggam dari saku celananya lalu menghubungi seseorang di seberang sana, “Umma? Iya…ini aku, boleh aku titip Sulli, Onew dan Jonghyun di rumah Umma? Hmm, kalau bisa untuk dua hari—”
“Dua hari??” mendengar itu, Sungmin berusaha mencengkram baju Kyuhyun, “Mau—mpphhh” mulut Sungmin di bungkam Kyuhyun cepat cepat agar tidak memotong ucapannya, “Iya Umma—rencanaku berhasil, Sungmin akhirnya mau menambah anak lagi…Umma senang kan?” ujar Kyuhyun menahan rasa senangnya tanpa memperdulikan sikap berontak Sungmin di sebelahnya, “Tenang saja Umma…..aku akan bekerja keras, hehehe~”
PIIP
Bersamaan saat Kyuhyun menutup teleponnya, ia juga melepas tangan kanannya yang menutup mulut Sungmin dari tadi.
Dan kemarahan istrinya memuncak mengetahui akal busuk Kyuhyun yang ternyata bekerja sama dengan Ibunya sendiri, “Kau?? dan Umma??” desisnya penuh amarah
“Umma juga mau kau punya anak lagi” jawab Kyuhyun tanpa rasa bersalah, “Sudahlah marahnya nanti saja—sekarang kau dan aku punya urusan yang harus kita kerjakan sebelum anak anak pulang nanti”
“Tapi—Kyu—huaaa…” Seolah olah kembali ke masa lalu. Kyuhyun pun menggendong tubuh Sungmin dengan sebelah tangannya. Sungmin yang sudah mengaku kalah akhirnya berhenti berteriak, ia hanya merunduk dalam pelukan Kyuhyun sambil menyembunyikan wajahnya di sana
“Kenapa kau merasa malu? Luka itu tidak ada lagi bukan” bisik Kyuhyun lembut
Sapuan nafas Sungmin tepat mengenai leher Kyuhyun saat istrinya mengalungkan tangannya, “Aku malu bukan karena itu Kyuhyun, tapi karena sikapmu….lihat saja—mereka pasti berpikir macam macam tentang kita”
Memang benar ucapan Sungmin. Siapapun akan memandang aneh ke arah mereka berdua. Tapi Kyuhyun hanya mengangkat bahu—tidak peduli, “dan apakah kau mau kuturunkan??”
“Tidak…” elak Sungmin semakin mengeratkan pelukannya, “aku memang malu—tapi aku sudah terbiasa untuk itu…” Ia menatap wajah Kyuhyun lekat lekat kemudian mencium ringan pipi suaminya sendiri, “Aku mencintaimu Kyuhyun”
Kyuhyun tertawa kecil sambil menyuruh Sungmin agar mendekat lalu menciumnya tepat di bibir Sungmin, “Aku juga mencintai Sungmin—sangat..”
“Aku tahu…”
Semakin dekat mereka persimpangan jalan, Kyuhyun bergegas membelok ke sebuah jalan lebih kecil, berjalan lurus, memotong jalan setapak sampai ke sebuah mungil di mana Kyuhyun dan Sungmin menghabiskan waktu bersama sama anak anak mereka
“Tapi Kyuhyun besok apa kau tidak kerja?” tanya Sungmin ketika Kyuhyun menurunkan tubuhnya supaya bisa membuka pintu depan rumah
“Aku kan Dokter—bisa datang kapan saja, lagipula besok tidak ada jadwal operasi….tenang saja Sungmin, pokoknya kau tidak boleh menghindar lagi kali ini!” ancam Kyuhyun separuh bercanda
Sungmin mendesah kalah. Ia sudah berjanji dan harus menepati apa yang telah ia ucapkan.
“Ayo…” ajak Kyuhyun mengulurkan kedua tangannya, membawa Sungmin kembali ke dalam pelukannya. Setelah itu Kyuhyun menutup pintu rumahnya rapat rapat. Dari luar terdengar bunyi berderik aneh dari lantai rumah mereka. Suara tersebut perlahan lahan menghilang di telan malam yang semakin mencekat sehingga memberikan ketenangan bagi Kyuhyun dan Sungmin. Keduanya menikmati malam malam mereka dengan perasaan bahagia
THE END
Jumat, 05 Agustus 2011
Beauty (or) The Beast? One Shoot
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
cerita dongeng banget nak...
BalasHapusbagus bagus kok...
group musik...
wakakakakaka....
AWKKAWKWA . grup musik . AWKKOAW . kocak mak XD
BalasHapus