Author : Sebastian Mamoru
Title : Beauty (or) The Beast?
Cast :
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin
and other cast ^^
Sungmin PoV
“Dasar anak tidak tahu di untung!!! Seharusnya kau sadar siapa dirimu!!! Membantah saja bisanya!!!” hardik Ummaku sambil mengayunkan sendok sayur ke atas kepalaku
Dan bodohnya aku tidak berusaha menghindar, buat apa? Toh kejadian ini sudah menjadi makananku sehari hari
Pukulan, hinaan dan caci maki adalah bagian dari hidupku
Ya mungkin kau akan heran—Dia Ibuku sendiri tapi kenapa begitu tega memukul anak kandungnya?
Entahlah aku juga tidak tahu. Aku berusaha mencarinya selama 8 tahun dan masih belum menemukan jawabannya
Mungkin aku tidak akan pernah menemukannya….
Setelah berhasil membuat lenganku lebam akibat pukulannya—Umma baru memperbolehkan aku pergi ke sekolah. Yah, untuk hari ini aku terpaksa memakai jaket lagi untuk menyembunyikan luka ini
Suasana di sekolah pun tidak lebih baik. Semua orang mengucilkan aku layaknya orang terasingi. Dengan lunglai aku berjalan lesu masuk ke ruang kelas. Biasanya aku duduk sendiri di pojok belakang tanpa seorang temanpun
Ya, aku sendiri……
Di rumah ataupun di sekolah, keadaanku sama saja
Penolakan, hal itu sudah kuterima sejak umurku 8 tahun—sejak aku mengalami luka cacat permanen di separuh wajahku akibat kecelakaan mobil. Ibuku yang tidak punya biaya lebih, akhirnya membiarkan luka cacat ini terpampang jelas.
Aku harus menggunakan sebagian rambutku agar bisa menutupi luka wajahku agar tidak tampak mengerikan. Yah…gara gara itu semua orang menyebutkan jelek! Bukan jelek seperti standar setiap orang—namun jelek karena luka ini
Apakah aku menyesalinya? Tidak! Dengan luka di wajahku aku belajar sesuatu yang tidak bisa di pelajari oleh orang lain.
Yaitu ketulusan….
Meski yah…ternyata sulit sekali menelan dan berbicara lancar menggunakan separuh mulutnya yang terbujur kaku karena kehilangan fungsinya seperti sedia kala
“Hmmm….” Aku mengeluh sejenak ketika menatap nanar ke arah bekal makan siangku. Kenapa Ibu selalu lupa aku tidak suka telur asin?? Aishhh….terpaksa kan aku memakannya pelan pelan. Tanpa Ibuku ketahui sebenarnya mulutku agak kesulitan menelan segala sesuatu—sekalipun itu telur lembut seperti menu makan siangku ini. Ah…harus pelan pelan. Bisikku sambil mencoba menggerakan sebagian wajahku yang sudah mati rasa
“Hei!” suara seseorang lelaki membuyarkan dunia kecilku. Spontan aku menoleh ke arah sumber suara, “Ada apa?” tanyaku singkat—tidak mau buang buang waktu untuknya. Seperti tidak tahu dia saja. Lebih baik aku mengacuhkan lelaki ini seolah olah aku tidak mendengar panggilannya
“Ya!! Lee Sungmin!!! Aku berbicara denganmu!!” bentak lelaki tersebut seraya menghentakkan mejaku dari depan
Aku menatapnya heran, “Aku kan sudah bilang ada apa, Kyuhyun?” ulangku tidak peduli
Kyuhyun menyeringai tajam lalu kembali duduk di sampingku, “Bagaimana kita pacaran saja?” tembaknya langsung
“Apa aku tidak salah dengar?” kataku tidak menunjukkan ketertarikan. Sudah bisa kuduga ia dan teman teman se gengnya pasti sedang bertaruh mengenai aku—entah apa tepatnya. Tapi pasti aku hanya menjadi ajang pembuktian. Seperti yang sering aku alami dulu
Kyuhyun terhenyak sedikit sebelum mengubah raut wajahnya yang kuakui memang tampan, “Aku tidak bercanda…besok pulang sekolah—tunggu aku di taman belakang, kau mau kan?”
“Baiklah” jawabku enteng. Toh membuat namja tampan ini senang tidak dosa bukan?
Kulihat dari sudut mataku yang cacat, Kyuhyun menyeringai tajam dan memberikanku kiss jarak jauh sebelum kemudian menghilang dari dalam kelas
Seluruh murid mulai berguncang mengenai kejadian yang barusan terjadi. Mereka menatapku sinis dengan bisik bisik yang mudah kutebak. Ah jangan pikirkan Sungmin—kita lihat saja nanti, aku akan meminta konsekuensi tindakan Kyuhyun kepada orangnya langsung!
____________________________
“Ng…” Kyuhyun kelihatan salah tingkah. Ia mengacak rambut cokelatnya ke arah belakang. Pasti kalau yang melihat adalah penggemarnya di sekolah—mereka akan berteriak histeris sekarang
Namun aku tidak. Kyuhyun adalah orang kesekian kali yang membuatku tersadar kalau lelaki adalah mahluk terkejam yang pernah ada
“Aku menyukaimu Lee Sungmin” ucapnya terdengar er…sedikit membosankan
“Lalu?” balasku dingin
Hampir selusin pria tampan tapi brengsek di sekolahku pernah menembakku—mengajakku kencan pula meski yah…aku tahu kalau mereka ujungnya malah mempertaruhkanku layaknya sebuah barang mainan bagi teman temannya
Dengan berani Kyuhyun berjalan mendekatiku,menyudutkanku berdempetan dengan tembok. Tatapannya terfokus pada bibirku yang setengah cacat parah. Aku hanya bisa mendesah—sudah bisa menebak apa kali ini kemauannya
“Kau mau menciumku?” kataku tanpa berbasa basi
“EH” Wajah Kyuhyun berubah terkejut mendengar ucapan lugasku, “aku…” suaranya agak terbata bata sekarang
“Sudahlah—berapa won kau taruhan dengan temanmu” bisikku dari sudut bibirku yang normal, “Jangan bohong aku tahu di dekat kita pasti temanmu sudah mengintip dari jauh kan? Aku tahu semuanya Kyuhyun” jelasku bernada dingin
“Kau??” Kyuhyun menunjukku tidak percaya dengan kedua tangannya masih memenjaraku di sudut taman, “Kau sudah tahu??”
Aku mengangguk pasti
“Kau bukan orang pertama yang menjadikanku bahan taruhan, sekarang beritahu aku—berapa jumlah semua taruhanmu??” kataku balik bertanya
Masih menatapku tajam, Kyuhyun kembali membuka suaranya, “30.000 won” tuturnya jujur
“Nah Kyuhyun beri aku setengah dari uang taruhanmu dan aku akan membiarkanmu memenangkannya, bagaimana??” tawarku ringan
Sudut sudut wajah Kyuhyun mengkerut—tanda ia benar benar bingung dengan sikapku, “Kau—kau masih mau di jadikan bahan taruhan lalu malah berani meminta setengah bagian taruhan juga??” suaranya berubah marah walaupun ia hanya mendesis kecil takut kelihatan orang lain kalau kami berdua sama sama bersandiwara
Aku memandangnya pedih, “Semua orang butuh uang Kyuhyun dan aku tidak sekaya dirimu. Sekarang kau bisa memutuskan, meninggalkanku di sini lalu kalah dari teman temanmu, atau…kita lakukan taruhanmu dan memberikan sebagian uangnya untukku” bisikku memberi penawaran
Kyuhyun mendesah panjang—aku tahu harga dirinya jauh lebih berharga di bandingkan uang puluhan ribu won saja. Semenit kemudian, Kyuhyun akhirnya mengambil keputusan lalu mengangguk samar
Aku tersenyum sebagai jawabannya. Dengan sebelah tangan aku memberanikan diri meraih tubuhnya agar mendekat, “Lakukanlah—cium aku”
“Ah iya…aku sampai lupa” Kyuhyun merundukkan kepalanya sebelum memulai menutup kedua matanya sementara aku hanya berdiam diri saja. Dalam hati sebenarnya aku lebih penasaran dengan reaksinya ketika menyentuh bibirku yang kaku dan kasar. Apakah ia tidak merasa jijik??
Dan benar saja, tidak sampai 1 menit Kyuhyun mencium bibirku yang separuh cacat, Ia segera menarik dirinya, “Ukh…” cibirnya sambil mengusap usap bibirnya menggunakan punggung tangan, “bibirmu benar benar buruk!” katanya kasar
Aku tersenyum saja menanggapi kritikan pedasnya, “baru tahu?” ejekku, “10 menit—aku akan menunggumu di ujung jalan besar, berikan uangnya kepadaku kalau tidak aku akan membuatmu malu besok pagi”
Seolah tidak terjadi apa apa. Aku memungut tasku di rerumputan lalu berjalan keluar meninggalkan Kyuhyun termangu mangu seorang diri
*****
“DARIMANA SAJA KAMU SUNGMIN!!!”
“Maaf..Umma…tadi aku ada perlu dengan teman—
PLAKKK
Sebuah tamparan keras mengenai bagian wajahku yang tidak rusak. Umma menarik nafasnya sebelum kembali membentakku, “Kau!! Umma capek capek bekerja seharian untukmu! Tapi kau malah pulang sore hari!!! Maumu apa Sungmin!!”
“Maaf…aku…” dan untuk kesekian kali hanya kata maaf terucap selagi aku merunduk menahan sakit di bagian wajah dan hatiku.
Harus kuakui aku memang kebal mendapat perlakuan di hina oleh orang lain, di ejek teman teman sekelas ataupun menjadi ajang taruhan bagi mereka
Tapi ketika Ibuku sendiri—menghinaku dengan bibirnya, menjauhiku seolah olah aku penyakit berbahaya. Aku terus menangis dan menangis di kebun belakang rumah. Menyesal kenapa aku masih hidup hanya untuk menyusahkan dirinya?
Bukannya aku tidak tahu kenapa Umma bersikap demikian kasar terhadapku. Semenjak Appaku meninggal dalam kecelakaan mobil waktu itu. Ummaku menghabiskan seluruh hartanya hanya demi membiayai sebagian wajahku yang hancur parah. Walaupun uangnya terlanjur habis ketika wajahku membutuhkan dana lebih untuk operasi plastik
“Hmm…” Segera aku hapus air mata dari wajahku saat kembali ke dalam kamar. Di sana aku mengeluarkan setumpuk uang yang diberikan oleh Kyuhyun, “Seribu….dua ribu….jumlahnya masih kurang….”
Yah, tanpa diketahui siapapun sebenarnya selama ini aku mengumpulkan uang dari ajang taruhan teman sekolahku demi biaya operasi plastik wajahku sendiri. Aku tidak mau merepotkan Umma lagi. Aku sadar kalau keberadaanku saja sudah menyusahkannya. Jangan sampai ia akhirnya kalap dan berbalik membenciku
Jangan Tuhan….hanya Umma yang aku miliki sekarang……aku tidak punya siapapun lagi
*****
“Lihat tuh si buruk rupa lewat kemari—apa kau tidak ingin menciumnya lagi Kyuhyun~” ujar salah seorang teman lelaki Kyuhyun yang tidak aku tahu namanya siapa. Masa bodoh, lebih baik kau jalan terus Sungmin!
“Aigo~ apa rasa bibirnya Kyuhyun? Pasti rasa lumpur kan hahahaha” ternyata penghinaanku terus berlanjut. Aku lihat Kyuhyun hanya mengangkat bahu lalu memalingkan wajahnya ketika aku memandangnya dari dekat. Ah, biarkan saja Sungmin, toh ini sudah makan sehari harimu selama ini
Aku pasti bisa melewati mereka. Dasar namja kurang ajar!!. Umpatku dalam hati
Setelah berhasil kembali ke dalam kelas, aku menghirup nafas panjang. Tapi ternyata kebebasanku tidak berlangsung lama.
Tiba tiba saja Kyuhyun mengejarku dan menepuk pundakku dari belakang, “Sungmin!! Aku mau bicara padamu!!”
Aku berbalik dengan malas, “ada apa?” tanyaku berusaha ramah—toh bagaimanapun Kyuhyun sudah baik mau memberikanku sebagian uangnya kemarin sore
Raut wajah Kyuhyun nampak aneh. Ia berdiri sangat dekat denganku sebelum tertunduk lalu membisikkan sesuatu di telingaku, “Aku mau kita pacaran sekarang” ucapnya tegas
“Eh?” Alisku naik sebelah, “Kau taruhan lagi??” tuduhku kesal
“Iya—dan kali ini taruhan kami besar besaran…..500.000 won” sambungnya lagi
Terang saja aku membelalakkan mata lebar lebar—sungguh jumlah yang sangat besar untuk anak sekolahan seperti kami
“Apa kau bersedia??” tanya Kyuhyun mengajukan penawaran kepadaku
“Apa kau mau memberiku setengahnya?” kataku tidak percaya—jangan bilang ini adalah jebakan dari teman temannya yang jahat itu!
Senyum Kyuhyun semakin lebar saat mendengar pertanyaanku, “Bukan sebagian—tapi semuanya”
“Semuanya???” Aku benar benar terkejut sekarang—separuh wajahku ikut tertarik ke atas dan membuatku nampak makin mengerikan. Kyuhyun pasti sudah gila! Uang itu kan tidak sedikit jumlahnya, “Tapi—“
Kyuhyun memberikan isyarat agar aku diam agar bisa mendengarkan ucapannya, “Mulai besok aku akan menunggumu di taman belakang seperti biasa—selama seminggu. Aku sudah janji dengan teman temanku—di sanalah tempat strategi agar mereka bisa mengintip kita tanpa di curigai olehmu” Kyuhyun memberikan tanda kutip pada kata kata terakhir
“Kyuhyun aku tidak bisa—Ummaku akan marah kalau aku pulang sore! Apalagi selama seminggu!!” pekikku mulai ketakutan, “Mungkin kali ini aku harus menolak”
“Jangan!!” elak Kyuhyun cepat cepat, “Aku sudah terlanjur mengatakan iya kepada teman temanku!! Hmm, baiklah—nanti aku akan meminta ijin dengan Ummamu terlebih dahulu” katanya meremehkan masalahku
Umma? Dia bilang Umma? Apa kata Ummaku kalau sampai aku berani membawa namja di hadapannya!!!
“Tidak Kyuhyun Aku—“
“Tidak ada tapi tapian!! Kemarin aku sudah membantumu, sekarang giliran kau membantuku!!” Akhirnya Kyuhyun menarik diri karena hampir seluruh murid melihat ke arah kami berdua dimana sejak tadi Kyuhyun terus saja berbisik di telingaku, “Nanti aku tunggu kau di gerbang sekolah” katanya final.
Sebelum aku bisa mengatakan sesuatu Kyuhyun sudah menghilang sambil melambaikan tangan dari jauh. Dia tega membiarkanku pusing sendirian di depan kelas
_________________________________________
“Jadi kau ini…”
“Saya Cho Kyuhyun Adjumma, teman satu sekolah anak anda Lee Sungmin”
“Oh~”
Sekarang aku menghadapi malapetaka besar. Kyuhyun benar benar nekat datang kerumahku—menemui Ummaku untuk meminta ijin mengenai keterlambatanku setiap pulang sekolah. Aku saja heran di buatnya—Kyuhyun berniat sekali menang taruhan kali ini!
“Apakah Adjumma mengijinkan jika Sungmin akan pulang telat mulai hari ini?” tanya Kyuhyun sopan, “tenang saja—aku akan mengantarnya pulang setiap malam” tambahnya lagi
Umma memandang Kyuhyun dengan tatapan menilai, “Apakah kau menyukai Putriku?” celetuknya tiba tiba
“Tidak Umma kami—“, “Ya!” ucapku dan Kyuhyun bersamaan
“EH?” Kutatap tajam Kyuhyun—tapi ia tidak peduli. Perkataan demi perkataan mulai di keluarkannya lagi, “Kami memang sedang dekat, tapi aku tidak bisa mengatakan kami berpacaran selama Sungmin tidak merasakan hal yang sama” ujarnya panjang lebar
APA KYUHYUN SUDAH GILA!!! Teriakku dalam hati
Wajah dingin Umma mendadak berubah total. Senyum yang sudah lama tidak aku lihat sekarang terpampang jelas di wajah tuanya, “Apa yang kurang dari dia Sungmin!” tegur Ibuku setengah senang, “masa kau tidak menyukainya???”
“Aku…” lagi lagi aku memberikan tatapan mematikan dengan sebelah mataku yang rusak ke arah Kyuhyun yang malah senyum senyum saja melihat reaksi senang Ibuku
“Sudahlah Adjumma jangan di paksakan—nanti akan tiba saatnya Sungmin menyukai saya” kata Kyuhyun percaya diri
“Iya” jawab Umma ikut setuju
Aishh!! Kalau saja Umma tidak ada—aku akan membuat wajah Kyuhyun menjadi cacat seperti diriku!!
“Ah~ baiklah jangan biarkan Adjumma menahanmu—mulai besok kau boleh membawa Sungmin pergi, tapi ingat pulangnya jangan malam malam—kalian kan masih anak sekolah” nasihat Ummaku
Kyuhyun merunduk formal, “aku janji Adjumma sekarang aku permisi pulang dulu” ia beranjak bangkit lalu di antar oleh Umma hingga ke depan gerbang
Setelah mendengar pintu rumah kami tertutup kembali, Aku menegakkan badan—takut di marahi Umma seperti biasa
“Sungmin…” bisik Umma tiba tiba memelukku dari belakang
“hmm, Umma kenapa?” tanyaku mulai khawatir
“Tidak—umma hanya senang, akhirnya….” Pelukannya di tubuhku semakin erat sementara Umma terus saja berbicara, “Maaf kalau Umma sering bersikap kasar terhadapmu—Umma takut sekali kalau tidak ada seorangpun yang bisa menerimamu dengan wajah seperti itu. Setiap hari Umma bekerja keras dua kali lipat untuk menabung biaya operasimu, memang jumlahnya masih sedikit, tapi sabarlah—Umma akan bekerja lagi!!” katanya tegas sambil mencium pucuk kepalaku
“Umma..” bisikku baru tahu mengenai hal itu, “Aku…”
“Tapi Umma sepertinya salah besar, lihat saja Kyuhyun—dia anak baik Sungmin. Dia mau menerima keadaanmu, Umma akan senang sekali jika kau mau menerima dia sebagai kekasihmu”
DEG
Jantungku berdetak lebih kencang. Deru nafasku memburu di sertai keringat dingin di sekitar wajah. Semangatku pun langsung menghilang ketika mendengarkan kalimat terakhir. Aku mulai tertunduk penuh rasa bersalah. Bagaimana jika Umma tahu kalau aku hanya membantu Kyuhyun memenangkan taruhan itu….
“Umma aku—“
“Ssst! Anak Umma harus tidur cepat, sana kau kembali tidur!!” suruh Ummaku sambil mendorong tubuhku menjauh
Ya Tuhan apa yang harus kulakukan sekarang!!!
____________________________________________
Sikap Umma berubah drastis. Ia benar benar tidak pernah memukulku lagi. Umma malah memberikanku bekal makan siang dengan isi semua makanan kesukaanku. Aku mengulum senyum pelan pelan karena sebagian wajahku yang terkadang suka mati rasa jika di gerakan terlalu lama
Dan seperti janjiku—setiap pulang sekolah aku akan berduaan di taman belakang bersama Kyuhyun. Di sana kami membicarakan apa saja yang bisa di perbincangkan. Hari ini aku bercerita tentang keanehan sikap ibuku
“Itu tidak aneh” kata Kyuhyun sok bijak, “Ibumu mungkin terlalu stress dengan pekerjaannya dan frustasi karena uangnya belum terkumpul juga untuk biaya operasimu makanya ia jadi gampang emosi” jelasnya memakai hipotesa yang lumayan akurat
“Mungkin saja tapi aku tidak enak jika perjanjian kita sudah berakhir lalu Umma…” aku sengaja tertunduk—menghindari tatapan Kyuhyun yang hanya menarik nafas panjang berbaring di rerumputan, “Bilang saja aku sibuk kegiatan tambahan, nanti aku akan sekali kali main kerumahmu agar beliau tidak curiga” kata Kyuhyun memberi solusi
“Hmm boleh juga idemu” Ini adalah hari pertama aku mengaku menjadi pacar Kyuhyun. Tidak ada yang bisa kami bicarakan lagi. Terkadang aku hanya memandangi langit lalu menatap Kyuhyun yang tidur tiduran menikmati langit sore hari
“Hei Sungmin” panggilnya tiba tiba
“Hmm”
“Apa lukamu masih sering sakit?”
Aku menggeleng pelan, “tidak—luka ini bahkan aku tidak sadari lagi. Terlalu lama sih mengendap jadi aku sudah biasa saja” jawabku jujur
“Oh…” Kyuhyun membuka kedua matanya lalu berdiri tegap sambil merenggangkan tubuhnya, “Kurasa mereka sudah tidak mengintip kita lagi—ayo biar kuantar kau pulang” katanya sambil menarik tanganku. Aku menurut saja di antar oleh Kyuhyun hingga ke depan rumah kecilku
“Terima kasih” kataku tulus. Sebelah wajahku yang rusak tertarik seketika—membuatnya jauh lebih mengerikan bila di lihat dari dekat
Anehnya Kyuhyun biasa saja menatapku, “sama sama—ingat masih ada 6 hari lagi”
“Baik!”
Kami pun berpisah. Dan lagi lagi Umma menyambutku berlebihan. Ia mengelus rambutku—merasa bangga sebelum menyentuh luka di wajahku itu, “sabarlah Sungmin….sebentar lagi…” bisiknya lembut, “dan kau tidak akan malu berjalan bersama sama Kyuhyun…”
“Tidak usah buru buru Umma…” aku menggandeng tangannya yang kasar masuk ke dalam rumah, “aku bisa menunggu kok”
Aku berusaha menahan semuanya seorang diri. Bagaimana bisa aku membiarkan kebohongan ini berjalan terus?? Apa aku tega melihat wajah ceria Umma menghilang lalu berganti kesedihan ketika mengetahui kalau Kyuhyun hanya memanfaatkanku saja?
Aku harus bagaimana Tuhan……
______________________________________________
“Kenapa kau baca buku kedokteran, memangnya kau bercita cita menjadi dokter” tanyaku mengajak Kyuhyun mengobrol
Hari kedua kami berpacaran yang lagi lagi berada di taman belakang sekolah, Kyuhyun membawa sebuah buku tebal tentang kedokteran kemudian langsung tenggelam membacanya tanpa memperdulikan kehadiranku di sini
Aishh tahu begini aku pulang saja tadi. Gerutuku
“Hmm” Kyuhyun mengedikkan bahu sekilas, “aku mulai tertarik—habis buku ini lebih menarik ketimbang game PS” Setelah menandai salah satu halaman. Kyuhyun menengadah menatap mataku, “Aku heran….kenapa kau mau saja sih di ajak taruhan? Apa ini semua hanya gara gara uang saja?”
Posisi dudukku berubah gelisah, “Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu kan” elakku
“Bagaimana kalau harus?” katanya setengah mengancam
“Kau memang mau tahu urusan orang ya” ejekanku tidak dihiraukan oleh Kyuhyun. Ia masih saja menatapku lekat sambil menunggu jawaban dariku, “Ah baiklah…aku memang sengaja meminta uang dari hasil taruhan anak anak karena aku sedang menabung operasi wajahku” kataku seraya menepuk nepuk pipi sebelah kiri yang cacat
“Bukankah Adjumma juga…”
“Iya aku tahu!” sanggahku cepat, “tapi aku tidak mau merepotkan Umma lagi….jadi aku juga menabung sejak lama, kalau wajah ini tidak ada lagi mungkin saja tidak ada orang yang mencemoohku, aku tidak akan kesulitan mendapatkan kerja….dan Umma tidak usah malu punya anak cacat sepertiku….” Mataku menerawang kejauhan, “banyak kepahitan yang harus kujalani selama luka ini masih ada di wajahku”
Kyuhyun berdiam diri agak lama—mencerna ucapanku yang panjang, “tapi…lukamu tidak seburuk itu kok, tidak semengerikan jika di lihat sedekat ini”
Sebelah tangan Kyuhyun terulur lalu menyentuh seluruh luka kasar di wajahku, “benar benar tidak mengerikan…sungguh…” katanya entah tulus atau ini bagian dari sandiwara kami untuk menyakinkan teman temannya bahwa kami memang betul berpacaran. Entahlah
“Ah lebih baik kita pulang—mereka pasti sudah tidak mengawasi kita lagi” kataku mengalihkan pembicaraan selagi pendanganku berkeliling mengamati taman yang terlihat kosong
Tangan Kyuhyun tersentak ketika mendengar penolakanku sebelum ia menarik kembali tangannya dan ikut berdiri bersamaku, “Iya…mereka sudah pulang”
“Hahahaha…teman temanmu aneh sekali, kalau aku jadi mereka, aku pasti tidak mau di suruh mengawasimu meski selama setengah jam sekalipun” kelakarku sambil menjenjeng tas ke belakang pundak
“Entahlah, mereka memang suka aneh aneh” jawab Kyuhyun singkat
Kami berdua berbincang bincang sejenak—membahas mereka sebelum akhirnya berhenti di depan rumahku
“Kau belum bercerita tentang teman temanmu?” tanya Kyuhyun masih berdiri di samping pagar rumahku
Aku menggeleng cepat, “Aku tidak punya teman Kyuhyun” padahal aku sudah terbiasa dengan keadaan ini tetapi ketika melihat Kyuhyun memandangku iba. Wajahku tiba tiba tertunduk gugup—aku paling benci harus di kasihani orang lain!
“Berarti aku temanmu satu satunya” jawab Kyuhyun pelan
Jelas saja aku langsung tertawa terbahak bahak mendengar ucapannya barusan, “Kyuhyun kau bukan temanku—kita hanya saling mencari keuntungan, simbolis mutualisme…ingat pelajaran biologi?” kataku memakai perumpamaan, “dan teman tidak seperti itu” tambahku pahit
Ya, aku tidak boleh berharap lebih dari Kyuhyun. Aku membutuhkan uang dan ia membutuhkan kemenangan atas taruhannya.
See? Hubungan kami jauh lebih dangkal dari apapun
“Oh~ baguslah kau bisa mengingat semuanya dengan jelas” Kyuhyun memandangku datar, menggelengkan kepalanya sejenak lalu berjalan kembali ke arah jalan besar, “sampai besok Sungmin! Ingat masih ada 5 hari lagi!!” teriaknya dari jauh
“Iya!!!” balasku kencang sebelum masuk ke dalam rumah
Sebenarnya aku harus benar benar mengakui—kalau hubungan kepura puraanku dan Kyuhyun tidak seburuk yang aku kira. Ternyata taruhan Kyuhyun dan teman temannya agak menyenangkan daripada bayanganku selama ini
EH? Kau berpikir apa sih Sungmin! Ingat kau hanya menginginkan uang itu! Tidak lebih!!!
“Arghh, mungkin aku harus mandi untuk mendinginkan kepalaku” ujarku dengan malas
*****
“Ini apa?”
“Ng ini bekal Umma untukmu—dia tahu kita sering bertemu setiap pulang sekolah jadi ia memberikan ini untukmu” kataku sambil menyerahkan satu kotak makan kepada Kyuhyun
Segera Kyuhyun membuka tutup tempat makan dan ia agak…er…terkejut melihat lauk pauk yang berjejer rapi di sana. Pandangannya beralih ke tempat makanku, “Sepertinya bekal makan kita tertukar Sungmin, ini pasti untukku” ujarnya merasa pede seraya satu tangannya menarik bekal milikku
Aku berbalik mencengkram tempat makan itu kuat kuat, “Tidak! Umma memang memberikanmu itu!! Ini punyaku Kyuhyun!!” erangku agak kewalahan karena tenaga laki laki Kyuhyun
“Tidak!” tolaknya, “Jelas jelas isi bekal ini untukmu, lihat telur asin, nasi lembek dan sayur cincang!! Sementara isi bekalmu tempura dan ayam goreng? Aishh berikan tidak!!” bentaknya tidak mau menyerah juga
Aku saja sampai menganga lebar—kenapa Kyuhyun jadi kekanak kanakkan begini sih!
“Tapi—“
“Tidak ada tapi tapian!!” potongnya kembali, “Ini untukku!!” dengan satu tarikan kuat akhirnya Kyuhyun berhasil menukar tempat makan kami meski aku terus menatapnya tajam.
“Aku tidak suka telur asin Kyuhyun! Umma tahu itu! Tapi kenapa ia masih menaruhnya di bekalku!!” protesku masih saja mengaduk aduk makananku tanpa minat sementara Kyuhyun mulai lahap memakan satu persatu bekal yang seharusnya menjadi milikku!
“Karena..” Kyuhyun berbicara dengan susah payah menggunakan mulut penuh makanan, “Telur asin mudah di cerna untuk bibirmu yang setengah kaku, lihat saja bekal itu—semua makanan lembut dan tidak perlu kerja otot bukan? Umma mu sangat perhatian mengenai hal itu! Kau saja yang tidak tahu” jelasnya panjang lebar
Benar juga, selama ini Umma tidak pernah memberikanku makanan berat seperti goreng gorengan. Aku pasti butuh waktu setengah jam hanya untuk menghabiskan satu potong ayam goreng—sama seperti yang di makan Kyuhyun sekarang
“Tapi aku sudah lama tidak makan enak” aku memandang nafsu ke ayam goreng di tangan Kyuhyun, “aku mau mencobanya juga”
“Kau mau?” kata Kyuhyun mengangkat ayam goreng mendekatiku
Aku mengangguk cepat
“Sebentar” Kyuhyun berhenti mengunyah lalu memilah milah bagian ayam hingga menyisakan daging yang sudah ia suir sampai bagian terhalus lalu memberikannya kepadaku, “Buka mulutmu” perintahnya
Spontan aku membuka mulutku pelan pelan kemudian membiarkan Kyuhyun menyuapiku dari depan, “Hmm…” gumamku sambil menelan daging ayam dengan mudah
“Enak kan?” godanya
“Enak!” jawabku senang, “sudah lama aku tidak makan enak….hmm…..” Setelah merasa terpuaskan akhirnya aku mau menghabiskan bekal Umma dan memakannya dalam diam bersama sama Kyuhyun
______________________________________
Betapa aku membenci untuk mengakui semuanya ini. Tapi benar, aku begitu menikmati kebersamaanku dengan Kyuhyun. Aku benar benar kembali menjadi diriku lagi di depannya. Tidak ada kepura puraan dan tidak ada sikap dingin
Salahkah aku berharap ada sedikit kemungkinan sedikit saja aku menjadi temannya saja? Tidak lebih—aku tentu tidak berharap ia juga punya perasaan aneh sama sepertiku bukan. Tidak! Aku hanya ingin kami selalu bercanda tawa setiap pulang sekolah, membicarakan segala sesuatu tanpa rahasia dan bisa berbagi bekal buatan Umma
Aku bahkan berpikir tidak masalah aku tidak mendapatkan uang 500.000 won itu asal bisa terus seperti ini bersama Kyuhyun….
Andai saja…
Tetapi ternyata waktu malah menjadi penjawab dari keputusasaanku
Hari terakhir pertaruhannya terjadi juga…
“Tidak terasa ya sudah seminggu kita berpura pura” kata Kyuhyun saat kami berada di taman dekat rumahku. Ini kan hari minggu jadi kami tidak mungkin bertemu di tempat biasa, “Aku benar benar berterima kasih karena kau mau melakukannya denganku—meski ya kau menginginkan uangnya, tapi aku tetap mengucapkan terima kasih”
Uang? Aku malah tidak begitu tertarik sekarang. Terkadang ada sesuatu yang tidak bisa di beli oleh uang
Yaitu teman…. ataupun cinta…
“Iya…sama sama” jawabku kaku. Entahlah, aku tidak mau berkata banyak banyak—takut aku bisa menangis tiba tiba di depannya nanti
“Ng…Sungmin” bisik Kyuhyun berjalan mendekatiku yang duduk di bangku taman. Ia pun ikut duduk dan memandangku lekat lekat, “Apa kau mau mengatakan sesuatu padaku?” tanyanya pelan
Mengatakan sesuatu? Banyak sekali yang ingin aku katakan padamu Kyuhyun. Aku ingin bilang jangan pergi, jadilah temanku. Teman yang ada di belakang sekolah, menemaniku selama 30 menit, berbicara apa saja tanpa rasa jijik melihat wajahku yang separuh rusak.
Aku membutuhkanmu Kyuhyun….
Tapi kenyataannya aku malah menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Kyuhyun
“Hmm, baiklah—kalau kau tidak mau mengatakan sesuatu, biar aku yang mengatakannya” Perlahan lahan Kyuhyun merubah posisi duduknya, menyamping lalu menarikku menatapnya dari dekat, “Bolehkah aku menciummu untuk terakhir kali?” pintanya
“AH?” Terang saja aku terkejut, “Memangnya itu bagian dari taruhanmu juga?” ulangku masih tidak percaya
Kyuhyun menyunggikan senyum terpaksa, “Iya—maaf baru memberitahumu hari ini. Aku bilang kalau aku akan menciummu di hari terakhir sebagai kado perpisahan” tambahnya lagi, “bolehkan?”
“Tidak…” kataku menepis tangannya dari kedua sisi wajahku, “Kau tidak boleh menciumku Kyuhyun, jangan…” suaraku berubah parau sambil terus menggeleng lemah di depannya
Dahinya berkerut bingung, “kenapa?”
“Tidak ada apa apa…hanya saja jangan….” Bisikku memohon
Tapi penolakanku di anggap angin lalu oleh Kyuhyun. Tangannya tetap merengkuh wajahku lebih dekat, kedua matanya mulai meredup dan menutup jarak di antara bibir kami—tidak peduli jika bibirku yang separuh cacat itu bergetar hebat
Kyuhyun menciumku. Ia benar benar menciumku walau aku tidak membalas ciumannya. Kedua tangannya berpindah ke punggungku, membawa tubuhku ke dalam pelukannya tanpa melepaskan ciuman kami
Saat itu juga pertahananku runtuh. Bibirku bergerak ragu ragu di bibir Kyuhyun. Pikiran nalarku sudah menghilang entah kemana. Dan rasa egois itu kembali muncul
Aku benar benar tidak mau kehilangannya….
Tanpa ia sadari, air mataku mulai turun, membasahi sebagian wajahku turun hingga ke sudut bibir. Hingga tak sengaja Kyuhyun mengecapnya lalu tersentak menjauh…
Ia melepaskan bibirnya untuk menatapku lebih jelas, “kau menangis….”
Aku tidak bisa menjawab apapun. Air mataku terus saja turun tanpa bisa berhenti—menatap wajah Kyuhyun sedekat ini malah membuatku semakin susah melepaskannya. Cepat cepat aku menghapus jejak air mata sebelum berdiri tegap di depannya, “Ambil saja uang itu Kyuhyun—aku tidak membutuhkannya lagi” setelah mengatakan itu, buru buru aku berjalan cepat keluar taman tapi ternyata Kyuhyun dengan gesit sudah menahanku dari belakang
“Kau kenapa? Bukankah itu sudah perjanjian kita? Besok akan kuberikan uangnya padamu” jelas Kyuhyun bersikeras
“Aku tidak mau!!!” teriakku sambil berbalik menghadapnya, “Sudah kubilang aku tidak mau!!! ambil saja uang itu untukmu!!!”
“Kenapa kau tidak mau?? Ha? Bukankah kau memang menginginkan uang!” balasnya penuh penekanan kata per kata. Sepertinya emosi Kyuhyun ikut terpancing melihat sikapku yang mendadak berubah drastis
“Maaf Kyuhyun….aku…aku memang membutuhkan uang, tapi tidak untuk kali ini…aku—“
“Katakan Sungmin!” potong Kyuhyun sambil berjalan mendekatiku yang sudah ada di ujung pintu luar taman, “Katakan apa yang harusnya kau ucapkan dari tadi” ulangnya agak aneh menurutku. Memangnya apa yang harus aku katakan?
“Kenapa kau tidak menginginkan uang itu?”
“Aku—“
“Kenapa kau malah menangis tadi?”
“Kyuhyun—“
“Kenapa akhirnya kau mau membalas ciumanku?”
Terus saja Kyuhyun memojokkanku dengan segala perkataannya yang jujur saja—aku takut menjawabnya. Bagaimana reaksinya dan teman temannya yang sedang mengintip kami dari tadi kalau tahu aku malah mengaku telah jatuh hati padanya. Apakah dia mau menerimaku bukannya malah mengolok olokku sebagai bahan ejekan?
“Jawab Lee Sungmin, jawab saja!” suara berat Kyuhyun berhasil menyatukan kembali pikiranku. Aku bahkan tidak menyadari kalau lagi lagi—Kyuhyun memojokkanku pada dinding gerbang taman dengan kedua tangannya, “Katakan satu saja tentang perasaanmu…..dan semua akan berubah” bisiknya sambil mengelus bagian wajahku yang rusak
“Berubah?” aku mendengus tidak percaya, “apa kau yakin tidak lari terbirit birit dan mengejekku?”
“Coba saja” tantang Kyuhyun semakin menghimpitku sehingga aku tidak bisa lagi mengelak dari tatapannya, “Katakan Sungmin, katakan saja….”
Dan begitu kedua mataku bertemu dengan kedua mata Kyuhyun, aku tahu aku tidak bisa berbohong lebih lama lagi, “Aku menyukaimu Kyuhyun” kataku terlalu jujur
Mendengar itu, sudut bibir Kyuhyun mengembang sempurna—membentuk sebuah senyum lebar, bukan! Bukan senyum mengejek seperti teman temannya. Namun senyum bahagia yang belum pernah aku lihat sebelumnya
Apa aku sedang bermimpi Tuhan? Lelaki ini masih tersenyum padaku walaupun aku sudah menyatakan perasaanku??
“Nah akhirnya kau bisa juga mengatakannya” desah Kyuhyun merasa lega, “kenapa harus begitu lama sih! aku hampir saja menahanmu kalau saja masih keras kepala” katanya ringan—tidak peduli kalau raut wajahku masih tidak mengerti, “Kau….”
“Aku juga mencintaimu Sungmin” tuturnya tulus. Di angkatnya tubuhku ke dalam pelukannya sampai sampai kaki terangkat sepenuhnya dari tanah.
Tubuhku menghangat saat mendengar itu. Aku menahan berat tubuhku dengan balas memeluknya, “Aku kira kau…..eh? bukannya kau taruhan dengan temanmu!!!” kataku baru menyadari sesuatu yang ganjil
Kyuhyun hanya menggeleng samar samar dari balik pundakku sebelum berjalan keluar dari taman, “EH! Kau mau membawaku kemana!!” erangku sedikit malu melihat orang orang di jalan menatap jengah ke arah mereka berdua. Apalagi saat mereka menyadari sebagian wajahku yang rusak permanen. Aku terpaksa menyembunyikan wajahku dalam pelukan Kyuhyun agar tidak terus di tatap oleh mereka
“sudah biarkan saja….jangan memperdulikan mereka” bisik Kyuhyun tetap menggendongku dengan sebelah tangannya selagi aku menunduk malu di dadanya
Kami akhirnya sampai di depan rumahku. Di sana, Kyuhyun menurunkanku, mengelus sekali lagi wajahku lalu tersenyum manis
Tuhan, tolong yakinkan aku kalau ini semua bukan hanya mimpi sesaat….
“Besok aku akan menjemputmu ke sekolah, kita akan makan bekal sama sama lagi, dan aku akan bersamamu setelah pulang sekolah…..aku berjanji Sungmin” katanya masih terus menatapku tanpa rasa bosan.
Sebagai jawabannya aku hanya bisa mengangguk pelan
“Bagus….” Ia mengacak acak rambut pendekku, “Sana masuk ke dalam, sudah sore” suruhnya hendak mendorong tubuhku kalau saja aku tidak menarik tangannya, “Kyuhyun—berjanjilah padaku ini bukan termasuk taruhanmu lagi? Kau serius—“
SREETTT
Kyuhyun kembali menarikku ke dalam pelukannya sebelum berpindah mencium satu persatu bagian wajahku yang cacat itu. Saat berhenti di sudut bibirku, Kyuhyun menatapku dalam dalam. Ada berbagai perasaan yang bercampur aduk dalam tatapannya—sesuatu yang membuatku yakin kalau Kyuhyun memang tulus menyukaiku
Hampir lama kami bertatapan hingga akhirnya Kyuhyun melepaskanku—berdiri tegap kemudian memberi jarak di antara kami, “Besok aku jemput, jangan bangun kesiangan. Sana cepat istirahat!!!” suruhnya sekali lagi
Aku masih belum beranjak di hadapannya, “Bagaimana kalau besok pagi aku tidak menemukanmu lagi?” kataku
“Aishh—kau betul betul tidak percaya padaku ya??” tanya Kyuhyun setengah kesal setengah gemas
“Hahahahaha” mendadak aku terdiam, “tidak” kataku lugu
“Baiklah Sungmin bagaimana kalau kita bertaruh??” katanya sambil berkacak pinggang di depanku, “Kalau besok aku tetap datang di depanmu hingga seterusnya sampai kita lulus sekolah, kau akan memberikanku apa?”
“Aku akan..” Aduh, aku tidak punya uang cukup banyak untuk mengajak Kyuhyun taruhan
“Aku tidak butuh uang” katanya seolah olah bisa menebak jalan pikiranku
“Lalu kau mau apa???” apalagi yang bisa aku pertaruhkan kecuali uang, aku akan tidak punya harta berharga sama sekali
“Hmm…aku mau…” Perasaanku campur aduk ketika Kyuhyun merunduk untuk membisikkan sesuatu di telingaku. Sesuatu yang membuatku terlonjak tidak percaya sebelum memukul tubuhnya dari dekat, “Ya! Ku bilang jangan bercanda Cho Kyuhyun!!!” teriakku kencang
“Hahaha—sayangnya aku tidak bercanda” Ia tersenyum lebar sekali lagi sebelum berlari menjauh, “Kita lihat saja besok Sungmin!! Kau akan kalah!!!”
“Belum tentu” aku menjulurkan lidah—sambil membalas senyumnya. Meski yah, harus kuakui wajahku merah merona mendengar taruhan yang diminta Kyuhyun…..dan untuk kali ini, aku rela jika sekalipun harus kalah dengannya
Yah, aku benar benar rela
“Kita lihat saja Kyuhyun…” pekikku tertawa kecil ketika masuk ke dalam rumah kecilku yang damai
THE END
Gw ga tahu harus bicara apa lagi, please....kasih gw sekedar komen dari kalian.....hanya itu yang membuat seorang author bisa terus bertahan
Rabu, 03 Agustus 2011
Beauty (or) The Beast?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
dsar kyu...
BalasHapuskyu lgi kyu lgi...
hehehehe....