Minggu, 02 Februari 2014

[ Repost ] ≍Mystery of Christmas≍

≍Mystery of Christmas≍

Nan jauh di sana—di sebuah negara tepatnya di Korea Selatan, salju tampak memenuhi jalan. Bunyi dentang bel terdengar di mana mana Memang itu tidak mengherankan mengingat nuansa natal yang sedang bergema sejak pagi tadi Setiap keluarga saling berkumpul berbagi sukacita atau sepasang muda mudi tampak berjalan jalan menghabiskan waktu natal berdua saja dan lain lain Tidak terkecuali…

“Ayo kalian tidur!” perintah seseorang saat ia membuka pintu kamar di lantai atas rumahnya, “Sudah malam, besok saja kalian membuka hadiah Appa dan Umma, ayo…” bujuknya lagi “Ne Umma” Dua bocah berusia 5 tahun menyahut sambil berlari gembira melompat ke atas kasur, sesosok lelaki yang menyusul di belakang tertawa melihat tingkah mereka “Hati hati nanti jatuh” bisik Ibunya setengah menegur, tapi matanya melembut saat menaikkan selimut tebal agar menyelimuti kedua anaknya, “Selamat malam Sung—“ “Umma kami belum mau tidur” protes salah seorang dari mereka tepat ketika Ibu mereka hendak mencium keningnya “Belum mau?” Dahi Ibunya berkerut tidak suka, “Ini sudah malam! Umma mau kalian tidur” ia mengulangi perintahnya “Tapi Umma, kami maunya di bacakan dongeng dulu” sahut anak lain yang membela saudaranya, karena tidak lama anak itu mengangguk setuju, “Iya Umma, dongenggggggg” rengeknya manja “Aishh kalian ini, umma kira apa” Ibunya tersenyum lembut, “Kalau hanya dongeng bukan masalah, sebentar Umma ambil dulu buku cerita—“ Langkahnya bangun dari sisi ranjang terhenti begitu mendapati suaminya tersenyum lalu mengajaknya lagi duduk, “Kau saja yang mengarang, aku yakin anak kita sudah bosan baca cerita klasik” “Iya Umma kami sudah bosan! Umma saja yang mengarang ceritanya” kata kedua anak itu mendukung ide absurd Appa mereka Sosok Ibu itu menggerutu pelan sambil memandang tajam suaminya, darimana dia bisa mengarang? Dia bukan penulis dalam bidang apapun, termasuk cerita anak anak! “Ayolah” Rayu suaminya lagi, melihat seringai lelaki di depannya yang mencurigakan tiba tiba menimbulkan ide cerita cemerlang di pikiran sang Ibu “Baiklah, Umma punya satu cerita” desahnya menyerah sambil duduk di sebelah ranjang “Yey” dua anak itu bersorak riang “Ayo cerita!! Cerita!!” sang suami masih memprovokasi, dia malah ikut terbaring entah sejak kapan—melesak di tengah kedua anak mereka “Awas kau” Istrinya memberi tatapan mengancam, tapi senyum keibuannya mereka kembali karena tidak tahan melihat binar di mata kedua anaknya “Karena sekarang hari natal, Umma akan cerita tentang kedua anak yang akan mendapatkan hadiah natal dari Santa Claus” itu kalimat awal Ibunya

Dua saudara itu saling bertatapan antusias, “Sama seperti kita! Dapat hadiah juga!” gumam mereka tanpa mau mengganggu cerita Ibunya “Nah pada suatu hari, di sebuah tempat nan jauh di Korea sana….” Sosok itu mulai bercerita, semua mulai mendengarkan dengan seksama—termasuk suaminya yang entah kenapa ikut tertarik menyimak
___
Ada dua anak kecil—seusia kalian, yang kemungkinan tidak mendapatkan hadiah natal dari Santa Claus “Mengapa mereka tidak mendapatkannya Umma?” tanya sang anak Ibunya hanya mengulum senyum penuh rahasia saat melanjutkan ceritanya Kedua anak itu saling bertolak belakang tanpa tahu sifat mereka membuat sang Santa perlu menimbang ulang untuk memberikan mereka hadiah natal

Anak pertama bernama Cho Kyuhyun, dia itu anak nakal! Sering sekali membuat teman sebayanya menangis keras dan tidak jarang Kyuhyun juga merusakkan mainan anak anak lainnya Santa jelas memasukkan nama Kyuhyun dalam daftar hitamnya pada malam natal “Lalu anak yang satu lagi Umma?”

Anak yang satu lagi bernama Lee Sungmin. Sebetulnya anak itu bukanlah anak yang jahat—malah dia mendapat predikat anak yang terlampau baik
Sangat
“Lah kalau begitu kenapa dia tidak mendapat hadiah Umma, itukan tidak adil!” protes anaknya satu lagi sambil merengut kesal Sang Ibu yang sedang bercerita hanya tersenyum senang karena kedua anaknya menikmati dongeng sederhananya meski ia perlu usaha keras menghindar dari tatapan suaminya yang penuh arti
Sungmin memang baik, namun kebaikannya malah berdampak buruk bagi orang lain. Contohnya saat seorang anak ingin menangkap kupu kupu untuk di pelihara, Sungmin membantunya dengan menangkap kupu kupu itu menggunakan tangan kosong dan seperti yang bisa di duga, Kupu kupu itu mati sebelum bisa di serahkan

Temannya menangis keras sementara Sungmin hanya bisa memandang nanar, ia kira ia bisa membantu temannya namun hasilnya ternyata… Belum lagi ketika salah seorang teman perempuannya meminta Sungmin memotong sedikit ujung rambutnya, saat mereka bermain salon salonan. Namun tak di anyal, Sungmin malah bersemangat memotong hampir seluruh rambut temannya itu Kalian tahu? Anak perempuan itu menjerit di sela isak tangisnya melihat rambutnya nyaris gundul di tangan Sungmin
“Hmmphhh” suaminya tampak menahan tawa sambil menutup mulutnya kuat kuat. Ia melayangkan tatapan minta maaf saat ketiga pasang mata menoleh tidak suka padanya “Aku tidak apa apa, silahkan lanjutkan” katanya mengembalikan fokus anak anak kepada Ibunya

Sang Ibu bercerita lagi

Melihat kedua anak itu Santa merasa sedih. Dia tidak ingin ada satupun anak yang tidak mendapatkan hadiah natal seberapapun nakalnya mereka Para Elf tadinya sudah membujuk Santa agar tidak memberikan Lee Sungmin dan Cho Kyuhyun hadiah natal ini, mungkin natal tahun depan, hibur mereka

Namun Santa berkata lain. Ia menatap layar halus di depan kantornya yang menampakkan sosok Kyuhyun ketika tertunduk menyesal melihat sahabat karibnya juga menangis akibat ulahnya Kyuhyun ternyata tidak senakal yang orang pikirkan
Sungmin juga begitu

Ia berulang kali meminta maaf pada teman temannya walaupun bisa kalian tebak, hampir semua dari mereka tidak mau berdekatan lagi dengannya Tapi bagaimanapun, Santa bisa melihat penyesalan dalam sikap Sungmin dan Kyuhyun. Santa bisa melihat kebaikan dari diri mereka Maka dari itu, Santa mengambil keputusan lain, kedua anak itu harus tetap di beri hadiah! Agar mereka berdua menjadi lebih baik lagi tahun depan

Sebagian Elf—utusan Santa, tidak setuju. Kata mereka, itu tidak adil bagi anak anak lain yang sudah menjadi anak baik setahun ini. Sungmin dan Kyuhyun harusnya di hukum dengan tidak mendapat hadiah untuk memperbaiki sifat mereka berdua Santa kembali berpikir keras, tak lama kemudian ia berkata sekali lagi pada para utusannya, ‘Bagaimana kalau begini saja—aku akan tetap memberikan mereka hadiah tetapi hanya satu! Kyuhyun dan Sungmin menjadi satu paket. Mereka harus berbagi hadiah itu sebagai pengalaman mereka untuk bisa berteman secara benar’

Para Elf tidak bisa tidak setuju lagi. Santa selalu tahu yang terbaik bagi setiap anak. Sambil tersenyum penuh pengertian, Elf mengangguk setuju kemudian pergi ke pabrik yang sangat besar untuk membuat satu hadiah tambahan

Satu hadiah berkotak sedang, di bungkus kertas merah warna natal dengan tulisan jelas di pinggir kanannya

Kepada Lee Sungmin dan Cho Kyuhyun Di tempat

“Tapi…” Anaknya membuka suara—interupsi, “Bagaimana mereka bisa membagi satu hadiah itu bersamaan? Memangnya mereka kenal baik Umma?” tanyanya polos

Seakan baru tersadar, sang Ibu buru buru menambahkan, “Itu… ngg mereka sebenarnya bertetangga! Iya bertetangga!” katanya mendapatkan ide mendadak, “Namun Kyuhyun tidak mau berteman dengan Sungmin karena sudah sering mendengar sifat Sungmin begitu juga sebaliknya, Sungmin tidak mungkin mau bermain bersama Kyuhyun”

Lalu hadiah itu di kirim saat malam natal tiba. Kyuhyun dan Sungmin yang sudah tidur terlelap di kamarnya tidak tahu jika nanti pagi ada sesuatu hadiah kejutan menunggu mereka Santa tersenyum puas saat meletakkan hadiah itu, “Merry Christmas Cho Kyuhyun dan Lee Sungmin” ucapnya sambil menaruh hadiah itu tepat di batas pagar rumah keluarga Cho dan juga keluarga Lee

Santa kembali pergi dengan kereta kudanya—sibuk membagikan hadiah natal sementara pagi mulai menjelang dan hari itulah di mulai pertengkaran pertama antara Kyuhyun dan Sungmin

“Ini punyaku! Tidak lihat ada namaku di atasnya!” “Tidak juga! Kau harus lihat namaku duluan yang di tulis! Jadi hadiah ini untukku!”

Mereka saling bersahutan sambil menarik kasar hadiah itu begitu bangun pagi harinya. Kyuhyun dan Sungmin sama sama tidak mau mengalah, mereka saling menarik keras seolah ingin memonopoli hadiah tersebut
“Punyaku!”
“Tidak itu punyaku!”

“Aishhh, perkiraanku salah” Santa yang melihat dari atas sana, menggeleng sedih. Hatinya terkoyak saat melihat tidak ada kasih sama sekali di antara Kyuhyun dan Sungmin Mereka masih egois dan mempertahankan sifat buruk keduanya
“Kau! Pokoknya aku duluan yang menemukannya!” kedua tangan Kyuhyun menarik kado itu lebih kencang sehingga Sungmin terhuyung ke belakang Seakan itu tidak cukup, Kyuhyun pun mendorong tubuh mungil Sungmin hingga terjatuh

BUG
“Aw” Sungmin meringis kesakitan. Ia tertunduk—menyembunyikan wajahnya yang mulai penuh air mata
“Huaaaa kasian sekali Sungmin itu….. hiks….” Salah satu anaknya terisak ikut terbawa suasana, saudarnya yang melihat itu langsung merangkulnya, “Cup jangan sedih” hiburnya lalu menengadah menatap Ibunya, “Umma lanjutkan ceritanya, biar Jonggie tidak sedih lagi” unjuknya pada saudaranya itu
“Iya jangan menangis sayang~ Sungmin tidak apa apa kok” Ibunya menepuk lembut pundak sang anak sebelum bercerita kembali Kyuhyun tertegun mendapati Sungmin masih tidak bangun dari jatuhnya Ia mulai tampak ketakutan
‘Kau tidak apa apa?” tanyanya ragu
Sungmin tidak mau menjawabnya. Ia terus merunduk—malu kalau sampai ketahuan menangis oleh Kyuhyun, pasti dia akan meledeknya lagi Santa pun berpikir hal yang sama. Rasa kecewanya tidak terbendung lagi. Kenapa dari awal dia terlalu baik hati sehingga memberikan hadiah yang malah berujung perpecahan bagi Kyuhyun dan Sungmin

Istrinya itu tampak serius sekali bercerita sampai sampai tidak sadar jika suaminya terus menatap intens penuh arti
Namun tidak di sangka sangka, keajaiban itu terjadi Kyuhyun yang memang dasarnya memiliki kebaikan hati, ikut terduduk lalu mengulurkan tangannya ke arah Sungmin “Ma..maafkan aku” ujarnya separuh berbisik “Eh?” Sungmin mengangkat wajahnya yang sembab, “Apa tadi kau bilang??” tanyanya tidak percaya Bagaimana mungkin seorang Kyuhyun bisa minta maaf! Dunia pasti sudah terbalik! Pikir Sungmin
“Tidak berlebihan begitu kok” sekarang giliran sang Appa yang memotong jalannya cerita, semua orang melihat kearahnya, “Apa? Aku benarkan? Kyuhyun tidak mungkin seburuk itu kok!” belanya
Sang istri hanya bisa memutar kedua bola matanya, “Umma lanjutkan ceritanya saja…”
Kembali keluarga mungil itu terhanyut pada suara sang Ibu Sungmin masih bengong tidak bergerak hingga Kyuhyun jadi salah tingkah sambil memalingkan wajahnya, “Kau tidak dengar apa? Maaf! Aku mau minta maaf!” seru anak itu

“Hiks..” suara Sungmin masih serak, tapi ia bisa melihat ketulusan Kyuhyun meminta maaf. Sehingga tidak mengejutkan kalau Sungmin membalas uluran tangan Kyuhyun

“Aku memaafkanmu” balas Sungmin sambil mengguncangkan kedua tangan mereka yang berpegangan Kedua mata Kyuhyun akhirnya berani menatap ke depan—Sungmin juga tulus memaafkannya, membuat rasa bersalah Kyuhyun meluap dan berganti rasa hangat

“Kalau begitu, nih” Kyuhyun mengulurkan kado itu juga ke arah Sungmin, tangan mereka sudah saling terlepas, “Ini untukmu saja, sebagai tanda permintaan maafku”

Kembali, Sungmin dibuat tidak berkata kata oleh sikap baik Kyuhyun “Tapi—“

“Tidak apa apa, untukmu saja” Kyuhyun sudah menaruh kado itu ke pangkuan Sungmin, ia sudah mau bangkit berdiri saat lengan mungil Sungmin malah menahannya, “Aku tidak mau Kyuhyun, buatmu saja! Tidak apa apa” Sekarang giliran Sungmin merasa kalau Kyuhyun berhak atas hadiah itu

Kyuhyun menoleh malas, “Aku sudah memberikannya padamu, tidak apa apa Sungmin, itu buatmu” katanya memberi penekanan Tapi Sungmin masih menggeleng keras kepala, “Aku tidak mau menerimanya, ambil saja Kyu—aku tidak akan marah, serius!” janji Sungmin mengangkat kedua jarinya ke atas

Melihat itu Santa tersenyum penuh haru. Ia mendekap mulutnya saat menyaksikan bagaimana perkiraannya kali ini memang tidak salah Kyuhyun dan Sungmin memiliki kebaikan hati yang terkubur di dalam sikap nakal mereka

Kebaikan hati itu selalu ada pada setiap orang

Itu yang di percayai Santa

Dan ketika Kyuhyun serta Sungmin malah saling mendorong kotak kado itu—untuk di berikan satu sama lain, Santa berpikir saatnya untuk ikut campur

Santa lalu turun dari atas—dari singgsananya kemudian berubah penampilan menjadi sosok pria tua yang tidak sengaja lewat, ia berhasil memberhentikan pertengkaran Kyuhyun dan Sungmin

“Hei daripada kalian saling melempar kado itu satu sama lain, kenapa tidak kalian bagi dua saja isinya—bukankah itu lebih adil” usulnya tanpa basa basi Sungmin yang sedang memegang sisi kado kanan sementara Kyuhyun memegang sisi kiri, terdiam seribu bahasa menatap orang asing di depannya
“Bagaimana?” ulangnya sambil mengulas senyum tulus—senyum seorang santa tentunya sangat berdampak kuat bagi anak anak Tidak terkecuali bagi Kyuhyun dan Sungmin yang balas tersenyum sambil menaruh hadiah itu di tengah tengah mereka “Bagi saja ayo” desak sang Santa yang masih menyamar “Kau mau?” Kyuhyun meminta persetujuan Sungmin terlebih dahulu

Sungmin mengangguk bersemangat, “Itu aku setuju! Jadi kita bisa saling mendapatkan bagian!” serunya senang Sang Santa terkekeh kecil sebelum berdiri tegak, “Nah sekarang giliran kalian membukanya” Ia memberi isyarat bagi Kyuhyun untuk membukanya

Kyuhyun mengangguk ragu ragu meski ia bingung kenapa dia begitu patuh pada orang asing di depannya Tapi itu bukan prioritas baginya karena detik ini juga Kyuhyun membuka pita merah di tangannya, membuka tutup kado kemudian… “Huaaaaaa boneka tangan!!!!” pekik Sungmin gembira. Ia membantu Kyuhyun mengeluarkan dua boneka tangan yang sederhana Lelaki dan perempuan
Keduanya tampak tersenyum dalam pakaian santa mereka

“Ow wow” Kyuhyun berdecak kagum. Ia mengambil boneka lelaki yang di tinggalkan Sungmin untuknya, “Ini lucu Minnie, lihat aku bisa menggerakkan tubuhnya!!!” Jari jempol dan jari tengah Kyuhyun masuk ke dalam kedua tangan sang boneka lalu menggerakkannya lucuv Sungmin saja sampai tertawa melihat tingkah Kyuhyun

“Aku lihat dong Kyuuuuuu” giliran Sungmin memainkan bonekannya, “Dia manis sekali bukannn” puji Sungmin pada bonekannya sendiri “Hmm” Kyuhyun mengangguk setuju “Lihat bukankah ternyata hadiahnya sepasang” kata Santa yang mulai mensejajarkan tingginya dengan kedua anak itu “Iya!!!” sahut Kyuhyun dan Sungmin semakin semangat memainkan boneka baru mereka

“Nah” Santa menepuk sayang pucuk kepala Kyuhyun dan Sungmin, “Karena boneka kalian memang sepasang, itu berarti kalian harus memainkannya bersama sama—belajarlah untuk bisa bermain akur tanpa bertengkar, lihat! Kalau kalian bertengkar nanti boneka kalian sedih…” Santa menunjuk raut wajah sang boneka yang tampak datar meski kedua anak itu dengan polosnya malah percaya
“Iya! Aku janji bermain terus bersama Sungmin tanpa membuatnya menangis!” Kyuhyun meraih tangan Sungmin yang bebas lalu melayangkan senyum polosnya
“Aku juga” Sungmin membalas senyum itu, “Terima kasihhhhh Kyu” ia sengaja menggerakkan bonekanya sebagai balasan Kyuhyun dan Santa terkekeh dengan sikap Sungmin sebelum Kyuhyun membalasnya menggunakan boneka miliknya “Sama sama Sungmin”

“Hahahaha, bagus sekali!!!” Santa tampak sangat puas, “Kalian benar benar anak baik” pujinya, “Ah tapi waktuku tidak bisa lama di sini, nah Sungmin, Kyuhyun—bermainlah bersama dan ingat—“

“Selalu berbagi dan menghargai!!!” sambung Sungmin dan Kyuhyun entah kenapa bisa menebak ucapan sang Santa “Anak baik!” kata Santa nyaris parau saking terharunya, “Nah sekarang pulanglah…”
Kyuhyun dan Sungmin menurut. Masih bergandengan, Kyuhyun dan Sungmin saling memainkan bonekannya sebelum berpisah di pintu masuk namun Santa tahu ada janji tak terucap kalau mulai sekarang mereka akan menjadi sahabat selamanya…
“THE END!!!” Tutup sang Ibu

“Ssst kecilkan suaramu, mereka sudah tidur” tegur suaminya sambil menunjuk kedua saudara kandung itu terkulai lelap di lengan kanan kirinya
Sang Ibu tersenyum lagi—betapa bahagia dia kali ini. Natalnya sangatlah sempurna semenjak hadir kedua anaknya yang ia nantikan, tak anyal, tangannya bergerak menyapu poni keduanya lalu menciumnya satu persatu

“Selamat malam sayang…” bisiknya halus lalu berdiri hendak keluar dari kamar anaknya saat bunyi derak kasur menahannya di tempat “Kau mau meninggalkanku?” sungut suaminya susah payah melepaskan cengkaraman tangan anaknya Istrinya menoleh ke belakang, “Aku kira kau mau tidur di sini” guraunya

“Hahaha lucu sekali” ucapnya sakratis namun lengannya otomatis merangkul pinggang istrinya keluar kamar “Kau ternyata pintar mendongeng” bisik suaminya takut perbincangan mereka mengganggu kedua anak mereka Sang istri tersenyum malu malu, “Percaya tidak percaya aku terinspirasi saat melihatmu menyeringai” tatapannya berubah menyelidik, “Kau kan memang—“

“Iya iya! Aku menyerah” potong suaminya tidak sabaran, tangannya semakin erat merangkul istrinya mendekat, “Tapi kau tahu—aku tidak setuju dengan endingnya, kurasa Kyuhyun dan Sungmin menjadi lebih dari seorang sahabat” seringai lebar itu muncul lagi, membuat sang istri hanya mendengus pasrah

“Tetapi kan pertemuan Kyuhyun dan Sungmin memang di awali pertengkaran” belanya “Dan mereka jatuh cinta…” sambung suaminya memaksakan membuat ending dari dongeng buatan sang istri, “Lalu santa atau Tuhan menganugrahi sepasang anak kepada mereka…”

Sang suami memandang lekat lekat ke arah istrinya
Tatapan mereka berbicara lebih dari sebuah kata
Hanya dengan tatapan saja, sang istri merunduk sama seperti adegan Sungmin lalu merengkuh suaminya ke dalam pelukan “Lalu bagaimana selanjutnya” bisik sang istri menikmati rengkuhan suaminya yang begitu nyaman

Suaminya terkekeh, “Apa selanjutnya?” godanya “Kau ini!” Istrinya menggerutu sebentar, “Maksudku—“

“Aku tahu, aku tahu” sang Suami mendesah panjang, “Jalan mereka masih panjang, tak bisa di tebak” Ia merubah posisi mereka sehingga sang istri kembali berdiri tegak sebelum sang suami saling mengaitkan jemari mereka

“Tidak bisa” Sang istri berucap setuju, sekali lagi mereka menoleh sambil tersenyum bahagia—menatap buah hati mereka yang tertidur lelap kemudian menutup pintu kamar secara lembut dan tanpa suara

THE END

Read More...

Sabtu, 11 Januari 2014

What Your Response?


A-Yo~! Key here *smile*

 Although I'm nice to you, don't make me angry if you don't want to see my other side *giggles*

 I’m like mirror, if you nice to me I will nice to you but if bad to me I will… *smirk*

 I like drama~ soo make manyyyy drama in here ok?!

wanna know more? Just talk to me~ it’s okay I don’t bite

I can be a badgirl for my enemy, so don't make me angry guys ^^ but don’t be afraid, I’m nice if u nice to me too kk..

Read More...

Jumat, 05 Agustus 2011

Beauty (or) The Beast? One Shoot

Kyuhyun PoV

Lee Sungmin

Jujur aku tidak begitu mengenal dirinya. Aku tahu dia suka menjadi bahan ejekan satu sekolah kami. Perempuan dengan wajah bagian kiri rusak dan hanya bisa tertutupi oleh separuh rambutnya yang pendek. Ia tidak pernah dekat dengan siapapun. Hidupnya hanya berputar antara sekolah dan rumah. Sungguh aku memang merasa sedikit iba terhadapnya—tidak lebih

Tapi kau tahu?

Aku malah jatuh cinta padanya saat kami pertama kali berciuman

Di sanalah hidupku dan hidupnya mulai berubah perlahan lahan

*****

“Elo mau taruhan ngga??” tanya teman sekelasku sambil mengeluarkan beberapa lembar ribuan won di ikuti oleh 2 orang lain di antara kami

Aku menyeringitkan dahi—bingung, “kalian memangnya mau taruhan apa?” tanyaku sedikit tertarik lalu ikut merunduk dan mengeluarkan dompetku dari saku celana, “gw ikut deh”

Temanku itu menyeringai licik ketika melihatku memasang taruhan, “Karena lo datang belakangan berarti harus lo yang ngelakuinnya!!” katanya mengambil keputusan seenaknya saja.

“Tidak!! mana ada taruhan kayak gitu!” tolakku hendak mengambil uangku kembali tapi di tahan oleh seorang yang lain, “Eits!! Kalau lo mau ngelakuinnya Kyuhyun, gw sama temen temen yang lain bakal naikin taruhan kita jadi 30.000 won! Bersih! Gimana?? Berani ngga?” tantangnya

30.000 won?? siapa yang akan menolaknya!!

“Ok gw mau!!” kataku terang terangan, “Nah gw harus ngelakuin apa buat dapetin uang itu??” Bukannya aku sedang butuh uang atau apa—tapi rasanya menyenangkan kalau kau bisa mendapatkan uang jumlah besar dalam waktu singkat

Tapi taruhan sebesar itu pasti ada konskuensi yang harus aku jalani bukan? Aissh—jangan bilang aku harus mengempeskan ban mobil kepala sekolah atau mengecat wig hitam wali kelas menjadi biru

“Mudah kok” ucap temanku sambil bertukar pandangan jahil ke semua peserta taruhan, “Lo ngajak Sungmin—cewek cacat itu ke gudang belakang terus lo cium deh”

“HA??” Aku berteriak keras, “Apa sih lo semua! Ngga ah—masa taruhannya dia sih! ngga ada yang lain apa!” sanggahku sambil berdiri untuk kembali ke kursiku di depan meja guru

“Kyuhyun! Kalo lo ngga mau berarti lo cemen banget! Ngakunya cowok tenar satu sekolah, tapi menaklukan seorang Sungmin aja ngga bisa!” suara merendahkan mereka berhasil membuatku berpaling lalu menatap mereka satu persatu dengan sangar, “Tapi bukan cewek itu juga jadi taruhannya!!!” kataku masih keras kepala

Mencium Sungmin?? Ukhh—aku memang tidak membencinya, tapi jika harus memilih antara mengempeskan ban kepala sekolah atau mencium Sungmin, aku pasti dengan tegas memilih opsi pertama

“Ya udah kalo lo ngga mau berarti lo harus bayar kita 30.000 won juga” balas temanku enteng

“Itu juga ga mungkin!!!”

“Kenapa ngga mungkin? lo orang kaya Kyuhyun, duit segitu ngga ada artinya kan buat bokap lo! Udah kasih kita 30.000 won dan masalah selesai. Tapi..” seringaian lebar mereka kembali muncul sebelum menatapku dengan pandangan meremehkan, “Yah cukup tahu aja lo ternyata cowok lemah…..nyium seorang Sungmin aja ngga bisa, ya ga??” ujarnya memprovokasi teman teman yang lain

“Iya tuh!!! Bener!!” kata mereka saling bersahutan

Andai saja sebentar lagi bel masuk tidak berbunyi pasti satu persatu dari mereka akan kuhajar hingga babak belur!

“Mau kapan nyiumnya? Hari ini kan? Ok, nanti istirahat gw bakal ke kelasnya!!” desisku spontan

Tidak peduli bagaimanapun caranya—harga diriku di pertaruhkan di sini! Akan kubuat Sungmin datang dan menciumku nanti!

Wajah mereka berubah puas, “Nah gitu dong!! Ok! Kita tunggu pulang sekolah—dan inget! Kita bakal ngintip lo berdua supaya ngga ada kecurangan, hehehe…” jelas salah seorang temanku yang tadi memasang taruhan paling banyak

Aku mengangguk tegas walaupun dalam hati aku berteriak kencang. Apa aku tega membuat gadis itu menjadi bahan taruhan? Arghh, maafkan aku Tuhan…

Waktu akan berlalu begitu cepat kalau kau sedang bergelut mengenai suatu hal yang besar. Aku bahkan sampai perlu di tepuk oleh teman sebangkuku ketika bunyi bel istirahat terdengar begitu nyaring

“Elo ngga lupa kan mau ngapain?” godanya menyikut lenganku

Aku mengambil nafas panjang, “Iyaaa—gw kesana dulu” kataku langsung berdiri dan pergi keluar kelas. Menuju kelas Sungmin yang berada di sebelah kantor guru

Di sana. Dia duduk di pojok—seorang diri tanpa siapapun. Wajahnya merunduk kecewa sambil terus menatap bekal makannya yang belum tersentuh. Sejenak ia mengambil sumpit dan menikmati makannya pelan pelan

Aku memberanikan diri masuk ke dalam kemudian langsung duduk di sebelahnya, “Hei!” sapaku agak canggung

Ia melirik dari sudut wajahnya yang normal lalu kembali konsentrasi memakan bekalnya, “Ada apa?” tanyanya bernada malas

Ternyata gosip yang mengatakan Sungmin itu dingin bukan isapan jempol belaka. Pantas saja ia tidak punya teman hingga sekarang

Karena tidak sabar, aku berbalik berdiri di depannya seraya mengentakkan meja,“Ya!! Lee Sungmin!!! Aku berbicara denganmu!!” kataku sedikit membentak

Raut wajah Sungmin tidak berubah sedikitpun—masih datar dan dingin, “aku kan tadi sudah bilang ada apa Kyuhyun?”

Aku menyeringai tajam ke arahnya. Mungkin aku bisa pura pura mau berpacaran saja dengannya supaya nanti ia mau aku cium? Bukannya setiap pasangan sudah biasa berciuman. Pikirku seorang diri

“Bagaimana kita pacaran saja” tembakku secara langsung

Tapi melihat raut wajahnya yang tidak berubah, aku baru sadar kalau aku pasti nampak konyol barusan.

“Apa aku tidak salah dengar?” katanya tidak menunjukkan ketertarikan

Aku terhenyak sedikit sebelum mengubah raut wajahku yang mulai gugup, “Aku tidak bercanda…besok pulang sekolah—tunggu aku di taman belakang, kau mau kan?”

Ayolah bilang mau, itu akan mempermudahku!!

“Baiklah” jawab Sungmin enteng

Yes!!! Akhirnya!!

Begitu senangnya aku sampai sampai aku menggodanya dengan cara memberikan ciuman jarak jauh meski yah lagi lagi wajah datar Sungmin sama sekali tidak berubah. Terserah, itu urusannya. Yang terpenting aku pasti bisa memenangkan taruhan ini!!

___________________________

Aishh mulai darimana yah..

Aku makin salah tingkah di depan Sungmin sekarang. Bagaimana tidak? aku harus meminta ijin untuk menciumnya sementara hampir seluruh temanku berada di belakang kami dalam jarak yang aman—sedang tersenyum menyeringai ke arah kami berdua

“Ng…” Aku mengacak acak rambutku sekilas, “Aku menyukaimu Lee Sungmin” ucapku agak kaku dan tidak berbobot

Dan lagi lagi wajah itu tidak berubah. Tatapannya malah tampak jengkel mendengar ucapanku barusan

“Lalu?” balasnya dingin

Ugh!! Jangan membuatku juga membencimu Sungmin! Arghh! Lebih baik aku melakukannya dengan cepat ketimbang memberikan gombalan gombalan yang tidak mungkin akan mempan untuk wanita satu ini!

Dengan memberanikan diri aku berjalan mendekatinya, menyudutkannya merapat ke tembok sementara tatapanku mulai turun melihat bibirnya yang separuh cacat

Benar, luka Sungmin benar benar mengerikan jika di lihat dalam jarak sedekat ini. Pantas saja Sungmin menjadi ajang taruhan! Pasti teman temanku ingin melihat laki laki mana yang berani mencium bibir sehancur milik Sungmin ini

Seketika lamunanku buyar ketika mendengar helaan nafas panjang Sungmin. Mulutnya terbuka lebar seraya berkata, “Kau mau menciumku?” tanyanya tanpa berbasa basi

“EH??” kataku benar benar terkejut. Kedua mataku mengerjap tidak percaya ke arahnya

Kenapa dia bisa tahu?

“Aku—“

“Sudahlah—berapa won kau taruhan dengan temanmu” bisik Sungmin dari sudut bibirnya yang normal, “Jangan bohong aku tahu di dekat kita pasti temanmu sudah mengintip dari jauh kan? Aku tahu semuanya Kyuhyun” sambungnya masih bernada dingin

“Kau??” aku menunjuk ke arahnya—tidak percaya. Kedua tanganku semakin erat memenjarakannya—takut kalau teman temanku mendengar ucapan jujurnya, “Kau sudah tahu??”

Sungmin mengangguk pasti, “Kau bukan orang pertama yang menjadikanku bahan taruhan, sekarang beritahu aku—berapa jumlah semua taruhanmu??” katanya balik bertanya

Aku menatapnya tajam sambil menimbang nimbang sampai akhirnya aku memutuskan berbicara jujur pada Sungmin, “30.000 won”

“Nah Kyuhyun beri aku setengah dari uang taruhanmu dan aku akan membiarkanmu memenangkannya, bagaimana??” ia malah berbalik menawariku sekarang

Ada apa dengan wanita ini?!

“Kau—kau masih mau di jadikan bahan taruhan lalu malah berani meminta setengah bagian taruhan juga??” suaraku berubah marah tapi tetap kutahan. Jangan sampai teman temanku bisa mendengarnya. Bisa batal taruhan kami

Sungmin memandangku pedih, “Semua orang butuh uang Kyuhyun dan aku tidak sekaya dirimu. Sekarang kau bisa memutuskan, meninggalkanku di sini lalu kalah dari teman temanmu, atau…kita lakukan taruhanmu dan memberikan sebagian uangnya untukku” bisknya

Aku mendesah panjang. Sungmin benar benar sudah lihai dalam hal taruhan. Sejenak aku penasaran sudah berapa kali ia mengalami ini? apakah begitu sering sampai sampai ia tidak menamparku karena berani menjadikannya barang taruhan?

Melihat siluet teman temanku yang memberi isyarat agar mencium Sungmin. Aku semakin tidak punya pilihan lain. Kepalaku mengangguk menyerah—setuju dengan penawaran Sungmin

Sungmin tersenyum tipis. Ia meraih sebelah tanganku lalu meremasnya lembut, “Lakukanlah—cium aku” katanya pelan

“Ah iya…aku sampai lupa” racauku tidak jelas

Penuh rasa gugup aku menggerakan kepalaku perlahan lahan—mensejajarkannya dengan wajah Sungmin lalu menutup mataku. Aku takut pikiranku berubah melihat bibirnya yang cacat itu. Tidak peduli apakah Sungmin melihat sikap anehku ini

Aku menyentuhkan bibirku pada bibirnya. Pelan dan lembut.

Eh? Lembut?

Ini aneh—padahal bibirnya setengah hancur tapi kenapa terasa begitu lembut. Aku memberanikan diri untuk mengecupnya lagi, lagi dan lagi.

Benar saja, aku menikmati ciuman ini tanpa menyadari kalau dari tadi bibir Sungmin tidak bergerak sama sekali

Aishh jangan bilang aku menciumnya terlalu berlebihan

Aku langsung melepaskan ciuman kami lalu berpura pura menyeka bibir menggunakan punggung tanganku, “bibirmu benar benar buruk!” elakku sepenuhnya berbohong

Sungmin tersenyum saja menanggapi kritikan pedas dariku, “Baru tahu?” ejeknya, “10 menit—aku akan menunggumu di ujung jalan besar, berikan uangnya padaku kalau tidak aku akan membuatmu malu besok pagi”

Hei kenapa Sungmin malah berbalik mengancamku sekarang!!

Tanpa menunggu jawaban dariku, Sungmin cepat cepat memungut tasnya dari bawah lalu berjalan keluar meninggalkanku seorang diri

Tidak butuh waktu lama, seluruh teman teman sekelasku keluar dari persembunyian dengan perasaan kecewa, “Yah…gila juga lo berani nyium dia, gw sih lo kasih satu juta Won juga ogah!” seloroh temanku sambil memberikan tumpukan uang hasil taruhan kami semua

Aku hanya tersenyum canggung ke arahnya—apa kata mereka kalau sebenarnya aku tidak menyesal telah berciuman dengan Sungmin.

“Iya! Gokil lo!!! Keren keren!!!” sahut teman sebangkuku seraya mengacak acak rambutku dari dekat, “Eh kita makan makan yo!! Di rumah lo aja gimana Kyuhyun?” ajaknya yang mendapat sambutan meriah dari semua orang

“Iya iya!!” sahut mereka serempak

Aku memutar kedua bola mataku, “Boleh, tapi lo semua duluan aja kerumah—Adjumma kan udah kenal sama kalian semua, sana gih! Gw mau beli sesuatu dulu di ujung jalan” hampir saja aku lupa kalau Sungmin sudah menungguku di sana

“Ok! Tapi jangan lama lama!!”

“Iya!!” Tanpa menunggu mereka pergi duluan, aku setengah berlari keluar dari gerbang sekolah, membelok di seberang jalan tempat di mana Sungmin berdiri dengan wajah tertunduk.

Dari jauh dapat kulihat bagaimana perlakuan orang lain terhadapnya. Orang lalu lalang yang lewat tidak sekali menatap jijik ke arah Sungmin. Mereka bahkan tidak tahu malu untuk kembali menatap wajah Sungmin seolah olah kecacatannya adalah tontonan umum bagi setiap orang

Hatiku miris memandang Sungmin sekarang. Bagaimana ia bisa bertahan dengan semua ini sepanjang hidupnya….

“Sungmin!!!” teriakku sembari berlari mendekatinya

Sungmin mengangkat wajah dan menatapku penuh kelegaan

“Ini bagian uangmu” aku memberikan sebagian hasil taruhanku senilai 15.000 won ke dalam tangannya

Di pindahkannya uang itu ke sebelah tangan agar bisa di hitung ulang, “Ck, aku tidak mungkin menipumu Sungmin” ujarku agak sakit hati

Sungmin tertawa kecil, “aku tidak berkata kau akan menipuku—tapi aku tidak yakin saja kau rela memberikan uang sebanyak ini untukku….hmmm….pas!! terima kasih” ucap Sungmin setelah memasukkan uang itu ke dalam tasnya

“sama sama…” aku masih saja menatap bergantian orang orang lalu lalang yang melirik ingin tahu ke arah kami, “Kau tidak mau kuantar?” tawarku basa basi

“Tidak usah—rumahku sudah dekat” Ia merunduk formal sekali lagi, “aku duluan” katanya berbalik menjauh—meninggalkanku yang masih mematung di tempat

Hmm, sikap tertutup Sungmin malah membuatku nekat membuntutinya dari belakang. Keadaan jalan raya yang ramai membuat Sungmin tidak menaruh curiga atas apa yang sedang aku lakukan

Toh—aku hanya ingin tahu kenapa Sungmin begitu—

“DARIMANA SAJA KAMU SUNGMIN!!!”

Sebuah suara teriakan di depan rumah sederhana tidak jauh dari tempatku berdiri. Dapat kutangkap menangkap siluet tubuh Sungmin yang masih merundukkan kepalanya di sana, “Maaf..Umma…tadi aku ada perlu dengan teman—“

PLAKKK

Belum selesai Sungmin menyelesaikan ucapannya—wanita paruh baya di depannya langsung menampar wajah Sungmin keras. Aku sontak menahan nafas melihat kejadian itu

“Kau!! Umma capek capek bekerja seharian untukmu! Tapi kau malah pulang sore hari!!! Maumu apa Sungmin!!”

“Maaf…aku…” Sungmin tidak dapat berkata kata lagi. Ia hanya terus menunduk—entah menyembunyikan wajahnya yang kesakitan atau air matanya yang mulai mengalir

Ibu Sungmin mendengus sebal. Ia memutuskan masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun lagi sementara Sungmin masih sibuk menangis pelan, merunduk memeluk tubuhnya sendiri

Hampir saja aku menghampirinya agar bisa memeluk tubuh Sungmin yang terlihat rapuh

Tapi untungnya Sungmin segera menghapus air matanya kemudian memberanikan diri masuk ke dalam rumah

Apa yang telah aku lakukan? Gara gara perbuatanku Sungmin di tampar Ibunya sendiri! Dasar Kyuhyun bodoh!!!! Kau tega sekali!!! Aishh!!!

“Maaf…..maafkan aku Sungmin” bisikku percuma—tidak mungkin ia bisa mendengarku yang bersembunyi dari balik tembok penghalang sementara Sungmin sekarang pasti masih menangisi kejadian hari ini di dalam kamarnya

*****

Esoknya, seolah tidak pernah terjadi apa apa Sungmin berlalu saja di depanku yang sengaja menunggunya di depan sekolah. Ah mungkin ia tidak melihatku—bukankah Sungmin selalu merunduk setiap kali berjalan di antara siswa lain. Wajahnya jarang sekali terangkat. Kalaupun ia mendongak dengan tidak sengaja, lagi lagi Sungmin akan menunduk mendapati semua orang melirik jijik ke arahnya

Sungguh tidak adil dunia ini…

Tapi mungkin aku lebih pengecut dari Sungmin. Buktinya aku tidak berani mendekatinya ataupun menghampirinya di dalam kelas untuk meminta maaf masalah kemarin…

Arghh!! Ada apa denganku!!! Kenapa aku memusingkan yeoja yang kebetulan saja aku jadikan taruhan kemarin siang!! Ini pasti bukan apa apa Kyuhyun—ya kau hanya kasihan padanya saja!! Tidak lebih!

“Lihat tuh si buruk rupa lewat kemari—apa kau tidak ingin menciumnya lagi Kyuhyun~” ujar salah seorang temanku di mana kami sedang nongkrong di depan koridor sekolah. Sungmin sedang berjalan ke arah kami saat hendak kembali ke kelasnya.

Aku terus menatapnya—terdiam sampai ucapan kasar temanku kembali terucap, “Aigo~ apa rasa bibirnya Kyuhyun? Pasti rasa lumpur kan hahahaha” ejek mereka tanpa memelankan suara sama sekali. Aku bertaruh kalau Sungmin pasti mendengar itu.

Kedua mata Sungmin melirikku sekilas sebelum kembali tertunduk lalu berjalan lebih cepat tanpa menghiraukan dengusan tawa penuh sindiran dari teman temanku

Dia pasti terluka lagi. Wajahnya—tangisannya terus membayangiku hingga detik ini. Aku memang terlalu kejam padanya kemarin…..

“Kyuhyun? Woi Kyuhyun ! lo kenapa???” desak salah satu temanku sambil menepuk nepuk pipiku dari samping, “Jangan bilang lo masih kebayang ciuman sama Sungmin itu ya! Uhhh” Padahal Sungmin sudah tidak ada di depan kami tapi teman temanku tetap saja tidak berhenti mengejeknya.

“Hei! Elo bisa diam ngga!” gertakku menahan amarah sambil berdiri tegak di depan mereka, “Bisa tidak kalian berhenti menghina Sungmin? Dia juga punya hati! Apa kalian kira ucapan kalian itu tidak menyebalkan? Ha!” semburku tepat di wajah mereka tanpa ampun

Rasa rasanya tidak cukup hanya mengatakannya saja—tanganku tidak sabar melayang, hendak memukul mereka ketika mendengar dengusan tawa yang mulai berderai di sekitar kami, “Huahahahaha, Kyuhyun…..Kyuhyun……jangan bilang kau—hahahahaha” mereka terus saja tertawa sambil menunjuk ke arahku seolah olah aku mengatakan hal yang salah

“Memangnya ada apa denganku!!” kataku kasar—masih tidak mengerti

“Kau suka ya dengan Sungmin? Sampai membelanya seperti itu?? Huahahahhaha”

Wajahku berubah drastis. Aku menilik wajah tawa mereka sambil mengingat ingat ucapanku barusan. Apa aku salah membelanya? Kenapa mereka malah menuduhku langsung menyukai Sungmin?

Aishh—memang bibirnya tidak begitu buruk dan wajahnya sebenarnya juga manis kalau saja luka itu tidak ada. Dan matanya indah—hitam lekat seperti rambutnya yang pendek. Aku malah merasa tidak ada yang salah pada penampilannya seperti itu

Sungmin normal, ia sama seperti semua perempuan yang pernah aku kenal…

“Woi! Udah ngelamun Sungminnya!!!” salah satu temanku mengguncang guncangkan tubuhku sebelum menyeringai lebar bersama yang lain.

Tidak usah pakai telepati pun aku tahu mereka semua memikirkan hal yang sama, “Gw—“

“Kau menyukai Sungmin!!” seru mereka dengan kompak, “Jangan mengelak Kyuhyun! Lo kira kita bodoh?”

Aku makin gugup menghadapi sikap terus terang mereka, “Gw ngga..maksudnya..”

“Hmm…gw ga tahu sedasyat itu efek ciuman dia—jangan bilang kalo kemarin gw yang jadi ajang taruhan, gw lagi yang bakal jatuh cinta sama dia” terawang teman sebangku tanpa bermaksud apapun. Ia hanya senang menggodaku yang termangu diam saja—tidak tahu mau mengatakan apa lagi

Rasanya dalam hatiku—aku membenarkan perkataan mereka walaupun di selimuti rasa ragu

Apa aku begitu mudah jatuh cinta kepada wanita dingin seperti Sungmin?

“Hmm….gw punya ide!!!” celetuk teman sebangku seraya mengumpulkan gerombolan kami agar mendekat terutama diriku yang masih berdiam diri di depan mereka

“Gimana kalau ngadain taruhan lagi? dan kali ini korbannya masih sama, yaitu Sungmin!” usulnya dengan wajah penuh tipu muslihat

“Ngga!!” tolakku langsung menepis tangannya dari pundakku, “Ngga boleh! elo! Dan elo! Ngga boleh Jadiin dia bahan taruhan lagi, pokoknya gw ngga setuju!!!”

Mereka menatapku tidak percaya, “Lo segitunya suka sama Sungmin?”

“Masa bodoh lo mau bilang apa! Yang pasti, gw ngga akan biarin Sungmin di ganggu kalian semua!!”

“Tapi gw belum selesai bicara Kyuhyun” temanku itu memutar kedua bola matanya melihat sikap aroganku, “Makanya sini dulu!!” ia kembali menarikku dan melanjutkkan pembicaraan tidak penting ini

“Gw berani taruhan gede kalau elo, Kyuhyun!” unjukknya menggunakan sebelah tangannya yang bebas sebelum berbalik ke arah yang lain, “Ngga akan bisa bikin Sungmin jatuh cinta—siapapun tahu dia ngga tuh orangnya curigaan sama setiap murid. Meski lo tampan bukan berarti dia lebih gampang di dapetin!”

Semangatku sedikit pudar mendengar kebenaran ucapannya, “terus…apa hubungannya sama taruhan ini??” tanyaku masih tidak mengerti

“Nah…kalau lo berhasil buat dia ngaku dia jatuh cinta sama lo selama 1 minggu. Gw berani bertaruh…” di keluarkannya dompet dari balik saku celana kemudian mengeluarkan semua uang di dalamnya tanpa bersisa, “Nih….gw akan ngasih lo 200.000 won! gimana? Berani ngga?”

“Ah~gw juga ikutan!”

“Gw juga!!!”

Ke enam temanku mengeluarkan uang cadangan mereka dari dalam dompet. Aku saja sampai menganga di buatnya. Setelah selesai mengumpulkan semua uang, mereka berpaling menatapku penuh seringai tajam, “500.000 Won Kyuhyun! Kalau lo bisa dapetin hatinya Sungmin!! Gimana? Tergiur ngga??” tantangnya mengusik emosi kelaki lakianku

“Gw….”

Mendapatkan hati Sungmin? Apa tidak salah? Mereka tidak lihat kalau sekarang Sungmin yang berhasil mengambil hatiku, bukan sebaliknya

Rasa pesimisku semakin menjadi jadi ketika mengingat kejadian kemarin. Kejadian di mana aku mencium Sungmin. Pada saat itu saja Sungmin tidak membalas ciumanku—ia terlalu dingin untuk ukuran seorang perempuan sehingga aku tidak tahu harus bagaimana bersikap menghadapinya

“Ayolah jangan bilang gini aja lo nyerah!!”

“Tapi—“

“Hei Kyuhyun! Sini gw kasih tahu ke lo ya!” teman akrabku merangkul pundakku sembari menepuk nepuk pelan, “Ini sebenarnya bentuk dukungan kita buat lo biar bisa mendapatkan tuh cewek buruk rup—iya iya! gw ngga akan menghinanya lagi. Tapi lo mau kan menang taruhan lagi? hadiahnya jadi dobel tuh!”

“Dobel?” Aku mulai memikirkan sesuatu yang lain, “gimana kalo lo semua bikin jadi triple??”

“Maksudnya??” Aku diam sejenak untuk menikmati wajah bingung teman temanku, “Kalo gw bisa dapetin Sungmin dalam waktu seminggu—kalian bakal ngasih gw duit 500.000 won sekaligus kalian harus berjanji tidak akan menghinanya lagi dan menerimanya jadi pacar gw!! Gimana??” tawarku

“HA!” teriak mereka terkejut

Andai aku bawa kamera milikku sekarang, aku pasti mengabadikan wajah melongo bodoh mereka yang serempak tanpa di sadari satu sama lain

“Elo ngga bercanda kan Kyuhyun??” tanya mereka amat kompak, “mau jadiin dia pacar?”

Aku mengangguk penuh semangat, “gimana? Berani ngga?”

Setelah saling melempar pandangan muram. Akhirnya semua temanku menganggukkan kepala—tanda setuju

“Yes!!! Tunggu aja kabar baik dari gw!!!” Segera aku berlari mengejar Sungmin dengan perasaan menggebu gebu. Kali ini aku harus berjuang seorang diri untuk memenangkan taruhan dari teman temanku

Lihat saja…aku pasti bisa mendapatkannya….

________________________________________________

Dan seperti dugaanku. Sungmin menyetujui ‘taruhanku’ yang kedua meski yah ia agak tidak setuju dengan jadwal pertemuan kami sepulang sekolah yang akan berlangsung seminggu penuh. Ayolah Sungmin, kalau kita tidak berduaan bagaimana bisa aku membuatmu jatuh cinta terhadapku?

Lebih baik mengambil resiko besar sekalian. Sudah kepalang basah aku menyukai putrinya, bukan hal yang besar bukan kalau aku bermaksud menemui Ibunya Sungmin secara langsung? Toh ini akan semakin membantuku kalau aku bisa berterus kepadanya

“Hati Hati nak Kyuhyun, maaf sudah repot mengantarkan Sungmin ke rumah” ucapnya halus—berbeda sekali dengan suara teriakan yang pernah aku dengar waktu itu

“Adjumma….aku boleh mengatakan sesuatu? Itupun jika anda tidak keberatan?” tanyaku sopan. Nampaknya tidak apa apa kalau aku menceritakan semuanya pada Ibu Sungmin—saat kami berdua saja di depan gerbang rumahnya

“Apa?” katanya bingung

Aku mengambil nafas panjang sebelum berbicara, “Aku serius mengenai putri anda. Aku tidak main main—aku sungguh sungguh mencintainya” tuturku tegas

Urat saraf di wajah Ibu Sungmin menegang. Gigi saling mengertak satu sama lain sambil terus menatapku lurus, “Kau….aku tahu kau menyukainya, tapi…..apa kau juga mencintainya???” ulangnya ragu ragu

“Ya—aku mencintainya Adjumma, walaupun Sungmin belum tentu memiliki perasaan sama padaku, tapi aku tidak menyerah” aku cepat cepat berusaha meyakinkan Ibu Sungmin kembali, “Aku akan mendapatkannya, jadi ijinkanlah aku memulangkannya terlambat…mulai besok”

“Tapi—“ Ia menelan ludah dengan susah payah, “Wajah Sungmin bahkan belum di operasi?? Apa kau benar benar yakin!” ia mengulangi kalimat yang sama, “Tidak mempermainkan putriku?? Mencintainya dalam keadaan sep—Aishhh…” Sejenak, Ibu Sungmin terdiam. Meredupkan sinar di matanya. Ada berbagai emosi yang ada di dalam dirinya sekarang, “Jujur Adjumma mengaku kalau selama ini Adjumma tidak memperlakukan Sungmin dengan baik—luka di wajahnya selalu membuatku merasa tidak berdaya, malu bercampur kesal. Andai saja, aku selalu berandai andai….andai saja Sungmin tidak ikut pergi bersama suamiku, andai saja aku ikut bersama mereka….apa yang akan terjadi…..Putriku tidak perlu menderita sampai seperti ini…..aku….”

Secepat mungkin aku merengkuh tubuh Ibu Sungmin lalu memeluknya erat erat. Sikap rapuhnya yang nampak dingin dari luar ternyata menurun seratus persen pada Sungmin, “Aku yakin Sungmin tidak membenci anda…ia menyayangi anda…aku tahu itu”

Adjumma mengangguk dalam pelukanku. Sekilas ia memeluk tubuhku lebih erat sebelum melepaskannya. Tatapannya berubah melembut ketika berhadapan denganku, “Aku percaya padamu….jangan kecewakan Sungmin, semenjak ia mendapatkan luka itu baru kali ini Sungmin membawa teman lagi ke rumah, jadi…”

“Aku janji” kataku dengan tegas dan yakin, “Ia akan baik baik saja bersamaku”

*****

Ini hari pertama aku dan Sungmin berpura pura pacaran. Sungguh di luar dugaan aku begitu menikmati ini. Memandang wajahnya dari dekat—walau tidak melakukan apapun yang berarti. Ia hanya tertunduk sebentar sementara aku berbaring di rerumputan, pura pura tertidur sambil menunggunya berbicara duluan

Sikap kaku kami berubah saat Sungmin mulai menceritakan masalah dia dan Ibunya

Setiap perubahan tingkah laku Ummanya sejak aku datang ke rumahnya sempat membuat Sungmin bingung tapi cepat cepat aku mengutarakan pendapatku tanpa memberitahunya secara langsung pembicaraan rahasia antara aku dan Ibunya malam kemarin

“Mungkin saja tapi aku tidak enak jika perjanjian kita sudah berakhir lalu Umma…” Sungmin tidak menyelesaikan kalimatnya.

“Bilang saja aku sibuk kegiatan tambahan, nanti aku akan sekali kali main kerumahmu agar beliau tidak curiga” kataku memberi solusi. Lagipula aku tidak yakin sekalipun perjanjian ini berakhir aku pasti akan tetap menemuinya dan tidak berhenti sampai Sungmin benar benar menyukaiku. Tidak peduli sekalipun aku harus kehilangan 500.000 won

Setelah beberapa lama mengobrol ringan. Aku memutuskan memulangkan Sungmin ke rumahnya, “Terima kasih” kata Sungmin ringan sambil melayangkan senyum manis untukku

EH? Apa aku tidak salah lihat?!

Ini baru hari pertama dan aku sudah berhasil membuatnya tersenyum.

Dadaku bergemuruh hebat detik ini juga. Susah payah aku membalas senyumnya agar tidak membocorkan rahasiaku. Mungkin bukan mustahil membuat Sungmin jatuh cinta padaku sampai 6 hari ke depan

“Ingat—masih ada 6 hari lagi” ucapku mengandung arti lain

Tapi Sungmin tidak curiga sama sekali. Ia hanya mengangguk pelan, membungkuk hormat padaku lalu masuk ke dalam rumah

“Lihat saja Sungmin…..ya lihat saja…” gumamku berjalan menjauh dengan jutaan rencana dan perasaan berbeda yang tidak kutahu itu

Tapi satu hal yang pasti…

Aku benar benar bahagia menghabiskan waktu bersamanya……

______________________________________________

“Kenapa kau baca buku kedokteran, memangnya kau bercita cita menjadi dokter” tanya Sungmin saat aku sedang berkonsentrasi membaca sebuah buku tebal

Aku mengangkat wajah dari balik buku itu, “Hmm, aku mulai tertarik dengan dunia kedokteran—habis buku ini lebih menarik ketimbang game PS” kataku asal

Padahal jujur saja, hampir pingsan aku membaca satu halamannya. Banyak istilah istilah aneh yang tidak kumengerti bercampur juga dengan rumusan kimia yang jauh dari pelajaran anak SMA. Tapi demi Sungmin, aku rela membaca buku ini.

Ternyata mencintai Sungmin membuatku belajar satu hal lagi

Aku jadi punya cita cita yang pasti.

Dulu aku pernah bercanda dengan bilang kepada kedua orangtuaku kalau aku mau menjadi ahli game sedunia. Tapi nampaknya mimpiku itu harus kandas di tengah jalan karena Appa yang terlanjur marah—menganggap omonganku serius, lalu menyita seluruh game PSPku dari kamar.

Tapi sekarang tidak.

Andai orangtuaku bertanya lagi. Dengan yakin akan kujawab aku ingin menjadi dokter. Supaya yeoja seperti Sungmin tidak perlu waktu lama untuk menjalani sebuah operasi sederhana.

Jika sampai kami lulus nanti Adjumma belum mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi plastik. Aku akan belajar lebih keras dari siapapun agar bisa menjadi dokter dalam waktu singkat dan dengan begitu aku sendirilah yang akan mengoperasi luka di wajah Sungmin

Yah mungkin pemikiranku terlalu sederhana, tapi aku benar benar ingin melindunginya. Aku tidak peduli luka itu tetap ada ataupun menghilang. Ia tetap Sungmin yang kukenal—bukan orang lain….

“Aku heran….kenapa kau mau saja sih di ajak taruhan? Apa ini semua hanya gara gara uang saja?” tanyaku setelah selesai membaca 10 lembar. Sudahlah aku menyerah! Besok saja akan kubaca ulang sampai habis. Lebih baik sekarang aku menghabiskan waktu 30 menitku yang berharga untuk berbicara dengan Sungmin

Sungmin berusaha mengelak, “Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu kan” katanya sangsi

“Bagaimana kalau harus?” geramku setengah mengancam—aku mulai tidak suka dengan sikap misterius Sungmin yang menyembunyikan masalahnya seorang diri

“Kau memang mau tahu urusan orang ya” ejekankannya tidak aku hiraukan. Aku tetap tidak berhenti menatap wajahnya sampai ia menjawab pertanyaan dariku

“Ah baiklah…aku memang sengaja meminta uang dari hasil taruhan anak anak karena aku sedang menabung operasi wajahku” kata Sungmin sambil menepuk pipi kirinya yang cacat

Aku tersentak, “Bukankah Adjumma juga…”

“Iya aku tahu!” potongnya cepat cepat, “tapi aku tidak mau merepotkan Umma lagi….jadi aku juga menabung sejak lama, kalau wajah ini tidak ada lagi mungkin saja tidak ada orang yang mencemoohku, aku tidak akan kesulitan mendapatkan kerja….dan Umma tidak usah malu punya anak cacat sepertiku….” Mata Sungmin menerawang kejauhan, “banyak kepahitan yang harus kujalani selama luka ini masih ada di wajahku”

Aku berdiam diri agak lama—mencerna setiap perkataan Sungmin, “tapi…lukamu tidak seburuk itu kok, tidak semengerikan jika di lihat sedekat ini”

Secara spontan aku mengulurkan tanganku—menyentuh seluruh luka kasarnya. Begitu pelan pelan dan hati hati. Takut kalau sentuhanku membuatnya kesakitan

“benar benar tidak mengerikan…sungguh…” ulangku lagi dengan sebelah tangan masih terus mengelus wajahnya—lembut.

Sekilas kedua matanya yang memandang dingin ke arahku mulai mencair. Ia tersentuh melihat sikapku yang di luar dugaan meski yah…akhirnya Sungmin memalingkan wajahnya seolah olah menolak sentuhanku

“Ah lebih baik kita pulang—mereka pasti sudah tidak mengawasi kita lagi” katanya mengalihkan pembicaraan

Aku mencoba kembali bersikap biasa saja, “Iya…mereka sudah pulang”

“Hahahaha…teman temanmu aneh sekali, kalau aku jadi mereka, aku pasti tidak mau di suruh mengawasimu meski selama setengah jam sekalipun”

DEG

“Entahlah, mereka memang suka aneh aneh” Lagi lagi aku berbohong. Tidak ada siapapun yang mengintip kami berdua. Teman temanku hanya bertaruh sampai seminggu—bukannya menguntit kami sehabis pulang sekolah. Ini hanya rencana kecilku supaya bisa mendekati Sungmin tanpa di curigai olehnya

Arghh! Jangan membicarakan mereka lagi! aku tidak tahan membohongi Sungmin lebih dari ini. Tidak boleh! Lebih baik aku menanyakan sesuatu yang lain kepadanya

“Kau belum bercerita tentang teman temanmu?” tanyaku sekedar basa basi

Wajahnya meredup mendengar ucapanku. Ah—jangan bilang aku salah lagi?

“Aku tidak punya teman Kyuhyun” katanya dengan enggan

Ya Tuhan, pasti aku sudah menyinggung topik yang sensitif untuknya, “Berarti aku temanmu satu satunya” ujarku ringan untuk mencairkan suasana

Berhasil! Sungmin tertawa lebar sambil menatapku lebih dalam, “Kyuhyun kau bukan temanku—kita hanya saling mencari keuntungan, simbiosis mutualisme…ingat pelajaran biologi?” katanya memakai perumpamaan, “dan teman tidak seperti itu” katanya tercekat

Apa? Simbiosis mutualisme? Apa itu yang Sungmin lihat dari perubahan sikapku selama ini?

Spontan aku merunduk ke bawah—tidak sabar ingin pergi dari situ sebelum ia mengatakan sebuah penolakan lagi. Aku bisa tidak tahan untuk mengungkapkan semua perasaanku di depan Sungmin

“Oh~ baguslah kau bisa mengingat semuanya dengan jelas” suaraku agak terdengar kaku. Hmm, aku benar benar harus pergi sekarang juga, “sampai besok Sungmin! Ingat masih ada 5 hari lagi!!” teriakku mulai menjauh

“Iya!!!” balasnya kencang

Aku tidak akan menyerah. Lihat saja Sungmin. Aku akan membuatmu menyukaiku…..yah…aku pasti bisa!

*****

Seperti biasa kami bertemu dan berbicara di taman belakang sekolah. Aku yang sedang tidak ada kerjaan hanya memandangi Sungmin karena ia sedang sibuk mengeluarkan dua kotak bekal dari dalam tasnya. Aishh—pantas saja tadi siang aku melihatnya jajan di kantin, ternyata ia sengaja tidak memakan bekalnya karena ingin memakannya berdua denganku

Hmm…..senyum lebar tersungging rapi di bibirku. Sungmin mulai menunjukkan perhatiannya padaku

“Ini apa?”

“Ng ini bekal Umma untukmu—dia tahu kita sering bertemu setiap pulang sekolah jadi ia memberikan ini untukmu” kata Sungmin sambil menyerahkan satu kotak makan kepadaku

Aku bersemangat membuka bekal darinya dengan terburu buru. Namun saat melihat isi bekal itu aku terkejut. Tidak salah? Ini kan….cepat cepat aku melirik isi bekal Sungmin yang hampir ia makan kalau saja aku tidak buru buru menariknya, “Sepertinya bekal makan kita tertukar Sungmin, ini pasti untukku” jelasku

Tangan Sungmin menahannya—ia juga tidak mau kalah, “Tidak! Umma memang memberikanmu itu!! Ini punyaku Kyuhyun!!” Suaranya berubah mengerang karena kewalahan menahan tanganku yang menarik dengan sekuat tenaga

“Tidak!” tolakku, “Jelas jelas isi bekal ini untukmu, lihat telur asin, nasi lembek dan sayur cincang!! Sementara isi bekalmu tempura dan ayam goreng? Aishh berikan tidak!!”

“Tapi—“

“Tidak ada tapi tapian!! Ini untukku!” kataku bersikeras sambil kembali menarik bekal itu dari tangan Sungmin.

Berhasil! Hehehe, bekal enak ini menjadi miliku juga!

“Aku tidak suka telur asin Kyuhyun! Umma tahu itu! Tapi kenapa ia masih menaruhnya di bekalku!!” protesnya masih mengaduk aduk makanannya tanpa minat. Iya juga sih, makanan milik Sungmin seperti makanan anak bayi—lembut dan encer. Tapi mau bagaimana lagi? hanya makanan itu yang tidak perlu kunyahan kuat sehingga Sungmin tidak perlu bersusah payah memaksakan sebagian wajahnya sudah hampir mati rasa

“Karena..” aku berbicara di sela sela mulutku yang penuh makanan, “Telur asin mudah di cerna untuk bibirmu yang setengah kaku, lihat saja bekal itu—semua makanan lembut dan tidak perlu kerja otot bukan? Umma mu sangat perhatian mengenai hal itu! Kau saja yang tidak tahu” kataku memberi penjelasan

Berangsur angsur Sungmin mulai bisa menerima bekalnya dan memakannya pelan pelan walaupun tatapannya tetap tidak berpaling dari bekal di tanganku, “Tapi aku sudah lama tidak makan enak, aku mau mencobanya juga” unjuknya ke arah ayam goreng milikku

“Kau mau?”

Sungmin mengangguk cepat

“Sebentar” Aku memilih bagian daging ayam yang lunak lalu memisahkan serat seratnya hingga bentuk terkecil agar Sungmin tetap bisa memakannya. Setelah selesai aku memandang wajah penuh harapnya dari dekat.

Jangan melihatku seperti itu Sungmin, aku bisa menciummu lagi. Pikirku mencoba berkonsentrasi kembali dengan ayam ia di mintanya

“Buka mulutmu” perintahku

Ia tidak menolak atau menyeringit heran mendengar itu. Sungmin malah bersemangat membuka mulutnya kemudian aku menyuapinya hati hati.

“Enak kan?”

“Enak!” jawabnya senang, “Sudah lama aku tidak makan enak hehehe”

Setelah mendapatkan keinginannya, Sungmin mau menghabiskan seluruh bekalnya bersama sama aku yang sibuk makan makanan enak ini. Hmm, mungkin lain kali aku harus membawakan sesuatu untuk Adjumma waktu mengantar Sungmin pulang.

Sudah lama aku tidak memakan bekal seenak buatan Ibu Sungmin. Andai saja, suatu saat Sungmin mau membuatkan bekal khusus untukku. Mungkin saat itu pula spontan aku akan mengajaknya menikah, hahahaha

*****

Semakin lama aku mengenal Sungmin. Aku mengerti satu hal

Aku benar benar tidak salah dengan siapa aku jatuh cinta. Dia memang pantas untuk di cintai.

Senyumnya, semangatnya, keterusterangannya membuatku paham akan kepribadian seorang Sungmin

Walau akan ada selalu akhir dari segala yang telah kau mulai

Begitu pula dengan kami berdua

Dan di sinilah aku dan Sungmin berada. Di tengah tengah taman dekat rumahnya. Bertemu untuk menyudahi segalanya….

“Tidak terasa ya sudah seminggu kita bertaruh” kataku kaku. Jujur bahkan aku sendiri berharap tidak berkata begitu. Aku masih mau bersamanya, sekarang, nanti atau kalau bisa untuk selamanya….tapi kenyataan selalu berbanding terbalik dengan segala keinginanmu bukan?

“Aku benar benar berterima kasih karena kau mau melakukannya denganku—meski ya kau menginginkan uangnya, tapi aku tetap mengucapkan terima kasih” tambahku lagi—bingung mau mengatakan apa

“Iya…sama sama” hanya itu ucapan dari Sungmin. Tidak ada yang lain.

Apa dia benar tidak merasakan apa apa terhadapku? Apa selama ini senyum tulusnya hanya bagian dari kepura puraan juga??

Kumohon beritahu aku….beritahu aku kalau kau menyukaiku atau tidak….

Berikan saja satu alasanku agar bisa tetap berdiri di depanmu dan menghabiskan waktu kita bersama sama…

“Ng…Sungmin” bisikku mendekatinya di bangku taman lalu berkata pelan, “Apa kau tidak mau mengatakan sesuatu kepadaku?”

Ia menatapku sekilas, tertunduk lagi lalu menggelengkan kepalanya

Hanya itu? Tidak ada yang lain? Tidak ada kata kata perpisahan atau apa?

Aishh—aku harus menahan kedua tanganku, mencoba tidak menghujaninya dengan serangkaian pertanyaan yang dari dulu mengusikku.

Biarkan….mungkin sekarang saatnya aku rela melepasnya. Tapi kenapa begitu sulit. Bahkan hingga detik ini, aku masih berani berharap jika ada perasaan lain dalam topeng dingin Sungmin selama bersamaku

Tapi, menilik sikap diamnya dan acuhnya. Harapanku kembali runtuh seketika

“Hmm, baiklah—kalau kau tidak mau mengatakan sesuatu, biar aku yang mengatakannya” ucapku memecahkan keheningan. Kuubah posisi dudukku hingga mendekatinya lebih lagi, “Bolehkah aku menciummu untuk terakhir kali?” kataku nekat

Bukan aku mencuri kesempatan atau apa. Tapi aku hanya ingin….menyentuhnya…..memastikan bahwa perasaannya sama sepertiku atau tidak….biarkan aku mengetahuinya sendiri Sungmin..

“AH?” Wajahnya berubah terkejut, “Memangnya itu bagian dari taruhanmu juga?” ulangnya masih terperangah

TARUHAN??? Kedua mataku memincing tajam ke arahnya. Apa aku seburuk itu dimatamu? Apa kau kira tidak ada pria yang mau menciummu walaupun dalam keadaan wajahmu yang setengah cacat??. Gemuruhku dalam hati

Jujur aku terluka mendengar ucapan lugas Sungmin.

Nampaknya memang benar kalau ia tidak memiliki perasaan yang sama padaku.

Hanya aku—pihak yang selalu berusaha menyenangkan Sungmin. Bukan sebaliknya. Apa Sungmin tidak merasa kalau aku begitu mencintainya—terlalu mencintainya sehingga rela menghabiskan waktu bersama sama seminggu ini? menatap wajahnya tanpa rasa jijik—seperti awal aku mengenalnya? Atau sampai harus berbohong besar kepadanya mengenai taruhan kami?

Apa sikap bodohku belum menunjukkan apa apa padamu?

Apa nama perasaan ini Sungmin kalau bukan cinta…..

Ya, Aku mencintaimu—sungguh sungguh mencintaimu

Setengah mati aku mencoba tersenyum di depannya seperti biasa walaupun dengan terpaksa, “Iya—maaf baru memberitahumu hari ini. Aku bilang kalau aku akan menciummu di hari terakhir sebagai kado perpisahan” tambahku lagi, “bolehkan?”

“Tidak….” Sungmin tiba tiba menepis kedua tanganku yang mulai merengkuh wajahnya, “Kau tidak boleh menciumku Kyuhyun, jangan….” Suaranya terdengar memelas dan begitu memohon

Bahkan menciumnya pun aku tidak boleh?

Penolakan demi penolakan—itulah yang kudapatkan darinya

Aku mencoba bersikeras—mengenyampingkan sikap jantanku. Mungkin sekarang giliranku untuk berlaku egois pada Sungmin

“Kenapa?” tanyaku datar

“Tidak ada apa apa…hanya saja jangan….” Bisiknya kembali memohon

Aishh! Tidak peduli!

Sekarang sikapku berubah kasar. Aku tetap menangkupkan kedua tangan pada wajahnya agar lebih mendekat sambil kedua mataku meredup lalu mencium bibirnya lembut. Sama seperti waktu pertama kali kami berciuman

Tidak peduli ia membalasku atau tidak. Tidak peduli kalau ia membenciku nanti. Aku hanya ingin memasukkan segalanya dalam ciumanku, perasaan bahwa aku mencintainya—benar benar mencintainya….

Spontan sebelah tanganku melepas bagian wajahnya yang rusak sebelum berpindah ke punggungnya—memaksa Sungmin agar tidak bisa melepaskan ciuman kami.

Dan keajaiban itu terjadi….

Pelan pelan bibir Sungmin bergerak membalas ciumanku walau terkesan lemah dan ragu ragu. Perasaanku kembali meledak. Jutaan keping kembang api seolah olah bertebrangan mengelilingi kepala dan pikiranku. Tubuhku menghangat—penuh rasa bahagia. Tanpa berlebihan aku terus membalas ciumannya dengan lembut, mencengkram pundaknya agar bergerak mendekat. Bibirku sedang mendekati ujung mulutnya yang terkoyak akibat luka cacat itu saat tiba tiba saja aku mengecap rasa asin yang tidak asing

Aku langsung tersentak menjauh—tidak sengaja melepaskan ciuman kami

Benar dugaanku, Sungmin menangis. Air matanyalah yang tadi kuseka tanpa sadar

“Kau menangis..” Aku sungguh terkejut—apakah tindakanku tadi terlalu berlebihan sehingga Sungmin menangis seperti ini?

Bibirnya masih tertutup rapat. Tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Sungmin hanya sibuk menghapus air matanya sambil mengatakan sesuatu kepadaku, “Ambil saja uang itu Kyuhyun—aku tidak membutuhkannya lagi”

Sungmin buru buru beranjak dari tempat duduk kami lalu pergi menjauh kalau saja tanganku tidak langsung menahannya dari belakang. Tidak, kau belum pergi sebelum kita tuntaskan semuanya Sungmin…

“Kau kenapa? Bukankah itu sudah perjanjian kita? Besok akan kuberikan uangnya padamu” kataku keras kepala. Aku terus menerus mengucapkan apa saja agar bisa menahannya lebih lama di sini

Aku belum mau kehilangannya

“Aku tidak mau!!!” teriaknya sambil berbalik menghadapku. Jejak air matanya masih membasahi wajah cacatnya yang membengkak sebagian, “Sudah kubilang aku tidak mau!!! ambil saja uang itu untukmu!!!”

“Kenapa kau tidak mau?? Ha? Bukankah kau memang menginginkan uang!” balasku agak kasar. Apalagi kalau bukan itu? Uang adalah alasan pasti kenapa dia mau membalas ciumanku barusan. Uang juga yang membuat Sungmin setuju setuju sama menjadi pertaruhanku

Tapi yang kudapati malah gelengan lemah dari kepala Sungmin, “Maaf Kyuhyun….aku…aku memang membutuhkan uang, tapi tidak untuk kali ini…aku—“

Dia?? Aku menganga tidak percaya. Sungmin tidak membutuhkan uang itu?? Walau dalam jumlah besar??

Berarti kenapa dia mau mencium—tunggu dulu!

Aku tersentak sambil terus menatap wajah Sungmin dari dekat. Tangisannya, suara paraunya dan penolakannya

Apakah itu berarti…..kalau Sungmin juga memiliki perasaan yang sama denganku?

“Katakan Sungmin!” kataku memojokkannya di pintu keluar taman, “Katakan apa yang seharusnya kau katakan dari tadi” aku terus memintanya dengan suara memohon. Katakan kalau kau memang mencintaiku atau tidak! aku akan berusaha menerima semuanya dengan lapang dada

Ia menyeringitkan dahi dan terdiam dalam kungkungan kedua tanganku

Aku mengulanginya sekali lagi, “Kenapa kau tidak menginginkan uang itu?”

“Aku—“ suaranya yang parau berubah gugup

“Kenapa kau malah menangis tadi?” desakku mulai bisa menebak semuanya.

“Kyuhyun—“ Benarkan, lihat saja raut wajahnya yang mulai memerah dengan kedua mata sembab sehabis menangis…ia menangisiku….bukankah itu berarti ia juga mencintaiku?

“Kenapa akhirnya kau mau membalas ciumanku?”

Terus saja aku mengintrogasi Sungmin sambil memenjarakannya agar tidak bisa pergi sebelum menjawab semua pertanyaanku

Ia terdiam. Aku tidak bisa menebak apa yang sedang Sungmin pikirkan. Aku hanya bisa menunggu dan terus menunggu. Meskipun begitu, sikap diamnya tidak membantu sama sekali

Aku menginginkan satu jawaban—hanya satu….

“Jawab Lee Sungmin, jawab saja!” kataku bersuara berat sehingga kembali menyudutkannya bersandar pada dinding pintu luar, “Katakan satu saja tentang perasaanmu…..dan semua akan berubah” bisikku sambil mengelus bagian wajah Sungmin yang rusak

Lagi lagi Sungmin berpaling—menghindari jemariku yang menyentuhnya, “Berubah?” ia mendengus skeptis, “apa kau yakin tidak lari terbirit birit dan mengejekku?”

Mengejek? Aku tersenyum dalam hati sambil membayangkan—apa yang sebenarnya Sungmin pikirkan saat ini. Betapa dangkal pikirannya itu mengenai diriku.

“Coba saja” tantangku semakin mendekatinya—mempersempit jarak di antara kami agar Sungmin tidak dapat mengelak lagi. Ia terlalu menguji kesabaranku dari tadi

“Katakan Sungmin, katakan saja….” pintaku berbisik di depannya. Nafas kami saling beradu sehingga saling menyapu wajah kami bersamaan. Keadaan ini membuat Sungmin tidak mempunyai pilihan lain kecuali menatap kedua mataku dalam dalam

Saat itu pula pertahanannya runtuh. Bibirnya bergetar hebat, wajahnya terlihat menyerah, dan bahunya terkulai lemas tanpa daya. Sungmin terus memandangku, terdiam sejenak lalu berkata, “Aku menyukaimu Kyuhyun” suaranya lemah seolah olah kata kata itu keluar begitu saja tanpa bisa di kontrol

Aku tersenyum mendengarnya. Meski aku sudah bisa menduganya, tapi tetap saja. Rasanya berbeda jika kau mendengar sendiri orang yang kau cintai menyatakan cintanya di depanmu.

Ini begitu istimewa…

“Nah akhirnya kau bisa juga mengatakannya” desahku merasa lega, “kenapa harus begitu lama sih! aku hampir saja menahanmu kalau saja masih keras kepala” aku berkata terus menerus sambil bersikap tidak menyadari sikap terkejutnya

Sungmin pasti tidak menyangka kalau aku mencintainya jauh sebelum ia mencintaiku juga

“Kau….” desis Sungmin kebingungan

“Aku juga mencintaimu Sungmin” Giliranku mengatakannya dengan tulus.

Akhirnya perjuanganku tidak sia sia!! Hmm, teman temanku harus tahu mengenai ini. Mereka sudah berjanji 500.000 won bukan? Tapi aku juga mau menghabiskan waktu bersama Sungmin……

Ah lebih baik aku memulangkannya dulu di rumah. Besok kan kami bisa bertemu lagi. Berbagi bekal lagi dan berbincang di belakang sekolah juga! Yah….tidak ada apapun yang bisa menghalangiku lagi untuk memilikinya

Teman temanku maupun luka itu…..

Aku memutuskan agar memulangkan Sungmin lebih cepat. Kuangkat tubuhnya dari atas tanah, memindahkan beratnya ke sebelah tanganku sementara kedua lengan Sungmin berpegangan ke belakang bahuku. Sungmin yang mengira aku hanya memeluknya berbalik merengkuh tubuhku sebelum berteriak kencang, “EH! Kau mau membawaku kemana!! Kyuhyun!! Lagipula bukankah kau bertaruh dengan teman temanmu??” tanyanya setengah terpekik bercampur rasa penasaran

“Tidak, mereka tidak datang” jawabku singkat. Lagipula mana ada yang mengintip kita dari tadi? Itukan bagian dari sandiwaraku di depanmu Sungmin. Wajahmu boleh sedingin es, tapi tetap saja kau masih terlalu naif di bandingkan diriku

Teriakan protes Sungmin mendadak teredam. Wajahnya merunduk tanpa kusadari sebelum bersembunyi dalam rangkulanku. Aku hanya bisa mendesah sebal ketika tahu kenapa Sungmin bersikap seperti itu

Orang orang lalu lalang

Pihak yang bisanya menghakimi orang lain secara fisik, kekayaan atau kedudukan. Apa begitu mengherankannya melihat aku menggendong seseorang seperti Sungmin? Hanya karena wajahnya cacat sebagian?

Dasar pemikiran yang dangkal….

“sudah biarkan saja….jangan memperdulikan mereka” bisikku menenangkannya.

Sungmin diam saja—tidak menjawab pertanyaanku bahkan sampai kami berdua berada di depan pintu rumahnya. Aku berusaha tersenyum selembut mungkin sambil mengelus wajahnya—mencoba menghiburnya walaupun terlihat sepele

“Besok aku akan menjemputmu ke sekolah, kita akan makan bekal sama sama lagi, dan aku akan bersamamu setelah pulang sekolah…..aku berjanji Sungmin” kataku masih terus menatapnya tanpa rasa bosan

Hmm, andai saja aku tidak buru buru menemui temanku itu—aku pasti akan menghabiskan waktu berduaan saja di dalam rumah Sungmin. Kapan lagi coba? Mumpung Ibunya belum pulang kerja. Lagipula Adjumma sudah memberikan anaknya secara tidak langsung kepadaku. Hehehehe, jadi ia pasti tidak masalah bukan kalau aku bertamu sekarang?

Ia mengangguk kaku mendengar ucapanku

“Bagus….” Sebelah tanganku mengelus rambut cokelatnya yang pendek seleher sambil menyingkirkan beberapa bagian rambut yang menutupi lukanya itu. Kalau begini kan Sungmin kelihatan lebih manis….

“Sana masuk ke dalam, sudah sore” suruhku seraya mendorong tubuhnya ke dalam rumah.

Tapi Sungmin bergeming di tempat. Matanya melihatku penuh selidik saat sebelah tangannya menahanku agar tidak pergi, “Kyuhyun—berjanjilah padaku ini bukan termasuk taruhanmu lagi? Kau serius—“

TARUHAN??!!

Mood baikku kembali rusak total!

Kenapa Sungmin suka seenaknya saja sih membuat kesimpulan? Kalau ini hanya bagian dari rencanaku buat apa aku menciumnya seperti tadi?? Aishhh!!!

Tidak ada yang bisa kukatakan. Aku memutuskan memeluk tubuhnya erat erat lalu berpindah mencium satu persatu separuh bagian wajahnya yang cacat. Pelan dan begitu hati hati.

Bibirku berhenti di sudut bibirnya—berusaha menjauh walaupun sulit. Ya! Kyuhyun! Kau sudah menciumnya barusan. Jangan sampai ia ketakutan lagi kalau kau menciumnya terus menerus! erangku dalam hati untuk menahan diri

Tatapanku beralih lagi ke arah matanya. Mata lugu Sungmin yang belum berubah.

Terkadang ketika kau kehabisan kata kata dalam mengungkapkan sesuatu, lebih baik kau membiarkan hatimu yang mengatakannya. Biarkan dia berbicara lewat kedua matamu agar bisa terlihat oleh orang lain

Dan itulah yang sekarang kulakukan pada Sungmin….

Awalnya Sungmin hanya melihatku agak heran. Tapi lambat laun, Tatapannya meredup, merunduk malu dan terlihat ada semburat merah di kedua pipinya

Ah—ternyata perasaanku tersampaikan juga…

Aku memutuskan melepasnya lalu memberi jarak di antara kami, “Besok aku jemput, jangan bangun kesiangan. Sana cepat istirahat!” ulangku dengan kejadian yang sama—pura pura mendorong masuk ke dalam rumah

Dan lagi lagi Sungmin tidak mau beranjak juga dari hadapanku. Sebelah tangannya masih mencengkram kemejaku sambil terus berbisik ketakutan, “Bagaimana kalau besok pagi aku tidak menemukanmu lagi?”

Ia takut kehilanganku? Seorang Sungmin takut kehilangan Kyuhyun? Hmm, jangan bersikap seperti ini Sungmin. Kau sama saja mencoba merayuku sekarang.

Arghh!! Padahal niatku sudah bulat untuk bertemu teman temanku, tapi kenapa sekarang aku malah enggan meninggalkannya sendirian saja. Di sini, di rumahnya..

“Aishh—kau betul betul tidak percaya padaku ya??” godaku merasa gemas bercampur kesal. Tidak ada salahnya kan mempermainkan Sungmin sebentar saja? hahahaha

Sungmin tiba tiba tertawa lebar seolah olah aku baru mengatakan sesuatu yang lucu sebelum merubah raut wajahnya—kembali datar, “Tidak!” katanya yakin

Tidak? Aku separuh tersenyum licik mendengar pengakuannya, “Baiklah Sungmin bagaimana kalau kita bertaruh?” kataku sambil berkacak pinggang di depannya, “Kalau besok aku tetap datang di rumahmu hingga seterusnya sampai kita lulus sekolah, kau akan memberikanku apa?”

Sikap Sungmin berubah serius, “Aku akan…” ia berkutit dalam pikirannya yang sekarang dengan mudah dapat kutebak

“Aku tidak butuh uang” tolakku sebelum Sungmin menawarkannya. Kan dia yang butuh uang, bukannya aku!

“Lalu kau mau apa???” tanyanya tanpa sadar membiarkanku memilih apa saja yang akan menjadi hadiahku nanti

Hmm….senyumku semakin lebar melihat wajah Sungmin dari dekat. Sebenarnya aku akan berniat mengatakannya saat kami lulus bulan depan. Tapi nampaknya permintaanku kali ini bisa kujadikan ajang taruhan supaya Sungmin akan tetap mengatakan iya sampai saatnya tiba nanti

“Aku mau…” Kucondongkan tubuhku ke arah Sungmin, mendekati telinga putihnya, menyapukan hembusan nafasku kesana sebelum berbisik pelan, “Kalau aku sampai menang taruhan…berarti aku berhak menikahimu begitu kita selesai SMA….” Ucapku tenang dan serius

Raut muka Sungmin memerah seketika. Ia terlonjak kaget, berpaling ke arahku dengan wajah setengah ngeri setengah geli kemudian memukul tubuhku bertubi tubi, “Ya! Kubilang jangan bercanda Cho Kyuhyun!!!” pekiknya kencang

“Hahaha—sayangnya aku tidak bercanda” ucapku sambil berlari menjauh—menghindari pukulannya. Aku terus berlari tapi tetap menghadap ke arahnya, “Kita lihat saja besok Sungmin!! Kau akan kalah!!!”

Aku yakin sekali mengenai taruhan ini. Kalau Sungmin tidak mau mengalah, aku akan membuatnya kalah….butuh 100 tahun untukmu Sungmin jika ingin mengalahkanku dalam taruhan hahahaha

“Belum tentu” Kulihat ia menjulurkan lidah—bersikap kekanak kanakan sebelum mengubahnya menjadi senyuman. Dari jauh Sungmin masih saja tersenyum sambil melambaikan tangannya. Aku mengangkat tanganku ke atas, menikmati wajahnya lekat lekat sebelum dengan enggan aku berpaling untuk berlari lebih cepat ke depan.

Aku berlari dan terus berlari. Tidak sabar menemui teman temanku, memberi tahu mereka bahwa aku menang lagi dalam taruhan ini . Berarti mulai besok aku bisa membawa Sungmin di depan semua temanku dan mengenalkannya sebagai pacarku

Hmm, aku semakin tidak sabar menunggu esok hari. Di mana hari hariku bersama Sungmin yang sesungguhnya baru akan di mulai……

-Kyuhyun PoV end-

15 tahun kemudian. Di depan pertokoan, Seoul—Korea Selatan

“Aku pesan satu lemon tea hangat”

“Kalau aku mau kopi pahit, di bungkus”

“Jangan lupa, satu buah roti melonnya juga!”

“Baik!” Seorang gadis muda terlihat kerepotan membuatkan pesanan satu persatu pelanggannya. Ia yang seorang diri mendirikan kedai sederhana menggunakan mobil tuanya, banjir peluh keringat sore hangat ini. Tangannya dan pikirannya hanya berkonsentrasi meramu, menyajikan atau membungkus ber-cup cup minuman ringan di atas meja pesanan.

“Ini dia pesanan anda!!” katanya ceria

Tapi para pelanggannya malah mendengus sebal melihat wajahnya lalu memberikan uang dengan kasar di atas meja kasir.

Gadis itu menelan ludah. Ini bukan kali pertamanya perlakuan tidak adil ia terima. Entah apa yang salah dengan wajahnya. Tubuhnya memang cukup pendek, berkulit agak gelap, berambut kemerah merahan. Itu saja! Wajahnya memang tidak secantik gadis gadis lain—tapi apakah ia harus mendapatkan perlakuan berbeda?

Gadis itu berpaling sedih, berusaha melupakannya dan termangu di depan mobilnya.

“Hai” sapa seseorang wanita manis yang membuyarkan lamunan gadis itu

“Eh…maaf, anda mau pesan apa Nona?” tanyanya halus dan sopan namun senyum penuh kehati hatian. Sudah sering senyuman manisnya malah di anggap dingin oleh orang lain.

Wanita itu tersenyum saja mendengar pertanyaan sang gadis, “Nona? Saya sudah nyonya—suami saya bisa marah kalau mendengar perkataan anda” katanya setengah bercanda

“Hahaha..maaf kalau begitu Nyonya” koreksinya sekali lagi, “Anda mau pesan apa?”

“Hmm…” wanita itu melihat menu dengan tertarik, “Aku mau satu kopi susu dan satu rose tea hangat, itu saja”

“Baik” Kelihaiannya membuat kopi dan teh tidak dapat diragukan. Maka dari itu para pelanggannya tetap datang walaupun tetap saja memperlakukan gadis penjual itu secara tidak adil

Selang beberapa menit, pesanan sang wanita sudah selesai. Gadis itu membawa sebuah plastik besar ke depan mobil, “Pesanan anda nyonya!” teriaknya ceria di sertai senyuman lebar

Bukannya mengambil plastik dari tangan sang Gadis, wanita itu malah mengulum senyum pelan. Di tatap gadis itu baik baik, “Anda cantik” pujinya spontan

“EH?” Gadis itu melongo tidak percaya, “Cantik? Hahaha, tidak Nyonya—anda yang cantik, bukan saya…” tiba tiba ia merunduk malu ketika salah seorang pengunjung lelaki yang duduk tak jauh dari mereka, menahan tawa mendengar perkataan wanita tersebut

“Kenapa kau begitu tidak percaya diri?” tanya wanita itu heran, “Kau memang cantik kok. Apa kau menyangka aku berbohong??”

“Bukan” ia menggeleng cepat, “Bukan begitu nyonya. Hanya saja….anda….hahahaha…” suara tawanya terdengar hambar dan sinar terang di wajahnya meredup, “Anda lihat kan? kulit saya berbeda dengan orang Korea kebanyakan? Kulit saya agak gelap, rambut saya merah, bukannya berambut cokelat, pirang dan berkulit putih. Mata saya tidak lebar dan bibir saya tidak terlihat imut seperti gadis gadis lain….saya—“ ia kehilangan kata kata. Kelihatan sekali gadis itu menyesal terlalu bercerita banyak kepada orang asing di depannya sekarang

Wanita itu terdiam sejenak

“Apakah itu berarti kau tidak cantik?” ulangnya sekali lagi

Sang gadis menggeleng lemah. Untung sekarang pelanggannya sedang sepi. Apa jadinya kalau semua orang menangkap dirinya semuram ini. Sang gadis berusaha menyembunyikan perasaannya bertahun tahun tanpa minta di kasihani seorang pun

Sejenak tidak ada yang mengeluarkan suara di antara mereka sampai wanita itu mengeluarkan dompet dari tasnya. Alih alih mengambil uang untuk membayar pesanannya, sang wanita malah mengeluarkan sebuah foto mungil lalu mengulurkannya ke arah sang gadis, “Kau lihat ini” suruhnya

Sang gadis menatap bingung wanita itu sebelum akhirnya memberanikan diri mengambil foto tersebut

Foto Sungmin dan Kyuhyun dalam pernikahan mereka

Gadis itu tersentak kaget dan langsung kembali memandang wanita di depannya—penuh tanda tanya, “Ini….”

Sang wanita tersenyum lebar, “Gadis itu beruntung. Kau lihat sebagian wajahnya yang hancur bukan? Tapi apakah kau lihat dia sedang ada di mana? Di pesta pernikahannya sendiri—ada seorang pria hebat yang mau menikahinya, apapun keadaan gadis itu. Dan sekarang beritahu aku, apakah gadis dalam foto itu cantik?”

Sang gadis bingung mau menjawab apa, “tapi nyonya—“

“Tidak ada tapi tapian!” potongnya agak geli—ia teringat benar suaminya sering memakai kata kata itu ketika mereka berselisih pendapat, “Kalau kau menganggap gadis itu cantik berarti kau berbohong padaku, tapi kalau kau menjawab gadis itu cantik dengan caranya sendiri baru aku percaya.”

Wanita itu mendekati sang gadis sambil mengulurkan sebelah tangannya untuk mengelus wajahnya yang memang cantik, “Cantik itu bukan di lihat dari fisik. Kita manusia, pasti ada hal buruk dalam diri kita tidak peduli sebagus apa penampilan terluar kita. Kau harus paham mengenai hal itu” bisiknya penuh kelembutan

Gadis itu tersenyum memelas, “tapi orang lain—“

“Jangan peduli kata orang lain! Bukan mereka yang menentukan hidup kita dan siapa diri kita. Biarkan kita menjadi diri sendiri, dan kalau kau bisa bersikap seperti itu, aku berani bertaruh kalau kau akan menemui seseorang—lelaki yang mencintaimu apa adanya” Wanita itu berdiri tegak lagi, masih tersenyum lebar, “Aku dan suamiku suka bertaruh loh hehehe”

“Tapi aku kan yang sering memenangkan pertaruhan” sambung seseorang yang tiba tiba saja sudah berada di belakang wanita itu. Ia spontan memeluk pinggang istrinya sambil menaruh kepalanya di bahu wanita itu

Kembali, gadis penjual kopi di buat terkejut. Ia menunjuk ke arah lelaki itu dengan tidak percaya sebelum berpaling melihat ke foto

Wajah Lelaki yang sama

“Anda suami Nyonya ini?” tanyanya memastikan

Kyuhyun mengangguk pelan sebelum mencium pipi Sungmin—sang wanita yang tidak di sangka sangka oleh gadis itu adalah orang yang sama!

“Berarti Nyonya…” di tunjuknya wajah Sungmin yang tidak bercela sama sekali. Berbeda 90 derajat dengan foto di tangannya, “Anda…”

Sungmin tersenyum penuh pengertian sebelum melepaskan tangan Kyuhyun dari pinggangnya dan berjalan mendekati gadis itu, “Aku memang dia. Karena alasan kesehatan aku akhirnya menjalani operasi plastik 5 tahun setelah pernikahanku.” Tubuh Sungmin condong ke depan sambil berbisik dengan suara kecil, “tadinya suamiku tidak mengijinkanku untuk operasi, kau tahu? Dia jauh lebih suka melihatku seperti itu..”

“EH?” gadis itu kembali menatap Kyuhyun yang hanya bisa menunggu agak jauh dari mereka berdua, “Lelaki setampan suami anda mau—aishh…anda memang beruntung nyonya, tapi kejadian seperti itu langka, mungkin saja aku tidak seberuntung anda…” balasnya bersikap pesimis

“Kata siapa??” ujar Sungmin di selimuti emosi, “Kau hanya perlu menjadi diri sendiri—bukan orang lain! Akan ada Kyuhyun yang lain untukmu! Percayalah, lagipula kata suamiku, lelaki tidak seburuk yang kita sangka, mereka baik kok” ketika mengatakan itu, Sungmin menjulurkan lidah ke arah Kyuhyun yang bingung melihat sikap aneh istrinya

Perlahan lahan gadis itu mengangguk mengerti sambil mengembalikan foto itu ke tangan Sungmin, “terima kasih Nyonya….anda membuat hari ini jauh lebih baik untukku” katanya tulus

“sama sama” Sungmin kembali berdiri tegak lalu berjalan menghampiri Kyuhyun, mengambil pesanannya setelah mengeluarkan beberapa lembar uang

Kyuhyun memeluk tubuh Sungmin lagi dari samping, “Kau siap pulang?”

Sungmin mengangguk dalam dalam. Tak lama ia berpaling melihat sang gadis, “Aku duluan yah—lain kali aku akan mampir….eh aku belum tahu namamu?”

“Luna!” jawab sang gadis bersemangat, “Anda bisa memanggilku Luna, Nyonya!!!”

“Baiklah, kami duluan Luna!!” Sungmin melambai menjauh sementara Kyuhyun menunduk formal sebelum menuntun istrinya berjalan di pelataran kota Seoul. Selama berada di sana, Kyuhyun sengaja berjalan pelan pelan untuk menikmati waktu berduanya dengan Sungmin, “Sungmin” panggilnya

“Hmm?”

“Sebagian besar aku bisa menebak pembicaraan kalian berdua tadi, tapi yang aku bingung—kenapa dia merasa dirinya jelek? Luna manis kok” kata Kyuhyun jujur

Sungmin mendesah panjang, “Aku juga tidak tahu. Padahal wajahnya tidak ada luka sama sekali—bahkan jerawatnya pun tidak ada! Aishh….omongan orang lain memang sangat kejam kadang kadang.” Sejenak Sungmin mendelik—sedang memikirkan sesuatu, “Tapi aku yakin tidak sampai seminggu, Luna pasti sudah punya pacar kalau ia mendengarkan omonganku” ujar Sungmin percaya diri

Kyuhyun menyeringai lebar, membuat senyum separuhnya malah mengundang rasa curiga Sungmin, “Aku berani bertaruh kalau Luna akan punya pacar kurang dari 3 hari, apa kau mau bertaruh melawanku Sungmin?” godanya sambil mengelus wajah Sungmin

“3 hari?” Sungmin meremehkan Kyuhyun, “tidak akan secepat itu, Luna orangnya pemalu, seminggu! Yah, pasti seminggu!”

“Ok!” Kyuhyun berhenti berjalan dan mengubah posisi berdirinya berhadap hadapan dengan Sungmin, “kita bertaruh Sungmin—kau seminggu, aku kurang dari 3 hari atau 3 hari penuh, bagaimana istriku??” tantangnya sambil mengulurkan tangannya untuk berjabatan dengan Sungmin

“Apa dulu imbalannnya??”

Sejenak Kyuhyun pura pura berpikir walau sebenarnya ia sudah tahu akan meminta apa kepada Sungmin, “Kalau kau menang aku janji tidak akan memaksa lagi untuk punya anak, tapi kalau aku menang—berarti…” Kyuhyun sengaja menggantung kalimatnya. Menikmati wajah Sungmin yang berubah keunguan—menahan marah tapi segera berubah merah merona mendengar taruhan mereka

“Tapi Kyuhyun! Anak kita udah tiga?? Dan sudah lengkap, 2 laki laki, 1 anak perempuan….memangnya kau mau punya anak berapa??” tanya Sungmin sedikit frustasi

“Hmm…” kedua mata Kyuhyun menari nari ke samping—pura pura sedang berpikir, “aku mau punya 2 anak lagi!!! gimana?”

GUBRAKK

Tubuh Sungmin agak oleng dan mau jatuh ke tanah kalau saja Kyuhyun tidak segera menahannya, “Kau?!” Ia hendak menjitak kepala Kyuhyun kalau saja suaminya tidak berkelit dengan mudah, “memangnya kau mau membentuk Group penyanyi apa? Yang anggotanya lima orang gitu??” sindir Sungmin tanpa ampun

“Hahaha tidak Sungmin, tapi aku senang kalau rumah kita ramai..ayolah….” bujuk Kyuhyun merangkul Sungmin dari belakang sambil melanjutkan perjalanan mereka

“Fuih~ baiklah…” kata Sungmin mengalah, “Aku mau punya anak lagi, kalau kau menang dalam taruhan kita! Tapi kalau tidak? silahkan bermimpi saja Tuan Kyuhyun”

“Sungmin Sungmin…apa kau lupa…” bisik Kyuhyun tepat di telinga Sungmin, menggelitik kuping istrinya itu dari dekat, “aku ini tidak pernah kalah melawanmu, bersiaplah untuk punya anak lagi Sungmin..”

“Belum tentu, 3 hari kan? kita lihat saja nanti” sergah Sungmin buru buru sambil melirik ke arah jam tangannya. Ia baru menyadari kalau mereka sudah berpergian seharian sejak pagi tadi, “Ayolah kita jemput anak anak di rumah Umma, kasihankan Umma kerepotan seorang diri di rumahnya”

“Baiklah~ ayo” Mereka berdua berjalan lebih cepat, melewati orang yang mulai lalu lalang keluar karena sekarang jam pulang kantor. Kyuhyun dan Sungmin nampak terburu buru sehingga tidak sadar menabrak seorang pria tegap yang baru turun dari bus di depan halte

Pria tersebut mendesah kesal sejenak, tapi tak lama ia melirik ke sekeliling—mencari tempat nyaman untuk beristirahat sejenak. Tatapannya berhenti di sebuah kedai sederhana tak jauh dari jalan besar. Kedai kopi milik Luna.

Karena di lihat tempat itu terasa sejuk. Ia akhirnya memilih mendekat sambil duduk di salah satu bangku yang kosong.

Saat itulah Luna menghampirinya sambil tersenyum lebar, “Anda mau pesan apa Tuan?” suaranya berubah ceria dan bersemangat. Kali ini ia tidak peduli lagi dengan perkataan orang. Toh ternyata memang lebih baik menjadi dirinya sendiri ketimbang berusaha menyenangkan orang lain

Lelaki itu menatap malas ke menu yang di berikan Luna, “Apa menu andalan di sini?” tanyanya datar.

“Hmm, bagaimana kalau secangkir teh hangat untuk anda” ucap Luna berbeda dengan yang di minta pria itu, “Ah—maaf bukan saya lancang, tapi wajahnya anda terlihat lelah sehingga harus merilekskannya dengan teh….” Suara luna menghilang ketika lelaki itu menatapnya penuh selidik, “Maaf….” Luna tertunduk dalam dalam, “Maaf kalau anda terganggu, saya hanya menyarankan” katanya cepat cepat—takut lelaki itu merasa kesal

Namun sang lelaki malah tertawa terbahak bahak. Rasa lelahnya meluap seketika, “Kau ini…..kenapa setakut itu, aku tidak menggigit orang kok…….” Candanya sambil mengembalikan menu ke tangan Luna, “Baiklah—berikan aku teh buatanmu dan kau punya makanan apa untukku—yang bisa menghilangkan rasa capek?” tanyanya setengah menggoda Luna.

Luna menahan senyum lebarnya. Baru kali ini ada pelanggan yang bisa berinteraksi dengannya tanpa rasa jengah, “saya punya salad, atau mie ramen hangat—siapa tahu anda butuh yang hangat hangat? Roti juga ada—“

“Tidak—aku mau mie ramen saja, mengenyangkan..” Lelaki itu masih bertopang dagu menatap Luna bahkan saat gadis itu pergi menjauh untuk membuatkan pesanannya

Selang beberapa menit Luna kembali membawa nampan besar lalu meletakan satu persatu pesanan pria itu, “Ada lagi yang anda butuhkan?” tanyanya ramah

“Tidak….terimakasih” balasnya mulai mengambil sumpit dan menghirup aroma sedap dari mangkuk ramen

“Kalau anda butuh sesuatu, bisa meminta padaku—selamat makan” Luna merunduk dalam dalam sekali lagi dan hendak pergi menjauh sebelum sang lelaki menahan tangannya, “bagaimana aku memanggilmu kalau namamu saja aku tidak tahu?” katanya lugas

“Namaku?” sikap Luna berubah gugup. Biasanya semua orang memanggilnya pelayan—tidak pernah ada yang menanyakan namanya secara langsung, terkecuali Sungmin yang datang tadi siang. “Anda bisa memanggilku pelayan kalau mau” jawab Luna merendah

“Hmm” desis sang lelaki gemas, “Yang aku tanyakan namamu, bukan apa panggilanmu?” desaknya lagi

Luna tertegun. Ia melirik tangan laki laki itu belum mau melepasnya dari tadi, “Luna…” akhirnya Luna memilih berkata terus terang, “Namaku Luna…”

Lelaki itu tersenyum tipis sambil melepaskan tangannya dari lengan Luna, “Aku Wonghyun, senang bertemu denganmu”

“Ah iya….” sekarang mereka berdua bingung mau mengatakan apa lagi, “Aku—aku kembali ke belakang saja….” Buru buru Luna pergi terbirit birit sementara Wonghyun memakan ramen sambil melirik tingkah Luna yang menurutnya lucu

Bisikan Sungmin tadi siang berputar dalam pikiran Luna saat ini

Akan ada seseorang untukmu kalau kau bisa menjadi diri sendiri—bukan orang lain…

________________________________________________

“Terima kasih lain kali kembali!!!” teriak Luna bersemangat.

Ibu ibu yang membeli di kedai mulai membalas senyum Luna. Melihat itu rasa bahagia Luna semakin memuncak. Ia terus saja bekerja keras sambil melayani semua pelanggannya dengan sepenuh hati tanpa tersadar hari menjelang sore. Saat itu pula, Luna melirik ke jalan besar—menunggu seseorang muncul dari sana

Benar saja, Wonghyun terlihat berlari kencang ke arah kedai Luna. Dan saat pandangan mereka bertemu. Senyum tulus itu kembali terukir sempurna di wajah masing masing.

“Mau kubantu?” tawar Wonghyun pura pura berbasa basi

Luna menggeleng sambil menyuruh Wonghyun duduk di dekatnya, “Kau di sini saja…biar aku siapkan sesuatu untukmu” ia berjalan menjauh, mengambil dua mangkuk ramen dari dalam mobilnya, “ayo kita makan berdua”

“Terima kasih” Wonghyun menghirup aroma lezat ramen tersebut kemudian berbalik menatap Luna.

Lagi lagi mereka tersenyum lebar. Walaupun tidak satu katapun terucap di antara mereka namun ada sesuatu yang bahkan orang luar bisa lihat begitu jelas…

“Aku menang” sahut Kyuhyun dengan sangat puas. Sengaja ia merangkul pundak Sungmin yang menggerutu sejak tadi sambil melihat diam diam ke arah kedai Luna—di mana kedua pasang tersebut sedang makan ramen bersama sama, “Bagaimana Sungmin..ini bahkan baru dua hari tapi Luna sudah punya pacar….berarti kau kalah lagi…” kata Kyuhyun menyeringai lebar

“Tapi kan mereka masih dekat” potong Sungmin masih tidak mau mengaku kalah, “belum tentu mereka berpacaran!”

“Kau tidak yakin?” Alis Kyuhyun naik sebelah, “apa mau kita bertanya langsung??” sambungnya lagi hendak menghampiri mereka semua ketika Sungmin menahan tubuhnya, “Tidak usah, nanti kita mengganggu mereka lagi! Iya iya—aku mengaku kalah, puas??” sindir Sungmin pasrah

Kyuhyun memalingkan kepalanya ke arah Sungmin, “Kau mengaku? Baiklah!!” Dengan lihai, Kyuhyun mengambil telepon genggam dari saku celananya lalu menghubungi seseorang di seberang sana, “Umma? Iya…ini aku, boleh aku titip Sulli, Onew dan Jonghyun di rumah Umma? Hmm, kalau bisa untuk dua hari—”

“Dua hari??” mendengar itu, Sungmin berusaha mencengkram baju Kyuhyun, “Mau—mpphhh” mulut Sungmin di bungkam Kyuhyun cepat cepat agar tidak memotong ucapannya, “Iya Umma—rencanaku berhasil, Sungmin akhirnya mau menambah anak lagi…Umma senang kan?” ujar Kyuhyun menahan rasa senangnya tanpa memperdulikan sikap berontak Sungmin di sebelahnya, “Tenang saja Umma…..aku akan bekerja keras, hehehe~”

PIIP

Bersamaan saat Kyuhyun menutup teleponnya, ia juga melepas tangan kanannya yang menutup mulut Sungmin dari tadi.

Dan kemarahan istrinya memuncak mengetahui akal busuk Kyuhyun yang ternyata bekerja sama dengan Ibunya sendiri, “Kau?? dan Umma??” desisnya penuh amarah

“Umma juga mau kau punya anak lagi” jawab Kyuhyun tanpa rasa bersalah, “Sudahlah marahnya nanti saja—sekarang kau dan aku punya urusan yang harus kita kerjakan sebelum anak anak pulang nanti”

“Tapi—Kyu—huaaa…” Seolah olah kembali ke masa lalu. Kyuhyun pun menggendong tubuh Sungmin dengan sebelah tangannya. Sungmin yang sudah mengaku kalah akhirnya berhenti berteriak, ia hanya merunduk dalam pelukan Kyuhyun sambil menyembunyikan wajahnya di sana

“Kenapa kau merasa malu? Luka itu tidak ada lagi bukan” bisik Kyuhyun lembut

Sapuan nafas Sungmin tepat mengenai leher Kyuhyun saat istrinya mengalungkan tangannya, “Aku malu bukan karena itu Kyuhyun, tapi karena sikapmu….lihat saja—mereka pasti berpikir macam macam tentang kita”

Memang benar ucapan Sungmin. Siapapun akan memandang aneh ke arah mereka berdua. Tapi Kyuhyun hanya mengangkat bahu—tidak peduli, “dan apakah kau mau kuturunkan??”

“Tidak…” elak Sungmin semakin mengeratkan pelukannya, “aku memang malu—tapi aku sudah terbiasa untuk itu…” Ia menatap wajah Kyuhyun lekat lekat kemudian mencium ringan pipi suaminya sendiri, “Aku mencintaimu Kyuhyun”

Kyuhyun tertawa kecil sambil menyuruh Sungmin agar mendekat lalu menciumnya tepat di bibir Sungmin, “Aku juga mencintai Sungmin—sangat..”

“Aku tahu…”

Semakin dekat mereka persimpangan jalan, Kyuhyun bergegas membelok ke sebuah jalan lebih kecil, berjalan lurus, memotong jalan setapak sampai ke sebuah mungil di mana Kyuhyun dan Sungmin menghabiskan waktu bersama sama anak anak mereka

“Tapi Kyuhyun besok apa kau tidak kerja?” tanya Sungmin ketika Kyuhyun menurunkan tubuhnya supaya bisa membuka pintu depan rumah

“Aku kan Dokter—bisa datang kapan saja, lagipula besok tidak ada jadwal operasi….tenang saja Sungmin, pokoknya kau tidak boleh menghindar lagi kali ini!” ancam Kyuhyun separuh bercanda

Sungmin mendesah kalah. Ia sudah berjanji dan harus menepati apa yang telah ia ucapkan.

“Ayo…” ajak Kyuhyun mengulurkan kedua tangannya, membawa Sungmin kembali ke dalam pelukannya. Setelah itu Kyuhyun menutup pintu rumahnya rapat rapat. Dari luar terdengar bunyi berderik aneh dari lantai rumah mereka. Suara tersebut perlahan lahan menghilang di telan malam yang semakin mencekat sehingga memberikan ketenangan bagi Kyuhyun dan Sungmin. Keduanya menikmati malam malam mereka dengan perasaan bahagia

THE END

Read More...

Rabu, 03 Agustus 2011

Beauty (or) The Beast?

Author : Sebastian Mamoru
Title : Beauty (or) The Beast?
Cast :
Cho Kyuhyun
Lee Sungmin
and other cast ^^


Sungmin PoV

“Dasar anak tidak tahu di untung!!! Seharusnya kau sadar siapa dirimu!!! Membantah saja bisanya!!!” hardik Ummaku sambil mengayunkan sendok sayur ke atas kepalaku



Dan bodohnya aku tidak berusaha menghindar, buat apa? Toh kejadian ini sudah menjadi makananku sehari hari

Pukulan, hinaan dan caci maki adalah bagian dari hidupku



Ya mungkin kau akan heran—Dia Ibuku sendiri tapi kenapa begitu tega memukul anak kandungnya?



Entahlah aku juga tidak tahu. Aku berusaha mencarinya selama 8 tahun dan masih belum menemukan jawabannya

Mungkin aku tidak akan pernah menemukannya….



Setelah berhasil membuat lenganku lebam akibat pukulannya—Umma baru memperbolehkan aku pergi ke sekolah. Yah, untuk hari ini aku terpaksa memakai jaket lagi untuk menyembunyikan luka ini



Suasana di sekolah pun tidak lebih baik. Semua orang mengucilkan aku layaknya orang terasingi. Dengan lunglai aku berjalan lesu masuk ke ruang kelas. Biasanya aku duduk sendiri di pojok belakang tanpa seorang temanpun



Ya, aku sendiri……



Di rumah ataupun di sekolah, keadaanku sama saja



Penolakan, hal itu sudah kuterima sejak umurku 8 tahun—sejak aku mengalami luka cacat permanen di separuh wajahku akibat kecelakaan mobil. Ibuku yang tidak punya biaya lebih, akhirnya membiarkan luka cacat ini terpampang jelas.



Aku harus menggunakan sebagian rambutku agar bisa menutupi luka wajahku agar tidak tampak mengerikan. Yah…gara gara itu semua orang menyebutkan jelek! Bukan jelek seperti standar setiap orang—namun jelek karena luka ini

Apakah aku menyesalinya? Tidak! Dengan luka di wajahku aku belajar sesuatu yang tidak bisa di pelajari oleh orang lain.

Yaitu ketulusan….

Meski yah…ternyata sulit sekali menelan dan berbicara lancar menggunakan separuh mulutnya yang terbujur kaku karena kehilangan fungsinya seperti sedia kala

“Hmmm….” Aku mengeluh sejenak ketika menatap nanar ke arah bekal makan siangku. Kenapa Ibu selalu lupa aku tidak suka telur asin?? Aishhh….terpaksa kan aku memakannya pelan pelan. Tanpa Ibuku ketahui sebenarnya mulutku agak kesulitan menelan segala sesuatu—sekalipun itu telur lembut seperti menu makan siangku ini. Ah…harus pelan pelan. Bisikku sambil mencoba menggerakan sebagian wajahku yang sudah mati rasa



“Hei!” suara seseorang lelaki membuyarkan dunia kecilku. Spontan aku menoleh ke arah sumber suara, “Ada apa?” tanyaku singkat—tidak mau buang buang waktu untuknya. Seperti tidak tahu dia saja. Lebih baik aku mengacuhkan lelaki ini seolah olah aku tidak mendengar panggilannya



“Ya!! Lee Sungmin!!! Aku berbicara denganmu!!” bentak lelaki tersebut seraya menghentakkan mejaku dari depan

Aku menatapnya heran, “Aku kan sudah bilang ada apa, Kyuhyun?” ulangku tidak peduli



Kyuhyun menyeringai tajam lalu kembali duduk di sampingku, “Bagaimana kita pacaran saja?” tembaknya langsung



“Apa aku tidak salah dengar?” kataku tidak menunjukkan ketertarikan. Sudah bisa kuduga ia dan teman teman se gengnya pasti sedang bertaruh mengenai aku—entah apa tepatnya. Tapi pasti aku hanya menjadi ajang pembuktian. Seperti yang sering aku alami dulu



Kyuhyun terhenyak sedikit sebelum mengubah raut wajahnya yang kuakui memang tampan, “Aku tidak bercanda…besok pulang sekolah—tunggu aku di taman belakang, kau mau kan?”



“Baiklah” jawabku enteng. Toh membuat namja tampan ini senang tidak dosa bukan?



Kulihat dari sudut mataku yang cacat, Kyuhyun menyeringai tajam dan memberikanku kiss jarak jauh sebelum kemudian menghilang dari dalam kelas



Seluruh murid mulai berguncang mengenai kejadian yang barusan terjadi. Mereka menatapku sinis dengan bisik bisik yang mudah kutebak. Ah jangan pikirkan Sungmin—kita lihat saja nanti, aku akan meminta konsekuensi tindakan Kyuhyun kepada orangnya langsung!





____________________________







“Ng…” Kyuhyun kelihatan salah tingkah. Ia mengacak rambut cokelatnya ke arah belakang. Pasti kalau yang melihat adalah penggemarnya di sekolah—mereka akan berteriak histeris sekarang



Namun aku tidak. Kyuhyun adalah orang kesekian kali yang membuatku tersadar kalau lelaki adalah mahluk terkejam yang pernah ada



“Aku menyukaimu Lee Sungmin” ucapnya terdengar er…sedikit membosankan



“Lalu?” balasku dingin



Hampir selusin pria tampan tapi brengsek di sekolahku pernah menembakku—mengajakku kencan pula meski yah…aku tahu kalau mereka ujungnya malah mempertaruhkanku layaknya sebuah barang mainan bagi teman temannya



Dengan berani Kyuhyun berjalan mendekatiku,menyudutkanku berdempetan dengan tembok. Tatapannya terfokus pada bibirku yang setengah cacat parah. Aku hanya bisa mendesah—sudah bisa menebak apa kali ini kemauannya



“Kau mau menciumku?” kataku tanpa berbasa basi



“EH” Wajah Kyuhyun berubah terkejut mendengar ucapan lugasku, “aku…” suaranya agak terbata bata sekarang



“Sudahlah—berapa won kau taruhan dengan temanmu” bisikku dari sudut bibirku yang normal, “Jangan bohong aku tahu di dekat kita pasti temanmu sudah mengintip dari jauh kan? Aku tahu semuanya Kyuhyun” jelasku bernada dingin



“Kau??” Kyuhyun menunjukku tidak percaya dengan kedua tangannya masih memenjaraku di sudut taman, “Kau sudah tahu??”



Aku mengangguk pasti



“Kau bukan orang pertama yang menjadikanku bahan taruhan, sekarang beritahu aku—berapa jumlah semua taruhanmu??” kataku balik bertanya



Masih menatapku tajam, Kyuhyun kembali membuka suaranya, “30.000 won” tuturnya jujur



“Nah Kyuhyun beri aku setengah dari uang taruhanmu dan aku akan membiarkanmu memenangkannya, bagaimana??” tawarku ringan



Sudut sudut wajah Kyuhyun mengkerut—tanda ia benar benar bingung dengan sikapku, “Kau—kau masih mau di jadikan bahan taruhan lalu malah berani meminta setengah bagian taruhan juga??” suaranya berubah marah walaupun ia hanya mendesis kecil takut kelihatan orang lain kalau kami berdua sama sama bersandiwara



Aku memandangnya pedih, “Semua orang butuh uang Kyuhyun dan aku tidak sekaya dirimu. Sekarang kau bisa memutuskan, meninggalkanku di sini lalu kalah dari teman temanmu, atau…kita lakukan taruhanmu dan memberikan sebagian uangnya untukku” bisikku memberi penawaran



Kyuhyun mendesah panjang—aku tahu harga dirinya jauh lebih berharga di bandingkan uang puluhan ribu won saja. Semenit kemudian, Kyuhyun akhirnya mengambil keputusan lalu mengangguk samar



Aku tersenyum sebagai jawabannya. Dengan sebelah tangan aku memberanikan diri meraih tubuhnya agar mendekat, “Lakukanlah—cium aku”



“Ah iya…aku sampai lupa” Kyuhyun merundukkan kepalanya sebelum memulai menutup kedua matanya sementara aku hanya berdiam diri saja. Dalam hati sebenarnya aku lebih penasaran dengan reaksinya ketika menyentuh bibirku yang kaku dan kasar. Apakah ia tidak merasa jijik??



Dan benar saja, tidak sampai 1 menit Kyuhyun mencium bibirku yang separuh cacat, Ia segera menarik dirinya, “Ukh…” cibirnya sambil mengusap usap bibirnya menggunakan punggung tangan, “bibirmu benar benar buruk!” katanya kasar



Aku tersenyum saja menanggapi kritikan pedasnya, “baru tahu?” ejekku, “10 menit—aku akan menunggumu di ujung jalan besar, berikan uangnya kepadaku kalau tidak aku akan membuatmu malu besok pagi”



Seolah tidak terjadi apa apa. Aku memungut tasku di rerumputan lalu berjalan keluar meninggalkan Kyuhyun termangu mangu seorang diri





*****







“DARIMANA SAJA KAMU SUNGMIN!!!”



“Maaf..Umma…tadi aku ada perlu dengan teman—

PLAKKK





Sebuah tamparan keras mengenai bagian wajahku yang tidak rusak. Umma menarik nafasnya sebelum kembali membentakku, “Kau!! Umma capek capek bekerja seharian untukmu! Tapi kau malah pulang sore hari!!! Maumu apa Sungmin!!”



“Maaf…aku…” dan untuk kesekian kali hanya kata maaf terucap selagi aku merunduk menahan sakit di bagian wajah dan hatiku.



Harus kuakui aku memang kebal mendapat perlakuan di hina oleh orang lain, di ejek teman teman sekelas ataupun menjadi ajang taruhan bagi mereka



Tapi ketika Ibuku sendiri—menghinaku dengan bibirnya, menjauhiku seolah olah aku penyakit berbahaya. Aku terus menangis dan menangis di kebun belakang rumah. Menyesal kenapa aku masih hidup hanya untuk menyusahkan dirinya?



Bukannya aku tidak tahu kenapa Umma bersikap demikian kasar terhadapku. Semenjak Appaku meninggal dalam kecelakaan mobil waktu itu. Ummaku menghabiskan seluruh hartanya hanya demi membiayai sebagian wajahku yang hancur parah. Walaupun uangnya terlanjur habis ketika wajahku membutuhkan dana lebih untuk operasi plastik



“Hmm…” Segera aku hapus air mata dari wajahku saat kembali ke dalam kamar. Di sana aku mengeluarkan setumpuk uang yang diberikan oleh Kyuhyun, “Seribu….dua ribu….jumlahnya masih kurang….”



Yah, tanpa diketahui siapapun sebenarnya selama ini aku mengumpulkan uang dari ajang taruhan teman sekolahku demi biaya operasi plastik wajahku sendiri. Aku tidak mau merepotkan Umma lagi. Aku sadar kalau keberadaanku saja sudah menyusahkannya. Jangan sampai ia akhirnya kalap dan berbalik membenciku



Jangan Tuhan….hanya Umma yang aku miliki sekarang……aku tidak punya siapapun lagi





*****





“Lihat tuh si buruk rupa lewat kemari—apa kau tidak ingin menciumnya lagi Kyuhyun~” ujar salah seorang teman lelaki Kyuhyun yang tidak aku tahu namanya siapa. Masa bodoh, lebih baik kau jalan terus Sungmin!





“Aigo~ apa rasa bibirnya Kyuhyun? Pasti rasa lumpur kan hahahaha” ternyata penghinaanku terus berlanjut. Aku lihat Kyuhyun hanya mengangkat bahu lalu memalingkan wajahnya ketika aku memandangnya dari dekat. Ah, biarkan saja Sungmin, toh ini sudah makan sehari harimu selama ini



Aku pasti bisa melewati mereka. Dasar namja kurang ajar!!. Umpatku dalam hati



Setelah berhasil kembali ke dalam kelas, aku menghirup nafas panjang. Tapi ternyata kebebasanku tidak berlangsung lama.



Tiba tiba saja Kyuhyun mengejarku dan menepuk pundakku dari belakang, “Sungmin!! Aku mau bicara padamu!!”



Aku berbalik dengan malas, “ada apa?” tanyaku berusaha ramah—toh bagaimanapun Kyuhyun sudah baik mau memberikanku sebagian uangnya kemarin sore



Raut wajah Kyuhyun nampak aneh. Ia berdiri sangat dekat denganku sebelum tertunduk lalu membisikkan sesuatu di telingaku, “Aku mau kita pacaran sekarang” ucapnya tegas



“Eh?” Alisku naik sebelah, “Kau taruhan lagi??” tuduhku kesal



“Iya—dan kali ini taruhan kami besar besaran…..500.000 won” sambungnya lagi



Terang saja aku membelalakkan mata lebar lebar—sungguh jumlah yang sangat besar untuk anak sekolahan seperti kami

“Apa kau bersedia??” tanya Kyuhyun mengajukan penawaran kepadaku



“Apa kau mau memberiku setengahnya?” kataku tidak percaya—jangan bilang ini adalah jebakan dari teman temannya yang jahat itu!



Senyum Kyuhyun semakin lebar saat mendengar pertanyaanku, “Bukan sebagian—tapi semuanya”



“Semuanya???” Aku benar benar terkejut sekarang—separuh wajahku ikut tertarik ke atas dan membuatku nampak makin mengerikan. Kyuhyun pasti sudah gila! Uang itu kan tidak sedikit jumlahnya, “Tapi—“



Kyuhyun memberikan isyarat agar aku diam agar bisa mendengarkan ucapannya, “Mulai besok aku akan menunggumu di taman belakang seperti biasa—selama seminggu. Aku sudah janji dengan teman temanku—di sanalah tempat strategi agar mereka bisa mengintip kita tanpa di curigai olehmu” Kyuhyun memberikan tanda kutip pada kata kata terakhir



“Kyuhyun aku tidak bisa—Ummaku akan marah kalau aku pulang sore! Apalagi selama seminggu!!” pekikku mulai ketakutan, “Mungkin kali ini aku harus menolak”



“Jangan!!” elak Kyuhyun cepat cepat, “Aku sudah terlanjur mengatakan iya kepada teman temanku!! Hmm, baiklah—nanti aku akan meminta ijin dengan Ummamu terlebih dahulu” katanya meremehkan masalahku



Umma? Dia bilang Umma? Apa kata Ummaku kalau sampai aku berani membawa namja di hadapannya!!!

“Tidak Kyuhyun Aku—“



“Tidak ada tapi tapian!! Kemarin aku sudah membantumu, sekarang giliran kau membantuku!!” Akhirnya Kyuhyun menarik diri karena hampir seluruh murid melihat ke arah kami berdua dimana sejak tadi Kyuhyun terus saja berbisik di telingaku, “Nanti aku tunggu kau di gerbang sekolah” katanya final.



Sebelum aku bisa mengatakan sesuatu Kyuhyun sudah menghilang sambil melambaikan tangan dari jauh. Dia tega membiarkanku pusing sendirian di depan kelas





_________________________________________







“Jadi kau ini…”



“Saya Cho Kyuhyun Adjumma, teman satu sekolah anak anda Lee Sungmin”



“Oh~”



Sekarang aku menghadapi malapetaka besar. Kyuhyun benar benar nekat datang kerumahku—menemui Ummaku untuk meminta ijin mengenai keterlambatanku setiap pulang sekolah. Aku saja heran di buatnya—Kyuhyun berniat sekali menang taruhan kali ini!



“Apakah Adjumma mengijinkan jika Sungmin akan pulang telat mulai hari ini?” tanya Kyuhyun sopan, “tenang saja—aku akan mengantarnya pulang setiap malam” tambahnya lagi



Umma memandang Kyuhyun dengan tatapan menilai, “Apakah kau menyukai Putriku?” celetuknya tiba tiba



“Tidak Umma kami—“, “Ya!” ucapku dan Kyuhyun bersamaan



“EH?” Kutatap tajam Kyuhyun—tapi ia tidak peduli. Perkataan demi perkataan mulai di keluarkannya lagi, “Kami memang sedang dekat, tapi aku tidak bisa mengatakan kami berpacaran selama Sungmin tidak merasakan hal yang sama” ujarnya panjang lebar



APA KYUHYUN SUDAH GILA!!! Teriakku dalam hati



Wajah dingin Umma mendadak berubah total. Senyum yang sudah lama tidak aku lihat sekarang terpampang jelas di wajah tuanya, “Apa yang kurang dari dia Sungmin!” tegur Ibuku setengah senang, “masa kau tidak menyukainya???”



“Aku…” lagi lagi aku memberikan tatapan mematikan dengan sebelah mataku yang rusak ke arah Kyuhyun yang malah senyum senyum saja melihat reaksi senang Ibuku



“Sudahlah Adjumma jangan di paksakan—nanti akan tiba saatnya Sungmin menyukai saya” kata Kyuhyun percaya diri



“Iya” jawab Umma ikut setuju



Aishh!! Kalau saja Umma tidak ada—aku akan membuat wajah Kyuhyun menjadi cacat seperti diriku!!



“Ah~ baiklah jangan biarkan Adjumma menahanmu—mulai besok kau boleh membawa Sungmin pergi, tapi ingat pulangnya jangan malam malam—kalian kan masih anak sekolah” nasihat Ummaku



Kyuhyun merunduk formal, “aku janji Adjumma sekarang aku permisi pulang dulu” ia beranjak bangkit lalu di antar oleh Umma hingga ke depan gerbang



Setelah mendengar pintu rumah kami tertutup kembali, Aku menegakkan badan—takut di marahi Umma seperti biasa



“Sungmin…” bisik Umma tiba tiba memelukku dari belakang



“hmm, Umma kenapa?” tanyaku mulai khawatir



“Tidak—umma hanya senang, akhirnya….” Pelukannya di tubuhku semakin erat sementara Umma terus saja berbicara, “Maaf kalau Umma sering bersikap kasar terhadapmu—Umma takut sekali kalau tidak ada seorangpun yang bisa menerimamu dengan wajah seperti itu. Setiap hari Umma bekerja keras dua kali lipat untuk menabung biaya operasimu, memang jumlahnya masih sedikit, tapi sabarlah—Umma akan bekerja lagi!!” katanya tegas sambil mencium pucuk kepalaku



“Umma..” bisikku baru tahu mengenai hal itu, “Aku…”



“Tapi Umma sepertinya salah besar, lihat saja Kyuhyun—dia anak baik Sungmin. Dia mau menerima keadaanmu, Umma akan senang sekali jika kau mau menerima dia sebagai kekasihmu”



DEG



Jantungku berdetak lebih kencang. Deru nafasku memburu di sertai keringat dingin di sekitar wajah. Semangatku pun langsung menghilang ketika mendengarkan kalimat terakhir. Aku mulai tertunduk penuh rasa bersalah. Bagaimana jika Umma tahu kalau aku hanya membantu Kyuhyun memenangkan taruhan itu….



“Umma aku—“



“Ssst! Anak Umma harus tidur cepat, sana kau kembali tidur!!” suruh Ummaku sambil mendorong tubuhku menjauh



Ya Tuhan apa yang harus kulakukan sekarang!!!





____________________________________________





Sikap Umma berubah drastis. Ia benar benar tidak pernah memukulku lagi. Umma malah memberikanku bekal makan siang dengan isi semua makanan kesukaanku. Aku mengulum senyum pelan pelan karena sebagian wajahku yang terkadang suka mati rasa jika di gerakan terlalu lama



Dan seperti janjiku—setiap pulang sekolah aku akan berduaan di taman belakang bersama Kyuhyun. Di sana kami membicarakan apa saja yang bisa di perbincangkan. Hari ini aku bercerita tentang keanehan sikap ibuku



“Itu tidak aneh” kata Kyuhyun sok bijak, “Ibumu mungkin terlalu stress dengan pekerjaannya dan frustasi karena uangnya belum terkumpul juga untuk biaya operasimu makanya ia jadi gampang emosi” jelasnya memakai hipotesa yang lumayan akurat



“Mungkin saja tapi aku tidak enak jika perjanjian kita sudah berakhir lalu Umma…” aku sengaja tertunduk—menghindari tatapan Kyuhyun yang hanya menarik nafas panjang berbaring di rerumputan, “Bilang saja aku sibuk kegiatan tambahan, nanti aku akan sekali kali main kerumahmu agar beliau tidak curiga” kata Kyuhyun memberi solusi



“Hmm boleh juga idemu” Ini adalah hari pertama aku mengaku menjadi pacar Kyuhyun. Tidak ada yang bisa kami bicarakan lagi. Terkadang aku hanya memandangi langit lalu menatap Kyuhyun yang tidur tiduran menikmati langit sore hari



“Hei Sungmin” panggilnya tiba tiba



“Hmm”



“Apa lukamu masih sering sakit?”



Aku menggeleng pelan, “tidak—luka ini bahkan aku tidak sadari lagi. Terlalu lama sih mengendap jadi aku sudah biasa saja” jawabku jujur



“Oh…” Kyuhyun membuka kedua matanya lalu berdiri tegap sambil merenggangkan tubuhnya, “Kurasa mereka sudah tidak mengintip kita lagi—ayo biar kuantar kau pulang” katanya sambil menarik tanganku. Aku menurut saja di antar oleh Kyuhyun hingga ke depan rumah kecilku



“Terima kasih” kataku tulus. Sebelah wajahku yang rusak tertarik seketika—membuatnya jauh lebih mengerikan bila di lihat dari dekat



Anehnya Kyuhyun biasa saja menatapku, “sama sama—ingat masih ada 6 hari lagi”



“Baik!”



Kami pun berpisah. Dan lagi lagi Umma menyambutku berlebihan. Ia mengelus rambutku—merasa bangga sebelum menyentuh luka di wajahku itu, “sabarlah Sungmin….sebentar lagi…” bisiknya lembut, “dan kau tidak akan malu berjalan bersama sama Kyuhyun…”



“Tidak usah buru buru Umma…” aku menggandeng tangannya yang kasar masuk ke dalam rumah, “aku bisa menunggu kok”



Aku berusaha menahan semuanya seorang diri. Bagaimana bisa aku membiarkan kebohongan ini berjalan terus?? Apa aku tega melihat wajah ceria Umma menghilang lalu berganti kesedihan ketika mengetahui kalau Kyuhyun hanya memanfaatkanku saja?



Aku harus bagaimana Tuhan……





______________________________________________







“Kenapa kau baca buku kedokteran, memangnya kau bercita cita menjadi dokter” tanyaku mengajak Kyuhyun mengobrol

Hari kedua kami berpacaran yang lagi lagi berada di taman belakang sekolah, Kyuhyun membawa sebuah buku tebal tentang kedokteran kemudian langsung tenggelam membacanya tanpa memperdulikan kehadiranku di sini



Aishh tahu begini aku pulang saja tadi. Gerutuku



“Hmm” Kyuhyun mengedikkan bahu sekilas, “aku mulai tertarik—habis buku ini lebih menarik ketimbang game PS” Setelah menandai salah satu halaman. Kyuhyun menengadah menatap mataku, “Aku heran….kenapa kau mau saja sih di ajak taruhan? Apa ini semua hanya gara gara uang saja?”



Posisi dudukku berubah gelisah, “Aku tidak harus menjawab pertanyaanmu kan” elakku



“Bagaimana kalau harus?” katanya setengah mengancam



“Kau memang mau tahu urusan orang ya” ejekanku tidak dihiraukan oleh Kyuhyun. Ia masih saja menatapku lekat sambil menunggu jawaban dariku, “Ah baiklah…aku memang sengaja meminta uang dari hasil taruhan anak anak karena aku sedang menabung operasi wajahku” kataku seraya menepuk nepuk pipi sebelah kiri yang cacat



“Bukankah Adjumma juga…”



“Iya aku tahu!” sanggahku cepat, “tapi aku tidak mau merepotkan Umma lagi….jadi aku juga menabung sejak lama, kalau wajah ini tidak ada lagi mungkin saja tidak ada orang yang mencemoohku, aku tidak akan kesulitan mendapatkan kerja….dan Umma tidak usah malu punya anak cacat sepertiku….” Mataku menerawang kejauhan, “banyak kepahitan yang harus kujalani selama luka ini masih ada di wajahku”



Kyuhyun berdiam diri agak lama—mencerna ucapanku yang panjang, “tapi…lukamu tidak seburuk itu kok, tidak semengerikan jika di lihat sedekat ini”



Sebelah tangan Kyuhyun terulur lalu menyentuh seluruh luka kasar di wajahku, “benar benar tidak mengerikan…sungguh…” katanya entah tulus atau ini bagian dari sandiwara kami untuk menyakinkan teman temannya bahwa kami memang betul berpacaran. Entahlah



“Ah lebih baik kita pulang—mereka pasti sudah tidak mengawasi kita lagi” kataku mengalihkan pembicaraan selagi pendanganku berkeliling mengamati taman yang terlihat kosong



Tangan Kyuhyun tersentak ketika mendengar penolakanku sebelum ia menarik kembali tangannya dan ikut berdiri bersamaku, “Iya…mereka sudah pulang”



“Hahahaha…teman temanmu aneh sekali, kalau aku jadi mereka, aku pasti tidak mau di suruh mengawasimu meski selama setengah jam sekalipun” kelakarku sambil menjenjeng tas ke belakang pundak



“Entahlah, mereka memang suka aneh aneh” jawab Kyuhyun singkat



Kami berdua berbincang bincang sejenak—membahas mereka sebelum akhirnya berhenti di depan rumahku



“Kau belum bercerita tentang teman temanmu?” tanya Kyuhyun masih berdiri di samping pagar rumahku



Aku menggeleng cepat, “Aku tidak punya teman Kyuhyun” padahal aku sudah terbiasa dengan keadaan ini tetapi ketika melihat Kyuhyun memandangku iba. Wajahku tiba tiba tertunduk gugup—aku paling benci harus di kasihani orang lain!



“Berarti aku temanmu satu satunya” jawab Kyuhyun pelan



Jelas saja aku langsung tertawa terbahak bahak mendengar ucapannya barusan, “Kyuhyun kau bukan temanku—kita hanya saling mencari keuntungan, simbolis mutualisme…ingat pelajaran biologi?” kataku memakai perumpamaan, “dan teman tidak seperti itu” tambahku pahit



Ya, aku tidak boleh berharap lebih dari Kyuhyun. Aku membutuhkan uang dan ia membutuhkan kemenangan atas taruhannya.



See? Hubungan kami jauh lebih dangkal dari apapun



“Oh~ baguslah kau bisa mengingat semuanya dengan jelas” Kyuhyun memandangku datar, menggelengkan kepalanya sejenak lalu berjalan kembali ke arah jalan besar, “sampai besok Sungmin! Ingat masih ada 5 hari lagi!!” teriaknya dari jauh



“Iya!!!” balasku kencang sebelum masuk ke dalam rumah



Sebenarnya aku harus benar benar mengakui—kalau hubungan kepura puraanku dan Kyuhyun tidak seburuk yang aku kira. Ternyata taruhan Kyuhyun dan teman temannya agak menyenangkan daripada bayanganku selama ini

EH? Kau berpikir apa sih Sungmin! Ingat kau hanya menginginkan uang itu! Tidak lebih!!!



“Arghh, mungkin aku harus mandi untuk mendinginkan kepalaku” ujarku dengan malas





*****





“Ini apa?”



“Ng ini bekal Umma untukmu—dia tahu kita sering bertemu setiap pulang sekolah jadi ia memberikan ini untukmu” kataku sambil menyerahkan satu kotak makan kepada Kyuhyun



Segera Kyuhyun membuka tutup tempat makan dan ia agak…er…terkejut melihat lauk pauk yang berjejer rapi di sana. Pandangannya beralih ke tempat makanku, “Sepertinya bekal makan kita tertukar Sungmin, ini pasti untukku” ujarnya merasa pede seraya satu tangannya menarik bekal milikku



Aku berbalik mencengkram tempat makan itu kuat kuat, “Tidak! Umma memang memberikanmu itu!! Ini punyaku Kyuhyun!!” erangku agak kewalahan karena tenaga laki laki Kyuhyun



“Tidak!” tolaknya, “Jelas jelas isi bekal ini untukmu, lihat telur asin, nasi lembek dan sayur cincang!! Sementara isi bekalmu tempura dan ayam goreng? Aishh berikan tidak!!” bentaknya tidak mau menyerah juga



Aku saja sampai menganga lebar—kenapa Kyuhyun jadi kekanak kanakkan begini sih!



“Tapi—“



“Tidak ada tapi tapian!!” potongnya kembali, “Ini untukku!!” dengan satu tarikan kuat akhirnya Kyuhyun berhasil menukar tempat makan kami meski aku terus menatapnya tajam.



“Aku tidak suka telur asin Kyuhyun! Umma tahu itu! Tapi kenapa ia masih menaruhnya di bekalku!!” protesku masih saja mengaduk aduk makananku tanpa minat sementara Kyuhyun mulai lahap memakan satu persatu bekal yang seharusnya menjadi milikku!



“Karena..” Kyuhyun berbicara dengan susah payah menggunakan mulut penuh makanan, “Telur asin mudah di cerna untuk bibirmu yang setengah kaku, lihat saja bekal itu—semua makanan lembut dan tidak perlu kerja otot bukan? Umma mu sangat perhatian mengenai hal itu! Kau saja yang tidak tahu” jelasnya panjang lebar



Benar juga, selama ini Umma tidak pernah memberikanku makanan berat seperti goreng gorengan. Aku pasti butuh waktu setengah jam hanya untuk menghabiskan satu potong ayam goreng—sama seperti yang di makan Kyuhyun sekarang



“Tapi aku sudah lama tidak makan enak” aku memandang nafsu ke ayam goreng di tangan Kyuhyun, “aku mau mencobanya juga”



“Kau mau?” kata Kyuhyun mengangkat ayam goreng mendekatiku



Aku mengangguk cepat



“Sebentar” Kyuhyun berhenti mengunyah lalu memilah milah bagian ayam hingga menyisakan daging yang sudah ia suir sampai bagian terhalus lalu memberikannya kepadaku, “Buka mulutmu” perintahnya



Spontan aku membuka mulutku pelan pelan kemudian membiarkan Kyuhyun menyuapiku dari depan, “Hmm…” gumamku sambil menelan daging ayam dengan mudah



“Enak kan?” godanya



“Enak!” jawabku senang, “sudah lama aku tidak makan enak….hmm…..” Setelah merasa terpuaskan akhirnya aku mau menghabiskan bekal Umma dan memakannya dalam diam bersama sama Kyuhyun





______________________________________







Betapa aku membenci untuk mengakui semuanya ini. Tapi benar, aku begitu menikmati kebersamaanku dengan Kyuhyun. Aku benar benar kembali menjadi diriku lagi di depannya. Tidak ada kepura puraan dan tidak ada sikap dingin



Salahkah aku berharap ada sedikit kemungkinan sedikit saja aku menjadi temannya saja? Tidak lebih—aku tentu tidak berharap ia juga punya perasaan aneh sama sepertiku bukan. Tidak! Aku hanya ingin kami selalu bercanda tawa setiap pulang sekolah, membicarakan segala sesuatu tanpa rahasia dan bisa berbagi bekal buatan Umma



Aku bahkan berpikir tidak masalah aku tidak mendapatkan uang 500.000 won itu asal bisa terus seperti ini bersama Kyuhyun….



Andai saja…



Tetapi ternyata waktu malah menjadi penjawab dari keputusasaanku



Hari terakhir pertaruhannya terjadi juga…



“Tidak terasa ya sudah seminggu kita berpura pura” kata Kyuhyun saat kami berada di taman dekat rumahku. Ini kan hari minggu jadi kami tidak mungkin bertemu di tempat biasa, “Aku benar benar berterima kasih karena kau mau melakukannya denganku—meski ya kau menginginkan uangnya, tapi aku tetap mengucapkan terima kasih”

Uang? Aku malah tidak begitu tertarik sekarang. Terkadang ada sesuatu yang tidak bisa di beli oleh uang

Yaitu teman…. ataupun cinta…





“Iya…sama sama” jawabku kaku. Entahlah, aku tidak mau berkata banyak banyak—takut aku bisa menangis tiba tiba di depannya nanti



“Ng…Sungmin” bisik Kyuhyun berjalan mendekatiku yang duduk di bangku taman. Ia pun ikut duduk dan memandangku lekat lekat, “Apa kau mau mengatakan sesuatu padaku?” tanyanya pelan



Mengatakan sesuatu? Banyak sekali yang ingin aku katakan padamu Kyuhyun. Aku ingin bilang jangan pergi, jadilah temanku. Teman yang ada di belakang sekolah, menemaniku selama 30 menit, berbicara apa saja tanpa rasa jijik melihat wajahku yang separuh rusak.



Aku membutuhkanmu Kyuhyun….



Tapi kenyataannya aku malah menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Kyuhyun



“Hmm, baiklah—kalau kau tidak mau mengatakan sesuatu, biar aku yang mengatakannya” Perlahan lahan Kyuhyun merubah posisi duduknya, menyamping lalu menarikku menatapnya dari dekat, “Bolehkah aku menciummu untuk terakhir kali?” pintanya



“AH?” Terang saja aku terkejut, “Memangnya itu bagian dari taruhanmu juga?” ulangku masih tidak percaya



Kyuhyun menyunggikan senyum terpaksa, “Iya—maaf baru memberitahumu hari ini. Aku bilang kalau aku akan menciummu di hari terakhir sebagai kado perpisahan” tambahnya lagi, “bolehkan?”



“Tidak…” kataku menepis tangannya dari kedua sisi wajahku, “Kau tidak boleh menciumku Kyuhyun, jangan…” suaraku berubah parau sambil terus menggeleng lemah di depannya



Dahinya berkerut bingung, “kenapa?”



“Tidak ada apa apa…hanya saja jangan….” Bisikku memohon



Tapi penolakanku di anggap angin lalu oleh Kyuhyun. Tangannya tetap merengkuh wajahku lebih dekat, kedua matanya mulai meredup dan menutup jarak di antara bibir kami—tidak peduli jika bibirku yang separuh cacat itu bergetar hebat

Kyuhyun menciumku. Ia benar benar menciumku walau aku tidak membalas ciumannya. Kedua tangannya berpindah ke punggungku, membawa tubuhku ke dalam pelukannya tanpa melepaskan ciuman kami



Saat itu juga pertahananku runtuh. Bibirku bergerak ragu ragu di bibir Kyuhyun. Pikiran nalarku sudah menghilang entah kemana. Dan rasa egois itu kembali muncul



Aku benar benar tidak mau kehilangannya….



Tanpa ia sadari, air mataku mulai turun, membasahi sebagian wajahku turun hingga ke sudut bibir. Hingga tak sengaja Kyuhyun mengecapnya lalu tersentak menjauh…



Ia melepaskan bibirnya untuk menatapku lebih jelas, “kau menangis….”



Aku tidak bisa menjawab apapun. Air mataku terus saja turun tanpa bisa berhenti—menatap wajah Kyuhyun sedekat ini malah membuatku semakin susah melepaskannya. Cepat cepat aku menghapus jejak air mata sebelum berdiri tegap di depannya, “Ambil saja uang itu Kyuhyun—aku tidak membutuhkannya lagi” setelah mengatakan itu, buru buru aku berjalan cepat keluar taman tapi ternyata Kyuhyun dengan gesit sudah menahanku dari belakang



“Kau kenapa? Bukankah itu sudah perjanjian kita? Besok akan kuberikan uangnya padamu” jelas Kyuhyun bersikeras



“Aku tidak mau!!!” teriakku sambil berbalik menghadapnya, “Sudah kubilang aku tidak mau!!! ambil saja uang itu untukmu!!!”



“Kenapa kau tidak mau?? Ha? Bukankah kau memang menginginkan uang!” balasnya penuh penekanan kata per kata. Sepertinya emosi Kyuhyun ikut terpancing melihat sikapku yang mendadak berubah drastis



“Maaf Kyuhyun….aku…aku memang membutuhkan uang, tapi tidak untuk kali ini…aku—“



“Katakan Sungmin!” potong Kyuhyun sambil berjalan mendekatiku yang sudah ada di ujung pintu luar taman, “Katakan apa yang harusnya kau ucapkan dari tadi” ulangnya agak aneh menurutku. Memangnya apa yang harus aku katakan?

“Kenapa kau tidak menginginkan uang itu?”



“Aku—“



“Kenapa kau malah menangis tadi?”



“Kyuhyun—“



“Kenapa akhirnya kau mau membalas ciumanku?”



Terus saja Kyuhyun memojokkanku dengan segala perkataannya yang jujur saja—aku takut menjawabnya. Bagaimana reaksinya dan teman temannya yang sedang mengintip kami dari tadi kalau tahu aku malah mengaku telah jatuh hati padanya. Apakah dia mau menerimaku bukannya malah mengolok olokku sebagai bahan ejekan?



“Jawab Lee Sungmin, jawab saja!” suara berat Kyuhyun berhasil menyatukan kembali pikiranku. Aku bahkan tidak menyadari kalau lagi lagi—Kyuhyun memojokkanku pada dinding gerbang taman dengan kedua tangannya, “Katakan satu saja tentang perasaanmu…..dan semua akan berubah” bisiknya sambil mengelus bagian wajahku yang rusak



“Berubah?” aku mendengus tidak percaya, “apa kau yakin tidak lari terbirit birit dan mengejekku?”



“Coba saja” tantang Kyuhyun semakin menghimpitku sehingga aku tidak bisa lagi mengelak dari tatapannya, “Katakan Sungmin, katakan saja….”



Dan begitu kedua mataku bertemu dengan kedua mata Kyuhyun, aku tahu aku tidak bisa berbohong lebih lama lagi, “Aku menyukaimu Kyuhyun” kataku terlalu jujur



Mendengar itu, sudut bibir Kyuhyun mengembang sempurna—membentuk sebuah senyum lebar, bukan! Bukan senyum mengejek seperti teman temannya. Namun senyum bahagia yang belum pernah aku lihat sebelumnya



Apa aku sedang bermimpi Tuhan? Lelaki ini masih tersenyum padaku walaupun aku sudah menyatakan perasaanku??

“Nah akhirnya kau bisa juga mengatakannya” desah Kyuhyun merasa lega, “kenapa harus begitu lama sih! aku hampir saja menahanmu kalau saja masih keras kepala” katanya ringan—tidak peduli kalau raut wajahku masih tidak mengerti, “Kau….”



“Aku juga mencintaimu Sungmin” tuturnya tulus. Di angkatnya tubuhku ke dalam pelukannya sampai sampai kaki terangkat sepenuhnya dari tanah.



Tubuhku menghangat saat mendengar itu. Aku menahan berat tubuhku dengan balas memeluknya, “Aku kira kau…..eh? bukannya kau taruhan dengan temanmu!!!” kataku baru menyadari sesuatu yang ganjil



Kyuhyun hanya menggeleng samar samar dari balik pundakku sebelum berjalan keluar dari taman, “EH! Kau mau membawaku kemana!!” erangku sedikit malu melihat orang orang di jalan menatap jengah ke arah mereka berdua. Apalagi saat mereka menyadari sebagian wajahku yang rusak permanen. Aku terpaksa menyembunyikan wajahku dalam pelukan Kyuhyun agar tidak terus di tatap oleh mereka



“sudah biarkan saja….jangan memperdulikan mereka” bisik Kyuhyun tetap menggendongku dengan sebelah tangannya selagi aku menunduk malu di dadanya



Kami akhirnya sampai di depan rumahku. Di sana, Kyuhyun menurunkanku, mengelus sekali lagi wajahku lalu tersenyum manis



Tuhan, tolong yakinkan aku kalau ini semua bukan hanya mimpi sesaat….



“Besok aku akan menjemputmu ke sekolah, kita akan makan bekal sama sama lagi, dan aku akan bersamamu setelah pulang sekolah…..aku berjanji Sungmin” katanya masih terus menatapku tanpa rasa bosan.



Sebagai jawabannya aku hanya bisa mengangguk pelan



“Bagus….” Ia mengacak acak rambut pendekku, “Sana masuk ke dalam, sudah sore” suruhnya hendak mendorong tubuhku kalau saja aku tidak menarik tangannya, “Kyuhyun—berjanjilah padaku ini bukan termasuk taruhanmu lagi? Kau serius—“



SREETTT



Kyuhyun kembali menarikku ke dalam pelukannya sebelum berpindah mencium satu persatu bagian wajahku yang cacat itu. Saat berhenti di sudut bibirku, Kyuhyun menatapku dalam dalam. Ada berbagai perasaan yang bercampur aduk dalam tatapannya—sesuatu yang membuatku yakin kalau Kyuhyun memang tulus menyukaiku



Hampir lama kami bertatapan hingga akhirnya Kyuhyun melepaskanku—berdiri tegap kemudian memberi jarak di antara kami, “Besok aku jemput, jangan bangun kesiangan. Sana cepat istirahat!!!” suruhnya sekali lagi



Aku masih belum beranjak di hadapannya, “Bagaimana kalau besok pagi aku tidak menemukanmu lagi?” kataku



“Aishh—kau betul betul tidak percaya padaku ya??” tanya Kyuhyun setengah kesal setengah gemas



“Hahahahaha” mendadak aku terdiam, “tidak” kataku lugu



“Baiklah Sungmin bagaimana kalau kita bertaruh??” katanya sambil berkacak pinggang di depanku, “Kalau besok aku tetap datang di depanmu hingga seterusnya sampai kita lulus sekolah, kau akan memberikanku apa?”





“Aku akan..” Aduh, aku tidak punya uang cukup banyak untuk mengajak Kyuhyun taruhan



“Aku tidak butuh uang” katanya seolah olah bisa menebak jalan pikiranku



“Lalu kau mau apa???” apalagi yang bisa aku pertaruhkan kecuali uang, aku akan tidak punya harta berharga sama sekali

“Hmm…aku mau…” Perasaanku campur aduk ketika Kyuhyun merunduk untuk membisikkan sesuatu di telingaku. Sesuatu yang membuatku terlonjak tidak percaya sebelum memukul tubuhnya dari dekat, “Ya! Ku bilang jangan bercanda Cho Kyuhyun!!!” teriakku kencang



“Hahaha—sayangnya aku tidak bercanda” Ia tersenyum lebar sekali lagi sebelum berlari menjauh, “Kita lihat saja besok Sungmin!! Kau akan kalah!!!”



“Belum tentu” aku menjulurkan lidah—sambil membalas senyumnya. Meski yah, harus kuakui wajahku merah merona mendengar taruhan yang diminta Kyuhyun…..dan untuk kali ini, aku rela jika sekalipun harus kalah dengannya

Yah, aku benar benar rela





“Kita lihat saja Kyuhyun…” pekikku tertawa kecil ketika masuk ke dalam rumah kecilku yang damai







THE END



Gw ga tahu harus bicara apa lagi, please....kasih gw sekedar komen dari kalian.....hanya itu yang membuat seorang author bisa terus bertahan

Read More...